Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemred PWMU.CO Pertama Beberkan Tips Menulis Sejarah di Media Populer

Iklan Landscape Smamda
Pemred PWMU.CO Pertama Beberkan Tips Menulis Sejarah di Media Populer
pwmu.co -

Pemimpin Redaksi PWMU.CO pertama, M Kholid Asadullah, hadir dalam Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026, Minggu (9/8/2026).

Pada materi sesi kelima di hari ketiga tersebut, Kholid membawakan materi bertema “Penulisan Sejarah Muhammadiyah dalam Media Populer”.

Sebagai informasi, Akademi Sejarah Muhammadiyah batch 2 2026 terlaksana oleh MPI PP Muhammadiyah pada Jumat-Selasa (7-11/8/2026).

Agenda tersebut terlaksana selama lima hari di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya.

Mengapa Perlu Menulis Sejarah Muhammadiyah? 

Sebagai pemantik, Kholid menuturkan alasan pentingnya menulis sejarah Muhammadiyah. Menurutnya, hal tersebut lantaran tidak sedikit sejarah Muhammadiyah yang belum diketahui masyarakat umum.

“Di perguruan tinggi, jumlah penelitian tentang NU dan Muhammadiyah sangat berbeda jauh” terangnya.

Sejarah menjadi menarik ketika menghadirkan manusia di balik peristiwa. Hal ini meliputi siapa tokohnya, apa yang sedang mereka perjuangkan, hingga apa yang mereka hadapi.

Lebih lanjut, Kholid berujar bahwa sumber sejarah Muhammadiyah sangat beragam. Hal ini meliputi:

  • Majalah dan surat kabar Muhammadiyah
  • Notulen kongres
  • Foto lama
  • Surat dan dokumen orgganisasi
  • Surat kabar kolonial
  • Buku sejarah
  • Memoar tokoh
  • Arsip pemerintah kolonial
  • Peta kota lama, dan
  • Kesaksian keluarga atau masyarakat.

Ia juga menyarankan untuk mencari arsip melalui laman Delpher, sebuah perpustakaan digital gratis berbahasa Belanda.

“Jangan takut menggunakan sumber Belanda. Untuk sejarah Muhammadiyah periode kolonial, surat kabar berbahasa Belanda sangat penting” ujarnya.

Menurutnya dengan sumber surat kabar tersebut, dapat digunakan untuk memeriksa tanggal peristiwa, mengetahui jumlah peserta, hingga menemukan nama tokoh.

SMPM 5 Pucang SBY

“Gunakan detail kecil untuk menghidupkan sejarah. Detail membuat pembaca merasa hadir di masa lalu” tambah Kholid.

Jangan Ubah Sejarah Jadi Legenda

Kemudian, lanjut Kholid, sangat berbahaya jika penulis sejarah mengubah sejarah menjadi cerita legenda. “Saya mencontohkan di Surabaya, Mas Mansyur adalah tokoh yang sangat besar. Jangan sampai itu menutupi tokoh-tokoh lainnya” terangnya.

Ia berharap, supaya di daerah lain, bisa muncul tokoh besar maupun pendukung yang berperan ketika Muhammadiyah berdiri.

Selanjutnya, Kholid juga menuturkan untuk menggunakan gaya piramida terbalik untuk menulis feature sejarah. Urutannya yaitu:

  • Adegan atau fakta menarik
  • Masuk ke tokoh atau peristiwa
  • Jelaskan konteks
  • Hadirkan data dan sumber
  • Hubungkan dengan masa kini
  • Buat judul yang menarik tanpa menipu

Yang tidak kalah penting, Kholid juga menyarankan agar menggunakan kalimat pendek dengan satu paragraf, satu gagasan. “Hindari paragraf terlalu panjang, gunakan kalimat relatif pendek” pesannya.

Kemudian Kholid berujar untuk turut menghindari anakronisme, alias memaksakan konsep masa kini kepada masa lalu. “Misalnya istilah dan struktur organisasi Muhammadiyah tahun 1920-an, harus dijelaskan sesuai apa adanya” tegas Kholid.

Sebagai pengingat, lanjutnya, ada tiga hal yang paling mudah membuat tulisan sejarah kehilangan kredibilitas. Antara lain salah nama, salah tanggal, dan salah lokasi.

Sebagai kesimpulan, Kholid menegaskan bahwa menulis sejarah Muhammadiyah di media populer dapat diringkas dalam lima prinsip. “Data yang akurat, cerita yang menarik, sumber data kuat, bahasa ringan, punya makna yang relevan” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 09/08/2026 20:49
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu