Penguatan tauhid menjadi salah satu faktor yang dinilai membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang hingga lebih dari satu abad. Hal tersebut disampaikan Drs. H. Nadjih Ihsan, M.Ag., Ketua Divisi Sumber Daya Manusia Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, dalam Pengajian Dwiwulan yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Manyar, Ahad (21/6/2026), di Masjid Al-Kautsar, PRM Karangrejo, Manyar, Gresik.
Dalam kajiannya, Nadjih menjelaskan bahwa tauhid merupakan fondasi utama yang harus dibangun sebelum aspek kehidupan lainnya. Menurutnya, keteguhan dalam menjaga kemurnian tauhid menjadi salah satu prinsip yang terus dijaga Muhammadiyah sejak berdiri.
“Ibarat kalau membangun rumah, yang didahulukan adalah membangun tauhid terlebih dahulu. Agar tidak terjatuh pada kesyirikan. Baru setelah itu, membangun ukuwah,” ujarnya.
Nadjih menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT harus didasarkan pada syariat yang memiliki landasan dalil. Untuk menjaga kemurnian syariat dari berbagai bentuk penyimpangan, umat Islam perlu membekali diri dengan ilmu agama.
Ia mengajak masyarakat untuk aktif menghadiri majelis taklim dan pengajian sebagai sarana menambah pengetahuan keislaman serta menjaga kelurusan akidah. Menurutnya, berbagai nasihat dan pemahaman yang diperoleh dalam pengajian dapat menjadi bekal untuk menghindari penyimpangan dalam beragama.
“Mestinya majelis taklim atau pengajian yang ada, perlu untuk dikunjungi orang banyak. Karena di sana ada nasehat yang perlu kita ambil. Agar dapat menjaga akidah kita tetap lurus. Tidak rusak,” nasihat Nadjih kepada jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, Nadjih juga memaparkan lima faktor utama yang dapat merusak akidah. Faktor pertama adalah ketika masyarakat awam tidak mau belajar agama, sementara orang yang memiliki ilmu tidak berkenan mengajarkannya. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menyebabkan terputusnya proses pendidikan dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan ungkapan dalam budaya Jawa yang menggambarkan ketidaksesuaian antara pihak yang membutuhkan ilmu dan pihak yang memilikinya.
Faktor kedua adalah sikap mengikuti tradisi nenek moyang tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan ajaran tauhid. Nadjih mengutip kandungan Surah Al-Baqarah ayat 170 yang menjelaskan tentang kelompok yang lebih memilih mengikuti tradisi leluhur dibandingkan petunjuk yang diturunkan Allah SWT.
Selanjutnya, faktor ketiga adalah fanatisme yang berlebihan terhadap pandangan atau tradisi tertentu tanpa disertai kajian yang mendalam. Menurut Nadjih, Muhammadiyah berupaya menjauhi sikap fanatik buta dengan mengedepankan kajian berdasarkan Al-Qur’an dan sunah.
“Fanatik buta. Muhammadiyah menjauhi fanatik buta. Hingga ada yang berkata kalau Muhammadiyah telah meninggalkan apa yang telah diamalkan KH Ahmad Dahlan dulu, seperti qunut Subuh. Padahal, menurut tajdid (pemurnian) Majelis Tarjih, dikatakan bahwa qunut subuh itu dasarnya tidak shahih,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih (HPT), pelaksanaan salat Subuh tidak disertai pembacaan qunut.
Faktor keempat yang dapat merusak akidah adalah sikap berlebihan terhadap orang-orang saleh. Menurutnya, penghormatan kepada tokoh agama perlu dilakukan secara proporsional agar tidak melampaui batas yang ditetapkan dalam ajaran Islam. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah yang termuat dalam Surah Nuh ayat 23 tentang kaum yang berlebihan dalam memuliakan orang saleh hingga akhirnya menjadikan mereka sebagai sesembahan.
Adapun faktor kelima adalah perilaku manusia yang mengabaikan ayat-ayat Allah yang bersifat syar’i. Nadjih menjelaskan bahwa ayat syar’i mencakup berbagai ketentuan yang mengatur ibadah, muamalah, serta perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
“Rusaknya akidah seseorang disebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak mengindahkan ayat Allah yang syar’i,” tegasnya.
Menurut Nadjih, kepatuhan terhadap syariat merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas keimanan. Karena itu, umat Islam perlu terus memperdalam pemahaman agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari agar akidah tetap terjaga. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments