Pimpinan Wilayah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (PW IGABA) menyelenggarakan Training Of Fasilitator Tunas Athfal di Gedung Aisyiyah Trade Center (ATC) Purwosari, Pasuruan, Kamis–Jumat (1–2/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Bunda Murni Novida Wardany sebagai pemateri. Pada awal penyampaian materi, Murni mengenalkan lambang Hizbul Wathan (HW) kepada para peserta.
Menurut Murni, lambang HW memiliki makna bahwa setiap pandu HW diharapkan mampu memancarkan sinarnya ke berbagai penjuru, juga pandu HW berperan sebagai pribadi muslim yang memiliki dedikasi kepada bangsa dan negara.
“Tunas Athfal adalah HW yang paling muda, usianya mulai 4–6 tahun. Kegiatannya cukup melalui permainan, bercerita, berkelompok, dan aktivitas di luar ruangan atau alam bebas. Yang penting adalah belajar dan bermain yang menyenangkan,” tegasnya.
Belajar Sambil Bermain
Dalam kegiatan tersebut, Murni juga mengajak peserta mempraktikkan Tepuk Tunas Athfal. Dengan penuh semangat, peserta mengikuti gerakan dan tepukan bersama.
“Aku… tunas athfal. Belajar… bermain… bergembira. HW… HW… yes… yes!”
Murni menekankan bahwa hal terpenting dalam kegiatan pandu Tunas Athfal adalah anak merasa senang dan nyaman.
Kegiatan tunas athfal, lanjutnya, diarahkan untuk membentuk karakter anak, termasuk kedisiplinan dan sopan santun.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan pengabdian kepada masyarakat sejak dini.
“Bagaimana wujud pengabdian kepada masyarakat untuk anak? Ternyata cukup sederhana, membuang sampah pada tempatnya sudah merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat,” jelas ibu tiga anak tersebut.
Kemah dan Kegiatan Alam Bebas
Salah satu peserta, Tri Wulandari Heppyani dari Gresik, menceritakan bahwa kegiatan pandu Tunas Athfal di lembaganya telah berjalan setiap dua minggu sekali. Meskipun belum memiliki seragam HW, anak-anak tetap antusias mengikuti kegiatan.
Ke depan, TK Aisyiyah 40 PPS Gresik, tempat Tri mengajar, berencana mengadakan kegiatan berkemah bagi anak-anak. Tri pun menanyakan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum dan selama kegiatan tersebut.
Menanggapi pertanyaan itu, Murni menjelaskan bahwa kegiatan berkemah sekaligus menginap bagi Tunas Athfal belum disarankan. Namun, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan di masing-masing daerah.
“Jika sudah menjadi kebiasaan di lingkungan atau daerah masing-masing, silakan dilakukan menginap. Jangan lupa pendampingan dari orang tua dan guru harus benar-benar disiapkan,” jelas Wakil Ketua Kwarwil HW Jawa Timur tersebut.
Murni juga mengingatkan agar kegiatan Tunas Athfal lebih banyak memanfaatkan ruang terbuka. Anak-anak perlu dikenalkan dengan berbagai aktivitas di alam bebas melalui kegiatan yang sederhana dan menyenangkan.
“Kenalkan anak dengan kegiatan di alam bebas, bisa membakar jagung, mencari jejak, atau berburu harta karun,” tambahnya.
Langkah Awal Membentuk Tunas Athfal
Peserta dari Nganjuk, Vervin, mengaku senang mengikuti Training Fasilitator Tunas Athfal. Menurutnya, Tunas Athfal merupakan hal baru baginya, meskipun di sejumlah daerah kegiatan tersebut telah berjalan.
Ia kemudian menanyakan langkah pertama yang perlu dilakukan untuk meluncurkan kegiatan pandu Tunas Athfal di lembaganya.
Murni menjelaskan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah berkoordinasi dengan Kwartir Daerah (Kwarda) di tingkat kabupaten. Selanjutnya, Kwarda akan memberikan arahan mengenai berbagai kegiatan pandu Tunas Athfal.
“Ajak anak-anak jalan-jalan dulu, kenalan dengan kegiatan pandu Tunas Athfal,” ujarnya.
Murni berharap, melalui kegiatan training ini, peserta diharapkan semakin memahami konsep dan praktik kegiatan Tunas Athfal sehingga dapat menghadirkan aktivitas kepanduan yang sesuai dengan usia anak, menyenangkan, serta mendukung pembentukan karakter sejak dini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments