Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Jumat–Ahad, 10–12 Juli 2026, dengan mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan: Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif.”
Rakernas ini menjadi momentum strategis bagi Muhammadiyah untuk memperkuat peran seni dan budaya sebagai bagian dari dakwah berkemajuan. Berbagai agenda disusun untuk merumuskan langkah pengembangan ekosistem seni budaya Muhammadiyah yang lebih sistematis, kreatif, dan inklusif.
Salah satu agenda penting adalah Sidang Pleno II yang berlangsung di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema “Seni Rupa sebagai Dakwah Kultural Menebar Nilai, Mencerahkan Peradaban.” Forum ini menghadirkan empat narasumber, yakni Dr. Mikke Susanto, M.A., Muchlis Arif, S.Sn., M.Sn., Jumaldi Alfi, S.Sn., dan Kusen, Ph.D.
Dalam paparannya, Dr. Mikke Susanto menekankan pentingnya membangun LSB dalam konteks pendidikan, kebudayaan, ekonomi, politik kebudayaan, serta arena kebudayaan. Menurutnya, Muhammadiyah perlu memperkuat ekosistem seni melalui jalur pendidikan dengan mendorong pendirian program studi seni dan budaya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).
Ia menjelaskan bahwa pengembangan seni tradisi, seni modern, hingga seni kontemporer harus berjalan beriringan untuk melahirkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang seni. Selain itu, pembinaan seni perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak bersifat insidental ataupun sekadar memenuhi kebutuhan acara tertentu. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah penyelenggaraan sedikitnya satu kegiatan seni setiap semester sebagai ruang aktualisasi sekaligus pembinaan bagi peserta didik dan seniman muda Muhammadiyah.
Sementara itu, seniman Jumaldi Alfi mengangkat pentingnya membangun ekosistem seni rupa Muhammadiyah yang mampu melahirkan seniman-seniman progresif dan berkemajuan. Ia menyoroti masih adanya tantangan di dunia pendidikan, termasuk pandangan yang kurang memberi ruang bagi seni di sejumlah sekolah.
Menurutnya, Muhammadiyah perlu menyiapkan kurikulum, memperkuat program seperti Desain Komunikasi Visual (DKV), serta membangun ekosistem yang mendukung dakwah melalui medium seni. Dengan demikian, seni tidak hanya dipandang sebagai ekspresi estetika, tetapi juga menjadi instrumen penyebaran nilai-nilai Islam yang mencerahkan.
Muchlis Arif turut memberikan perspektif mengenai penguatan seni sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa seni perlu menjadi bagian integral dalam pengembangan budaya organisasi sehingga mampu menghadirkan karya-karya yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Adapun Kusen, Ph.D., menyoroti pentingnya moralitas seniman dalam menjalankan dakwah kultural. Ia mengingatkan bahwa pendekatan terhadap seni di lingkungan Muhammadiyah tidak cukup hanya bertumpu pada aspek fikih semata. Menurutnya, seni dapat menjadi media dakwah yang efektif apabila dibangun dengan landasan etika, nilai, dan visi peradaban.
Kusen juga mengaitkan pengembangan seni budaya dengan amanat keputusan Muktamar Muhammadiyah yang memberikan perhatian terhadap pengembangan seni dan budaya sebagai bagian dari gerakan dakwah. Ia menilai, ruang seni di Muhammadiyah perlu terus diperluas agar tidak mengalami kekeringan akibat pendekatan yang terlalu sempit.
Melalui forum Rakernas ini, LSB PP Muhammadiyah diharapkan mampu merumuskan program kerja yang memperkuat posisi seni dan budaya sebagai instrumen dakwah kultural. Dengan membangun ekosistem yang sehat melalui pendidikan, kurikulum, pembinaan seniman, dan kolaborasi lintas bidang, Muhammadiyah diharapkan dapat menghadirkan karya-karya seni yang kreatif, inklusif, serta memberi kontribusi bagi pencerahan peradaban. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments