Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Biyanto: Pendidikan Jalan Panjang Menuju Generasi Emas, Bukan Generasi Cemas

Iklan Landscape Smamda
Prof Biyanto: Pendidikan Jalan Panjang Menuju Generasi Emas, Bukan Generasi Cemas
Prof Biyanto saat menyampaikan tausiyahnya dihadapan wali santri dan santri. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pagi itu, (23/5/2026) ribuan pasang mata tertuju ke panggung Wisuda Purna Siswa Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan. Di tengah suasana penuh kebahagiaan dan rasa syukur, hadir seorang tamu yang bukan sekadar memberi sambutan, tetapi pulang membawa kenangan.

Ia adalah Prof. Dr. Biyanto—Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pondok tersebut puluhan tahun silam.

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan keluarga besar pondok, ia berdiri bukan hanya sebagai profesor atau pejabat kementerian. Ia hadir sebagai alumni yang kembali menapak jejak masa lalu.

“Tiga tahun saya ditempa di pondok ini, sejak 1988 hingga 1991. Dari tempat inilah saya dibentuk hingga bisa berdiri seperti hari ini,” ujarnya.

Kalimat itu seketika mengubah ceramah ilmiah menjadi ruang nostalgia. Ada kenangan yang pulang. Ada sejarah yang berputar kembali ke titik awalnya.

Biyanto mengenang pondok bukan hanya sebagai tempat belajar, melainkan ruang pembentukan diri; tempat disiplin, nilai, dan mimpi-mimpi masa depan ditanam perlahan.

Di hadapan para wisudawan yang sedang bersiap melangkah meninggalkan gerbang pesantren, ia menitipkan satu keyakinan penting: pendidikan adalah jalan panjang menuju masa depan.

Bukan jalan yang instan. Bukan pula jalan yang selalu mudah.

“Pendidikan itu bergerak perlahan, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia ibarat menanam, tidak langsung panen,” tuturnya.

Pesan itu menggema di tengah zaman yang serba cepat. Saat banyak orang ingin berhasil seketika, pendidikan justru mengajarkan kesabaran, bahwa tumbuh membutuhkan waktu, proses, dan ketekunan.

Ia mengingatkan para siswa agar tidak hanya melihat keberhasilan seseorang dari hasil akhirnya. Sebab di balik kesuksesan selalu ada perjuangan panjang yang jarang terlihat orang.

Belajar larut malam. Gagal lalu mencoba lagi. Jatuh, kemudian bangkit.

“Orang sukses adalah mereka yang mau bekerja keras, belajar terus-menerus, dan tidak mudah menyerah,” tegasnya.

Di hadapan para orang tua, Biyanto juga memberi penghormatan khusus pada kekuatan doa.

Menurutnya, keberhasilan anak tak pernah lahir sendirian. Ada air mata, pengorbanan, dan doa-doa panjang dari ayah dan ibu yang diam-diam mengetuk langit.

“Salah satu doa yang pasti dikabulkan adalah doa orang tua untuk anak-anaknya,” katanya.

Ruangan mendadak terasa hening. Beberapa wali santri menunduk. Sebagian lainnya tersenyum haru.

Namun ceramah itu tidak berhenti pada nostalgia dan motivasi personal. Biyanto mengajak hadirin melihat pendidikan dalam cakrawala yang lebih luas, sebagai fondasi peradaban bangsa.

Ia mencontohkan negara-negara seperti Japan, China, dan South Korea yang mampu tumbuh menjadi negara maju karena menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.

Menurutnya, kemajuan bangsa tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau infrastruktur yang menjulang, tetapi dari kualitas manusianya.

“Negara yang unggul dalam pendidikan biasanya juga unggul dalam ekonomi dan teknologi,” ujarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dari sana ia membawa pembicaraan menuju visi besar bangsa: Indonesia Emas 2045.

Sebuah cita-cita besar yang menuntut lahirnya generasi unggul: cerdas dalam ilmu, terampil dalam teknologi, dan kuat dalam karakter.

“Generasi emas itu ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan beradaptasi,” jelasnya.

Namun di tengah optimisme itu, Biyanto juga mengingatkan ancaman yang diam-diam mengintai generasi muda hari ini.

Ia menyebut kecanduan gawai sebagai tantangan serius yang bisa menggeser generasi emas menjadi “generasi cemas”.

Mengutip buku The Anxious Generation, ia menjelaskan bagaimana anak-anak masa kini makin akrab dengan layar, tetapi justru makin jauh dari dunia nyata: dari interaksi sosial, permainan fisik, dan ketangguhan menghadapi kehidupan.

“Akibatnya mereka menjadi kurang tangguh, mudah cemas, dan minim interaksi sosial,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, teknologi harus dikuasai, tetapi tidak boleh mengambil alih kemanusiaan.

Pendidikan modern tetap membutuhkan karakter sebagai fondasi utama.

“Teknologi penting, tetapi karakter jauh lebih penting. Pendidikan tinggi penting, tetapi akhlak mulia adalah fondasi utama,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penutup yang kuat. Sebuah pengingat bahwa kecerdasan tanpa akhlak akan kehilangan arah.

Di akhir ceramah, ia menatap para wisudawan yang sebentar lagi meninggalkan bangku pesantren.

Ia menitipkan pesan sederhana, tetapi dalam maknanya.

“Jangan sampai ada catatan buruk dalam CV kehidupan kalian. Jagalah nama baik diri kalian.”

Bagi para lulusan, wisuda hari itu mungkin menjadi penanda akhir dari satu fase pendidikan.

Namun dari pesan Biyanto, mereka diingatkan bahwa belajar sejatinya belum selesai.

Karena masa depan bangsa sedang menunggu mereka di depan.

Dan jalan menuju Generasi Emas tidak dibangun dalam sehari, melainkan ditempa perlahan melalui ilmu, doa, perjuangan, dan akhlak yang terus dijaga sepanjang hayat. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 25/05/2026 09:52
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡