Program Studi Magister Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional dengan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar ini mengusung tajuk “STEM dalam Aksi: Inovasi Pembelajaran Implementatif di Sekolah”.
Lebih lanjut, kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Kamis (09/07/2026) ini dihadiri guru IPA dan Biologi SMP/SMA sederajat, mahasiswa program S1, S2, dan S3, serta dosen.
Seminar berawal dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Program Studi Magister Pendidikan Biologi Pascasarjana UMM.
Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi pengembangan kompetensi guru, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, serta implementasi inovasi pembelajaran berbasis STEM di sekolah.
Ruang Saling Belajar dan Bertumbuh
Direktur Program Pascasarjana UMM, Prof Dr Khozin MSi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kemitraan antara perguruan tinggi dan komunitas guru merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
“Kolaborasi seperti ini menjadi ruang bersama untuk saling belajar dan bertumbuh. Kampus tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi sekolah melalui kerja sama yang berkelanjutan” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Biologi UMM, Prof Dr Yuni Pantiwati MM MPd mengatakan tujuan dari seminar nasional ini.
Menurutnya, agenda tersebut dirancang untuk menjembatani kebutuhan guru terhadap pembelajaran STEM yang aplikatif dan mudah diimplementasikan di kelas.
“Kami ingin menunjukkan bahwa STEM bukanlah pendekatan yang rumit. Dengan kreativitas guru dan pemanfaatan potensi lingkungan sekitar, pembelajaran STEM dapat diterapkan secara sederhana, menyenangkan, dan mampu meningkatkan keterampilan berpikir peserta didik” tuturnya.
Seminar dipimpin oleh moderator Dr Husamah MPd, Dosen Pendidikan Biologi UMM.
Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni Dosen Universitas Sebelas Maret Murni Ramli SP MSi EdD, serta Dosen Pendidikan Biologi UMM Dr Nurwidodo MKes.
Dalam paparannya, Murni Ramli menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi STEM ditentukan oleh kemampuan guru mengaitkan materi pembelajaran dengan permasalahan nyata yang dihadapi peserta didik.
“Esensi STEM bukan terletak pada penggunaan teknologi yang canggih, melainkan bagaimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik. Sehingga siswa terbiasa berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan memecahkan masalah” jelasnya.
Implementasi STEM Tak Harus Mahal
Sementara itu, Dr Nurwidodo menekankan pentingnya pembelajaran yang memberi ruang kepada peserta didik untuk bereksplorasi melalui proyek-proyek sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Implementasi STEM tidak harus mahal dan rumit. Yang terpenting adalah bagaimana siswa dilibatkan dalam proses menemukan, mencoba, menganalisis, hingga menghasilkan solusi atas persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar” ungkapnya.
Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan disampaikan oleh guru, mahasiswa, dan dosen terkait strategi merancang pembelajaran STEM, asesmen berbasis proyek, hingga pengalaman implementasi di berbagai jenjang pendidikan.
Moderator seminar, Husamah menilai tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap penguatan kompetensi guru dalam implementasi STEM semakin besar.
“Seminar ini bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan praktisi pendidikan untuk saling menginspirasi dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna di sekolah” katanya.
Melalui seminar nasional ini, Program Studi Magister Pendidikan Biologi Pascasarjana UMM berharap kolaborasi yang telah dibangun bersama MGMP dapat terus berkembang. Khususnya dalam bentuk pelatihan, penelitian, pendampingan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sinergi tersebut harapannya mampu mempercepat lahirnya inovasi pembelajaran STEM yang implementatif serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan sains di Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments