Murid kelas XII SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) mendapat pengalaman mengenal dunia kedokteran melalui kuliah tamu dalam Smamda Education Fair (Edufair) 2026, Senin (12/10/2026). Mengusung tema Empowering the Next Generation of Innovators, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi murid untuk mengeksplorasi minat dan mengenal berbagai pilihan studi di perguruan tinggi.
Dalam kegiatan tersebut, murid dibagi ke sejumlah kelas sesuai minat masing-masing. Beragam bidang diperkenalkan, mulai dari manajemen bisnis, sains data, teknik, psikologi, desain, hukum, ilmu komunikasi, hingga kedokteran.
Salah satu sesi menarik menghadirkan dr. Medhi Denisa Alinda, Sp.DVE, Subsp.D.T, FINSDV, dokter spesialis kulit dengan keahlian infeksi tropis. Ia berbagi pengalaman menempuh pendidikan kedokteran sekaligus mengajak murid mengenal penyakit kusta.
“Kusta sama lepra itu sama saja,” jelasnya. Ia menerangkan bahwa penyakit tersebut menyerang sistem saraf dan masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat, termasuk di Jawa Timur. Menurutnya, pemahaman masyarakat perlu ditingkatkan agar kusta dapat ditangani dengan tepat.
Dr. Medhi menegaskan bahwa kusta bukan penyakit genetik dan dapat diobati. Deteksi serta penanganan sejak dini penting untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut dan mengurangi risiko kecacatan.
Ia juga menjelaskan tantangan pendidikan kedokteran, termasuk pengalaman praktikum anatomi menggunakan kadaver sejak semester awal. Pendidikan ini, menurutnya, membutuhkan kesiapan mental, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
“Kalau kuliah kedokteran harus siap mental. Jangan sampai putus di tengah jalan,” pesannya.
Murid Praktik Pemeriksaan Awal Pasien
Selain menerima materi, murid mengikuti praktik sederhana pemeriksaan awal pasien. Mereka belajar mengamati kondisi mata dan bibir, memeriksa nadi, serta mengenali kemungkinan gangguan saraf.
Neva Kamilah Altami, murid kelas XII-7, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.
“Tadi kami diajari praktik pemeriksaan pasien oleh dr. Medhi. Pertama, melihat mata apakah ada tanda anemia atau tidak, mengecek apakah bibir pucat, memeriksa nadi di tangan, serta mengecek kemungkinan kelainan saraf di daerah siku,” jelasnya.
Ia mengaku antusias karena dapat mengetahui secara langsung penerapan pengetahuan kedokteran dalam pemeriksaan pasien.
“Pertama kali diajari, rasanya, ‘Wah, menarik!’ Saya baru tahu ternyata caranya seperti ini,” ungkap Neva.
Melalui Edufair 2026, Smamda berharap murid semakin mengenali minat, mempertimbangkan pilihan karier, dan mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan. Kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan program studi, tetapi juga membuka wawasan melalui pengalaman belajar bersama akademisi dan praktisi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments