Semangat emansipasi perempuan kembali digaungkan melalui talkshow “Semarak Kartini” yang digelar di Aula Lantai 2 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo, Jumat (1/5/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Kartini Masa Kini: Rekonstruksi Jati Diri dan Artikulasi Suara Perempuan di Tengah Dinamika Zaman.”
Hadir sebagai narasumber utama, Ibunda Dra. Niken Lestarini, M.Si, yang menyampaikan materi inspiratif mengenai transformasi peran perempuan dari masa lampau hingga era modern.
Dalam pemaparannya, Ibunda Dra. Niken Lestarini, M.Si menyoroti kondisi perempuan di masa lalu yang dihadapkan pada berbagai keterbatasan, mulai dari budaya feodal, tradisi pingitan, poligami, hingga kuatnya budaya patriarki serta minimnya akses pendidikan.
Menurutnya, dari kondisi tersebut lahirlah kebutuhan untuk melakukan rekonstruksi jati diri perempuan.
“Rekonstruksi adalah proses pembentukan ulang setelah terjadinya benturan antara nilai lama dan nilai baru,” jelas Ibunda Dra. Niken Lestrarini.
Ia menjelaskan bahwa proses transformasi perempuan, sebagaimana dicontohkan oleh Raden Ajeng Kartini, terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah fase ketika perempuan hidup dalam “diri sosial”, seperti tradisi dipingit sejak usia 12 tahun dan tuntutan untuk bersikap nrimo, yang pada akhirnya memicu konflik batin.
Memasuki tahap kedua, Kartini mulai membuka wawasan melalui aktivitas membaca dan surat-menyurat dengan tokoh-tokoh Eropa. Dari sinilah lahir kesadaran baru yang mendorong perubahan besar, termasuk keberanian mendirikan sekolah perempuan serta lahirnya karya monumental Habis Gelap Terbitlah Terang.
Meski demikian, perjuangan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti kuatnya adat Jawa, budaya patriarki, hingga konflik batin antara cita-cita pribadi dan harapan keluarga.
Ibunda Dra. Niken Lestarini, M.Si juga menekankan pentingnya kemandirian bagi perempuan.
“Perempuan harus mandiri, tidak boleh bergantung kepada siapapun. Kemandirian adalah salah satu kunci utama agar perempuan memiliki hak suara,” tegas Ibunda Dra. Niken Lestarini.
Ia menambahkan bahwa artikulasi suara perempuan juga mengalami perkembangan dari masa ke masa. Jika dahulu dilakukan melalui surat-menyurat, maka di era digital saat ini perempuan dituntut mampu menyampaikan gagasan melalui media digital dengan disertai kemampuan berpikir kritis.
Sebagai panduan praktis, Ibunda Dra. Niken Lestarini, M.Si membagikan beberapa langkah bagi perempuan masa kini dalam melakukan rekonstruksi jati diri dan artikulasi suara, antara lain:
- Memperkuat fondasi hati dan spiritual
- Rutin melakukan muhasabah (introspeksi diri)
- Memulai perubahan dari langkah kecil
- Membangun kebiasaan positif
- Senantiasa melakukan evaluasi diri
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya membangun keluarga ideal sebagai tempat bernaung perempuan, termasuk dalam memilih pasangan hidup berdasarkan nilai agama.
Menutup sesi, Ibunda Dra. Niken Lestarini, M.Si menyampaikan pesan kuat kepada para peserta.
“Perempuan harus berani melawan batasan dengan kekuatan pemikiran.”
Melalui kegiatan ini, diharapkan para IMMawati Ponorogo mampu melanjutkan perjuangan Kartini dan menjadi perempuan yang berdaya serta adaptif di tengah dinamika zaman.





0 Tanggapan
Empty Comments