Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Zahro Ungkap Rahasia Ijtihad, Kunci Islam Tetap Relevan Sepanjang Zaman

Iklan Landscape Smamda
Prof Zahro Ungkap Rahasia Ijtihad, Kunci Islam Tetap Relevan Sepanjang Zaman
Tokoh dan sesepuh Nahdatul Ulama (NU) Jawa Timur Prof Dr Ahmad Zahro, MA menjadi pembicara dihadapan ribuan jamaah kajian Ahad pagi Muhammadiyah di Masjid An Nur PDM Sidoarjo (Zulkifli/PWMU.CO)

Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Ahmad Zahro, menegaskan pentingnya ijtihad ulama sebagai jembatan antara teks agama (nash) dan realitas kehidupan yang terus berkembang.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo di Masjid An-Nur, Ahad (12/4/2026).

Dalam kajian bertema “Ijtihad Ulama sebagai Jembatan antara Nash dan Realitas”, Imam Besar Masjid Al-Akbar Surabaya itu menjelaskan bahwa nash Al-Qur’an dan hadis bersifat terbatas karena telah berhenti sejak wafatnya Rasulullah SAW. Sementara itu, persoalan kehidupan manusia terus berkembang tanpa henti.

“Di sinilah kehebatan para ulama. Dengan metode ijtihad, mereka mampu menjembatani teks agama dengan realitas yang terus berubah,”ujarnya.

Ijtihad Menjawab Persoalan Modern

Guru Besar Ushul Fiqh UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mencontohkan persoalan narkoba yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis. Namun, melalui metode qiyas (analogi), para ulama menetapkan bahwa segala sesuatu yang memabukkan adalah haram.

“Al-Qur’an hanya menyebut khamr. Tidak ada sabu atau narkoba. Lalu apakah menjadi halal? Tentu tidak. Melalui qiyas, semua yang merusak akal dihukumi haram,”tegasnya.

Ia juga menjelaskan konsep istihsan, yakni mempertimbangkan kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Salah satu contohnya adalah pembayaran zakat fitrah menggunakan uang.

“Dalam nash disebutkan zakat fitrah dengan makanan pokok. Namun Imam Hanafi membolehkan dengan uang karena lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan masyarakat,”jelasnya.

Perbedaan Mazhab adalah Kekayaan

Dalam ceramahnya, Prof Zahro menekankan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan hal yang wajar dan justru menjadi kekayaan dalam Islam.

Ia mencontohkan perbedaan pendapat terkait batalnya wudhu karena menyentuh perempuan. Menurutnya, Abu Hanifah berpendapat tidak batal kecuali disertai syahwat, Malik bin Anas mensyaratkan adanya syahwat, sedangkan Muhammad bin Idris al-Shafi’i menyatakan batal secara mutlak.

“Semua pendapat itu benar. Rasulullah bersabda, orang yang berijtihad jika benar mendapat dua pahala, jika salah tetap mendapat satu pahala,”ungkapnya.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada fanatisme buta terhadap satu mazhab.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Jangan merasa paling benar sendiri. Semua memiliki dasar dan dalil,”pesannya.

Kisah Toleransi Ulama Besar

Untuk memperkuat pesannya, Prof Zahro mengisahkan keteladanan dua tokoh besar, yakni Hamka dan Idham Chalid, dalam menyikapi perbedaan.

Saat salat Subuh dalam sebuah forum nasional, Buya Hamka yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah tetap membaca qunut demi menghormati mayoritas jamaah dari kalangan NU. Sebaliknya, KH Idham Chalid pada kesempatan lain tidak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan.

“Ini contoh kedewasaan dalam beragama. Perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi justru memperkuat persatuan,”tuturnya.

Ajakan Persatuan NU dan Muhammadiyah

Dalam penutup ceramahnya, Prof Zahro mengajak seluruh umat Islam, khususnya dua organisasi besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, untuk terus menjaga persatuan.

“Menjadi Muhammadiyah yang baik adalah yang rukun dengan NU. Menjadi NU yang baik adalah yang rukun dengan Muhammadiyah,”tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa Islam adalah agama yang luas dan tidak semestinya dipersempit dengan sikap kaku.

“Islam itu mudah, jangan dibuat sulit. Mari berislam secara tekstual sekaligus kontekstual,”imbuhnya.

Menurutnya, ijtihad ulama harus terus dikembangkan agar ajaran Islam tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi nilai dasarnya.

“Intinya, nash membutuhkan jembatan. Dan ijtihad ulama itulah jembatan antara ajaran Al-Qur’an dan hadis dengan realitas kehidupan saat ini,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/04/2026 20:46
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡