Pembelajaran matematika tidak lagi cukup jika hanya berorientasi pada hafalan rumus. Guru abad ke-21 dituntut mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menumbuhkan daya nalar kritis, serta membiasakan peserta didik memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata.
Hal tersebut disampaikan Pengawas SD/MI Muhammadiyah Gresik, Ria Pusvita Sari, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam lanjutan rangkaian upgrading guru di SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix), Sabtu (11/7/2026).
Dalam paparannya, Ria mengulas strategi penguatan numerasi sekaligus memperkenalkan arah baru Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang sekolah dasar.
Ia mengawali materi dengan meluruskan anggapan bahwa numerasi bukan sekadar kemampuan berhitung. Menurutnya, numerasi merupakan kecakapan menggunakan konsep matematika untuk memahami, menganalisis, dan menyelesaikan berbagai persoalan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Tiga Konteks Soal Numerasi
Ria Pusvita menjelaskan, soal-soal numerasi sebaiknya dirancang sedekat mungkin dengan pengalaman nyata peserta didik. Ia memaparkan tiga konteks utama dalam penyusunan soal numerasi.
Pertama, konteks personal, yaitu persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti transaksi belanja, biaya transportasi, kesehatan, pengelolaan keuangan, hingga aktivitas keluarga.
Kedua, konteks sosial budaya, yang mengangkat persoalan di masyarakat, seperti transportasi publik, kebijakan pemerintah, data kependudukan, statistik, hingga persoalan ekonomi yang memerlukan analisis data.
Ketiga, konteks saintifik, yaitu penerapan konsep matematika dalam bidang sains dan teknologi, seperti prediksi cuaca, perubahan iklim, genetika, pengukuran, hingga pemanfaatan teknologi modern.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, Ria menghadirkan berbagai contoh soal adaptasi Programme for International Student Assessment (PISA), mulai dari kombinasi topping pizza, interpretasi grafik tingkat kriminalitas, model atap rumah berbentuk limas, hingga perhitungan sisa zat obat dalam tubuh menggunakan konsep persentase.
Menurutnya, soal-soal semacam itu efektif melatih kemampuan bernalar sehingga peserta didik terbiasa menganalisis persoalan sebelum menentukan jawaban.
Membangun Budaya Numerasi
Di hadapan para guru kelas dan guru mata pelajaran, Ria menegaskan bahwa penguatan numerasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru matematika.
“Numerasi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh guru, bukan hanya tugas guru matematika semata,” tegasnya.
Ia menjelaskan, budaya numerasi dapat dibangun melalui lingkungan belajar yang kaya stimulus, seperti pojok numerasi, media pembelajaran interaktif, hingga makerspace yang mendorong peserta didik bereksplorasi.
Selain itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan sosial yang positif agar tumbuh growth mindset, yakni keyakinan bahwa setiap anak mampu berkembang melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Menurutnya, pembelajaran juga harus lebih menekankan penalaran, pemodelan, dan pemecahan masalah (problem solving). Program numerasi pun perlu diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran agar menjadi budaya belajar di sekolah.
TKA Berorientasi Penalaran
Pada sesi berikutnya, Ria mengulas struktur Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menjadi bagian dari transformasi sistem asesmen nasional. Ia menegaskan bahwa TKA tidak lagi berfokus pada hafalan materi, melainkan mengukur kemampuan memahami, menerapkan, dan bernalar.
Untuk jenjang SD, materi matematika mencakup bilangan, geometri dan pengukuran, pengolahan data, peluang, serta aljabar sederhana.
Adapun bentuk soal semakin beragam, mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (Multiple Correct Multiple Answer atau MCMA), hingga pilihan ganda kategori (PGK).
Ria juga menekankan pentingnya penyusunan soal yang memenuhi kaidah pedagogis, mulai dari kesesuaian indikator capaian, rumusan soal yang jelas dan tidak ambigu, hingga penyusunan distraktor yang mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS).
Melalui paparan yang diperkaya contoh soal berbasis PISA dan simulasi TKA, para guru memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai arah pembelajaran numerasi di sekolah.
Kegiatan upgrading ini diharapkan semakin memperkuat kesiapan guru SD Musix dalam menghadirkan pembelajaran numerasi yang bermakna, menyenangkan, sekaligus membekali peserta didik menghadapi Tes Kemampuan Akademik dengan lebih percaya diri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments