Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 134, 135, 136, 137 dan 138.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 54
***
Halaman 134
Di Lamongan tercatat nama-nama yang menjadi anggota DPRDS, antara lain Syamsuri mewakili Masyumi, alumni Kweek School Muhammadiyah, kemudian Musrifah lulusan Sekolah Mu’allimat mewakili Aisyiyah (mulai 1950), dan Mukhid Mulyono mewakili Muhammadiyah (mulai 1952).{123}
Halaman 135
Tokoh-tokoh Muhammadiyah Daerah di Jawa Timur yang hadir dalam Sidang Tanwir di Jogjakarta, Agustus 1951, tercatat antara lain R. Harun al-Rasyid dan M. Hadisutrisno dari Madiun, M. Ahmad Ikhsan dari Pati, Sulaiman dan Imam Supardi dari Kediri, H.A. Hadi dan Turhan Badri dari Surabaya, Kyai Muhammad Bejo dan Gaffar Wirosudibyo dari Malang.{124}
- Kondisi Muhammadiyah
Sejak Masyumi diikrarkan menjadi satu-satunya partai Islam oleh organisasi-organisasi Islam, Muhammadiyah telah menyalurkan aspirasi politiknya lewat Masyumi, bahkan secara organisatoris menjadi anggota istimewanya. Banyak pemimpin Muhammadiyah dari semua jenjang struktural terlibat dalam kegiatan politik. Pada 1952, semua partai politik mulai bersiap diri menghadapi Pemilu dan Partai Masyumi ditinggalkan oleh SI dan NU. Sejak itu banyak pemikir-pemikir potensial dan praktisi amal usaha yang terpaksa “meninggalkan” Muhammadiyah, karena dibutuhkan untuk memperkuat Partai Masyumi, terutama ketika masa kampanye pemenangan Partai Masyumi dalam Pemilu 1955. Dampaknya, Muhammadiyah kekurangan sumber daya manusia, sehingga tidak dapat mengembangkan diri sebagaimana semestinya.
Halaman 136
Ketika itu, Muhammadiyah Jawa Timur masih berada pada masa pertahanan eksistensi. Berdasarkan catatan tanggal 17 September 1951, di Jawa Timur terdapat 7 daerah yang terdiri dari Daerah Surabaya, Madura, Besuki, Malang, Madiun, Kediri, dan Pati. Jumlah cabang dan ranting pada Daerah Surabaya (8 cabang, 17 ranting), Madura (6 cabang, 6 ranting), Besuki (8 cabang, 23 ranting), Malang (6 cabang, 19 ranting), Kediri (5 cabang, 15 ranting), Madiun (5 cabang, 20 ranting), Pati (6 cabang, 10 ranting). Jumlah keseluruhan dari tujuh Daerah di Jawa Timur ada 44 cabang dan 110 ranting.{125} Pada saat itu Muhammadiyah di Jawa Timur (minus Daerah Pati) tersebar di 138 tempat. Itu berarti dalam rentang waktu 1942-1951, cabang dan ranting Muhammadiyah Jawa Timur hanya bertambah di 20 tempat.
Cabang Muhammadiyah yang baru muncul pada masa perjuangan politik (1950-1956) adalah Lamongan. Dibandingkan dengan Gresik dan Tuban, kehadiran Muhammadiyah di Lamongan jauh terlambat. Muhammadiyah Gresik resmi berdiri pada 1926 dan Tuban pada 1933. Meski sebelum 1950 Muhammadiyah Lamongan belum eksis, namun tidak berarti di Lamongan belum ada orang-orang Muhammadiyah. Menurut penuturan R.H. Mulyadi (mantan Ketua 1966-1972), sebelum 1950 ada lebih kurang enam orang Muhammadiyah di Lamongan.{126} Salah satunya bernama Mattaji, meninggal pada 1971 di Dusun Badu Desa Wanar, Pucuk, Lamongan.{127} Dari enam orang itu, tiga orang di antaranya duduk di DPRDS Kabupaten Lamongan tahun 1950–1956.{128}
Atas prakarsa H. Mahmud, H. Sholeh Syamsuri, H. Mukhtar Mastur, Yasin Fathul, H. Madhan, dan Mohammad Asyik, didukung oleh 50 orang lainnya, Muhammadiyah dapat berdiri di Lamongan pada 1950. Ayah dari H.Mukhtar Mastur yang bernama K.H. Mastur Asnawi adalah perintis dan pendiri NU di kota Lamongan.{129}
Pada 1951, Pandu HW berdiri mengiringi berdirinya Muhammadiyah. Perintis dan pelopornya, antara lain Abdul Hamid Kadir, H. Mukhtar Mastur, dan Yasin Fathul bersama dengan beberapa guru dan murid SMP PGRI, seperti Muhid Mulyono dan Ilham. Dalam waktu singkat Pandu HW dapat berdiri di beberapa kota Kecamatan.{130} Berdirinya Muhammadiyah dan Pandu HW di
Halaman 137
Lamongan tidak menimbulkan gejolak sosial. Hal itu karena sebagian besar pendirinya berlatar belakang NU. Selain itu juga adanya sikap tasamuh (toleransi) ulama-ulama NU pada waktu itu.{131}
- Konperensi Daerah (Konperda)
Pada 21-22 April 1951 diadakan Konperda Surabaya di Mojokerto. Konperensi ini menghasilkan beberapa keputusan. Pertama, mengusulkan kepada PB supaya memperbaharui tanda anggota Muhammadiyah seluruh Indonesia. Kedua, supaya PB segera mencetak AD dan ART untuk disebarkan kepada seluruh anggota. Ketiga, segera melengkapi tenaga daerah, hasilnya disampaikan kepada cabang dan ranting. Keempat, para anggota yang duduk di instansi pemerintah/DPRDS supaya melaksanakan langkah ke depan sesuai keputusan Muktamar. Kelima, memperluas dakwah/tabligh untuk membendung kerusakan akhlak. Keenam, mengusahakan terwujudnya kesehatan rakyat dan memperkuat usaha yang telah ada. Ketujuh, anggota Muhammadiyah yang duduk di DPRDS dianjurkan untuk mendesak dan mendorong Masyumi agar Pemerintah membentuk DPRDS Propinsi. Kedelapan, membantu sekuat tenaga terhadap usaha Masyumi menghadapi
Halaman 138
pemilihan umum. Kesembilan, memperkuat seksi perekonomian, agar selekas mungkin mensosialisasikan rencana kerjanya kepada cabang dan ranting.{132}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments