Mengukur Keberagamaan dari Akhlak dan Kemanfaatan
Inilah mengapa warisan Kiai Dahlan harus kita baca kembali. Kiai Dahlan tidak membangun Muhammadiyah agar umat menjadi kelompok yang paling banyak berbicara tentang kemurnian agama. Ia ingin agama menjadi kekuatan yang membangunkan manusia dari keterbelakangan.
Ia mengajarkan ilmu, tetapi ilmu itu harus melahirkan amal. Mengajarkan amal, tetapi amal harus berlandaskan kasih sayang. Mengajarkan dakwah, tetapi dakwah tidak harus berjalan dengan kebencian.
Kiai Dahlan mengajarkan pemurnian, tetapi pemurnian tidak berarti setiap orang yang berbeda harus kita musuhi. Ia mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi kembali kepada sumber agama tidak boleh membuat manusia berhenti membaca realitas.
Karena itu, Muhammadiyah memiliki pengalaman historis panjang dalam menerjemahkan ajaran Islam ke dalam institusi sosial. Sekolah menjadi amal pendidikan, rumah sakit menjadi amal kesehatan, panti asuhan menjadi amal kemanusiaan, dan perguruan tinggi menjadi amal intelektual.
Lembaga ekonomi menjadi ikhtiar membangun kemandirian. Semua itu menunjukkan bahwa keberagamaan Muhammadiyah tidak berhenti di ruang pengajian. Agama harus hadir dalam kehidupan.
Jangan mengukur Islam hanya dari penampilan seperti celana cingkrang, jidat hitam, sarung, atau surban. Kita perlu berhati-hati ketika menilai ekspresi keberagamaan hanya dari penampilan lahiriah.
Pakaian boleh berbeda, jenggot boleh berbeda, celana boleh berbeda, dan cara ibadah dalam persoalan fikih boleh berbeda. Namun, semua atribut itu belum cukup untuk mengukur kedalaman keberagamaan seseorang.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada akhlaknya. Apakah ilmu membuatnya rendah hati? Atau agamanya membuatnya mencintai sesama? Atau ia mampu menghormati orang yang berbeda?
Apakah ia mau bekerja untuk masyarakat? Membela orang lemah? Atau ia ikut mencerdaskan masyarakat? Apa keberagamaannya menghadirkan kedamaian?
Sebab, Islam bukan hanya soal bagaimana seseorang terlihat di hadapan manusia. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Jika hari ini muncul kelompok-kelompok baru yang merasa lebih murni, lebih benar, atau lebih sesuai Sunnah, Muhammadiyah tidak perlu takut. Muhammadiyah juga tidak perlu membalasnya dengan kemarahan atau berlomba menjadi kelompok yang paling keras.
Jawabannya tetap seperti yang ajaran Kiai Dahlan: belajar, berpikir, bekerja, dan beramal saleh. Kritik terhadap Muhammadiyah jawablah dengan ilmu, perbedaan fikih hadapi dengan tarjih, sedangkan tuduhan balaslah dengan akhlak.
Ketika masyarakat tertinggal, Muhammadiyah menghadirkan pendidikan. Ketika orang sakit membutuhkan pertolongan, Muhammadiyah menyediakan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dihadapi dengan membangun kemandirian ekonomi, sementara kebodohan dilawan dengan membuka akses pendidikan.
Dengan cara itulah Muhammadiyah menunjukkan bahwa Islam tidak berhenti sebagai wacana, tetapi hadir sebagai kekuatan yang bekerja, memberi manfaat, dan mengubah kehidupan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang paling keras mengatakan “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”. Tetapi, setelah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita hendak membawa manusia ke mana?
Jika jawabannya hanya sampai pada perdebatan tentang siapa yang bidah dan siapa yang tidak, agama berhenti di pintu perdebatan. Namun, jika ia membawa manusia kepada ilmu, akhlak, kasih sayang, persatuan dalam kebaikan, keadilan, kemandirian, dan kemajuan, agama telah memasuki kehidupan manusia yang sesungguhnya.
Kiai Dahlan telah menunjukkan jalan itu lebih dari satu abad lalu. Ia tidak hanya mengajarkan umat untuk mengetahui Islam, tetapi juga mengajarkan umat untuk menghidupkan Islam.
Menghidupkan Islam berarti menjadikan ilmu sebagai amal, amal sebagai kemanfaatan, kemanfaatan sebagai gerakan sosial, dan gerakan sosial sebagai jalan membangun peradaban.
Karena itu, Muhammadiyah tidak perlu berlomba menjadi kelompok yang paling keras dalam mengatakan dirinya paling murni. Muhammadiyah cukup menjadi dirinya sendiri: gerakan Islam yang belajar, berpikir, mencintai, menghormati, bersatu dalam kebaikan, bekerja dalam sunyi, dan menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang memajukan manusia.
Sebab, pada akhirnya, kemurnian agama tidak hanya terlihat dari apa yang kita katakan tentang Islam, tetapi juga dari manusia seperti apa yang lahir dari Islam yang kita pahami.***





0 Tanggapan
Empty Comments