Ada pertemuan yang menghadirkan kebahagiaan, tetapi ada pula perpisahan yang meninggalkan begitu banyak kenangan.
Begitulah suasana penjemputan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) di Kampus 2 SMP Muhammadiyah 13 Surabaya (Spemgalas).
Momen penjemputan tersebut berlangsung di Ballroom Kaza Mall pada Rabu (21/10/2026).
Suasana yang semula dipenuhi senyum dan kebersamaan perlahan berubah menjadi tangis haru. Tepat ketika tiba waktunya untuk berpisah setelah kurang lebih satu tahun membersamai keluarga besar Spemgalas.
Lima mahasiswa PPG Calon Guru, yakni Bu Dhini, Bu Lyra, Bu Liskha, Bu Ana, dan Bu Alma bukan lagi sekadar mahasiswa praktik yang datang untuk belajar dan mengajar.
Selama kurang lebih satu tahun, mereka telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Spemgalas.
Kehadiran mereka turut mewarnai hari-hari murid, menghadirkan pengalaman belajar, membangun kedekatan, serta menciptakan kenangan yang tidak mudah dilupakan.
Bagi para murid, mereka bukan hanya sosok guru yang berdiri di depan kelas. Mereka adalah teman berbagi cerita, tempat bertanya, penyemangat ketika menghadapi kesulitan, dan sosok yang perlahan mendapatkan tempat tersendiri di hati.
Maka, ketika hari penjemputan tiba, tak semua mampu menyembunyikan perasaan.
Senyum yang biasanya menghiasi kebersamaan berganti dengan mata yang berkaca-kaca. Pelukan menjadi lebih erat, ucapan perpisahan terasa lebih berat, dan air mata pun jatuh tanpa bisa dibendung.
Ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan karena mereka tidak akan bertemu lagi, melainkan karena kebersamaan yang selama ini terasa biasa, ternyata menyimpan arti yang begitu luar biasa.
Di antara murid yang merasakan kesedihan tersebut, Abimanyu menjadi salah satu yang mengungkapkan perasaannya atas perpisahan ini.
“Rasanya sedih sekali harus berpisah dengan Ibu Guru. Selama ini kami sudah terbiasa belajar bersama, bercanda, dan bertemu setiap hari” terang Abimanyu.
“Rasanya baru kemarin mengenal Ibu, sekarang sudah harus berpisah. Terima kasih sudah sabar mengajar kami, sudah menemani kami, dan sudah memberikan banyak kenangan. Semoga Ibu selalu sehat, bahagia, dan sukses. Kami pasti akan merindukan Ibu” doanya.
Ungkapan Abimanyu menjadi gambaran bahwa kehadiran seorang guru tidak hanya meninggalkan ilmu di dalam buku catatan. Tetapi juga jejak kebaikan di dalam ingatan dan perasaan murid-muridnya.
Tak Sekadar Praktik Mengajar
Bagi mereka, perjalanan di Spemgalas tentu menjadi bagian penting dalam proses bertumbuh sebagai calon pendidik profesional.
Di sekolah ini, mereka tidak hanya belajar tentang bagaimana menyampaikan materi, mengelola kelas, dan merancang pembelajaran.
Mereka juga belajar memahami karakter murid yang beragam, menghadapi dinamika sekolah, membangun kedekatan, serta menyadari bahwa menjadi guru berarti bersedia hadir dengan hati.
Sementara itu, bagi keluarga besar Spemgalas, kehadiran mereka menjadi warna tersendiri.
Setiap pertemuan di kelas, setiap percakapan sederhana, setiap tawa, hingga setiap proses belajar yang dilalui bersama telah menjadi bagian dari cerita panjang yang kini akan dikenang.
Kurang lebih satu tahun mungkin terdengar singkat dalam perjalanan hidup. Namun, ketika waktu diisi dengan kebersamaan yang tulus, satu tahun cukup untuk menumbuhkan kedekatan yang bermakna.
Kini, kelima mahasiswa PPG tersebut akan melanjutkan perjalanan mereka. Ada cita-cita yang harus diperjuangkan, ada ilmu yang harus terus dikembangkan, dan ada amanah pendidikan yang menanti untuk ditunaikan.
Perpisahan ini bukanlah akhir dari hubungan yang telah terjalin. Justru, inilah saatnya membawa seluruh pelajaran, pengalaman, dan kenangan untuk menjadi bekal dalam perjalanan berikutnya.
Spemgalas Akan Selalu Jadi Cerita
Penjemputan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh atau keterampilan yang dikuasai. Namun juga dari hubungan antarmanusia yang tumbuh selama prosesnya.
Guru boleh berganti, ruang kelas boleh ditinggalkan, dan rutinitas boleh berubah. Namun, kebaikan yang pernah diberikan akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang menerimanya.
Untuk Bu Dhini, Bu Lyra, Bu Liskha, Bu Ana, dan Bu Alma terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan SPEMGALAS. Terima kasih atas waktu, tenaga, kesabaran, ilmu, dan kasih sayang yang telah dibagikan kepada murid-murid.
Semoga pengalaman di Spemgalas menjadi kenangan indah sekaligus bekal berharga untuk menjadi guru yang bukan hanya mengajar. Tetapi juga menginspirasi, menguatkan, dan menggerakkan perubahan.
Sebab, sejatinya, guru yang baik tidak hanya meninggalkan ruang kelas ketika tugasnya selesai. Ia meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup dalam hati murid-muridnya.
Hari ini, mungkin ada air mata yang jatuh karena perpisahan. Namun, kelak, semoga air mata itu berubah menjadi senyum setiap kali kenangan tentang Spemgalas kembali hadir.
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, Ibu Guru.
Sekali menjadi bagian dari keluarga Spemgalas, akan selalu ada ruang untuk pulang dalam kenangan.






0 Tanggapan
Empty Comments