Dakwah yang berhasil bukanlah dakwah yang dilakukan secara spontan atau sekadar menjadi kegiatan seremonial. Sebaliknya, dakwah harus dibangun di atas konsep yang matang, strategi yang tepat, serta dilaksanakan secara berkelanjutan agar mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., saat menjadi narasumber dalam Dialog dan Peluncuran Buku Bergerak Mencerahkan yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Dalam paparannya, Prof. Hilman menegaskan bahwa dakwah merupakan proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan perencanaan yang baik. Karena itu, para dai tidak cukup hanya memiliki semangat berdakwah, tetapi juga harus mampu menyusun konsep serta strategi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat yang didampingi.
“Dakwah tidak bisa dilakukan secara instan. Ia membutuhkan konsep yang jelas, strategi yang tepat, dan kesinambungan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Prof. Hilman, salah satu contoh nyata dakwah yang berkelanjutan dapat dilihat dari berbagai program yang dikembangkan oleh LDK PP Muhammadiyah melalui pendekatan dakwah berbasis pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada penyampaian nilai-nilai keislaman, tetapi juga diwujudkan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia mencontohkan pendampingan yang dilakukan LDK Muhammadiyah terhadap komunitas mualaf Baduy Luar di Kabupaten Lebak, Banten. Selain memberikan pembinaan keagamaan secara rutin, para dai juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi, seperti budidaya kacang tanah, peternakan kambing, dan kegiatan produktif lainnya.
Program tersebut dirancang agar masyarakat memiliki kemandirian ekonomi sekaligus semakin kokoh dalam menjalankan kehidupan beragama.
Menurutnya, model dakwah seperti inilah yang perlu terus dikembangkan. Dakwah yang menyentuh persoalan riil masyarakat akan lebih mudah diterima karena masyarakat merasakan langsung manfaat kehadiran para dai dalam kehidupan mereka.
Prof. Hilman juga menekankan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, strategi dakwah tidak dapat disamaratakan. Para dai dituntut mampu membaca kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat sehingga program yang dijalankan benar-benar relevan dan memberikan dampak jangka panjang.
Ia mengapresiasi hadirnya buku Bergerak Mencerahkan yang mendokumentasikan berbagai pengalaman dakwah para dai Muhammadiyah di daerah 3T, komunitas adat, kawasan marginal perkotaan, hingga lembaga pemasyarakatan. Menurutnya, buku tersebut menjadi bukti bahwa dakwah Muhammadiyah terus berkembang dengan pendekatan yang adaptif, membumi, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
“Ketika dakwah dibangun dengan konsep yang baik, dijalankan dengan strategi yang tepat, dan dilaksanakan secara berkelanjutan, maka dakwah tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata,” pungkasnya.
Melalui forum dialog tersebut, Prof. Hilman berharap pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam buku Bergerak Mencerahkan dapat menginspirasi para dai dan kader Muhammadiyah untuk terus mengembangkan dakwah yang tidak hanya mencerahkan akal dan hati, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta membangun kehidupan umat yang lebih berkemajuan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments