Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sendangagung, Kecamatan Paciran, Lamongan, memutuskan meliburkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 13 Sendangagung selama sehari setelah wafatnya tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Drs. KH A. Wahid Bashori, Selasa (21/7/2026).
KH Wahid Bashori mengembuskan napas terakhir di RS Ibnu Sina Gresik. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi warga NU, tetapi juga masyarakat Muhammadiyah yang mengenalnya sebagai ulama kharismatik, ahli qiraah, sekaligus pendidik yang dihormati lintas organisasi.
Rumah duka yang berada tepat di depan MIM 13 Sendangagung diperkirakan akan dipadati ribuan pelayat. Kondisi itu mendorong PRM Sendangagung bergerak cepat mengambil langkah antisipatif.
Pada Selasa malam pukul 19.15 WIB, PRM Sendangagung menggelar rapat darurat secara daring yang diikuti sembilan anggota pimpinan. Rapat dipimpin Ketua PRM Sendangagung, Drs. KH Agus Salim Syukran, M.Pd.I, dengan agenda utama menentukan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di MIM 13.
Hasil rapat menetapkan bahwa seluruh aktivitas pembelajaran di MIM 13 diliburkan pada Rabu (22/7/2026). Halaman madrasah juga difungsikan sebagai area persinggahan bagi para tamu yang datang untuk bertakziah.
“Keputusan ini merupakan bentuk penghormatan dan empati kami kepada almarhum serta keluarga yang ditinggalkan. Pak Kiai Bashori bukan hanya milik warga NU, tetapi juga guru dan panutan bagi masyarakat Sendangagung,” ujar Gondo Waloyo, salah seorang peserta rapat.
Menurutnya, almarhum dikenal luas karena kemampuannya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Sosoknya juga dikenal rendah hati dan mudah bergaul dengan berbagai kalangan.
“Beliau pernah mengajar qiraah di Masjid An-Nur dan Pondok Pesantren Al-Ishlah pada era 1990-an. Karena keramahannya, beliau dihormati oleh berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang organisasi,” tambah Gondo.
Kesaksian lain disampaikan Sekargondo, anggota PRM Sendangagung yang pernah bekerja bersama almarhum.
“Pak Bashori sangat dekat dengan para karyawannya. Beliau tidak pernah menunda pembayaran upah, bahkan ringan tangan membantu ketika ada yang membutuhkan pinjaman. Beliau adalah pengusaha yang dermawan,” tuturnya.
Wafatnya KH A. Wahid Bashori menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Sendangagung, khususnya di bidang pendidikan dan dakwah. Sosoknya dikenang sebagai guru yang ikhlas, ahli qiraah, serta tokoh yang mampu menjalin persaudaraan lintas organisasi Islam.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka dan dipadati pelayat sejak Selasa malam. Rencananya, jenazah akan dishalatkan di Masjid Mukhlishin sebelum dimakamkan usai Salat Zuhur, Rabu (22/7/2026), di kompleks pemakaman keluarga yang berada di sebelah selatan Madrasah Sutho. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments