SD Muhammadiyah Gresik (SD Mugres) menggelar sharing session mengenai pendampingan anak berkebutuhan khusus bagi para wali siswa dengan menghadirkan dosen Universitas Gresik, Andrijanti, pada Kamis (2/7/2026), di ruang Kelas 1 R.H. Hadjid, Kampus B.
Kegiatan tersebut membahas pola pengasuhan dan pendampingan anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan autisme. Andrijanti, yang juga merupakan orang tua dari anak dengan autisme, berbagi pengalaman mengenai pendampingan yang dilakukan di lingkungan keluarga.
Dalam pemaparannya, Andrijanti menjelaskan bahwa mendampingi anak dengan autisme memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam membangun komunikasi dan memberikan stimulasi yang sesuai. Menurutnya, autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi interaksi sosial, pola komunikasi, minat, serta perilaku yang cenderung berulang.
Pada sesi diskusi, Andrijanti mengangkat salah satu persoalan yang kerap dihadapi orang tua, yaitu pengaturan pola makan bagi anak berkebutuhan khusus.
“Bapak, ibu saya mau menanyakan perihal diet yang dilakukan anak-anak panjenengan ini bagaimana?, ada yg sangat ketat?. Pasti merasa kasihan nggih pak, bu. Masa anak lain bisa makan enak anak saya engga. Nah ini pak, bu yang perlu di garis bawahi. Sebenarnya pantangan makanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini worth it atau tidak nggih pak, bu?” tanyanya kepada para wali siswa.
Menurut Andrijanti, apabila terdapat jenis makanan yang menjadi pantangan dan memengaruhi kondisi anak, orang tua perlu konsisten menjalankan pola makan yang telah ditetapkan.
“Memang nggih pak, bu ngelihat nya kok kasihan sekali. Tapi jika pilihan itu memang yg terbaik untuk anak-anak ini, kenapa tidak?” imbuhnya.
Selain membahas pola makan, Andrijanti menyampaikan bahwa pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus bertujuan membantu anak mengembangkan potensi, meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, melatih kemandirian, membangun rasa percaya diri, serta mendukung perkembangan sosial dan emosional.
Ia juga menjelaskan beberapa prinsip yang perlu diterapkan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus, yaitu kesabaran, konsistensi, penerimaan terhadap kondisi anak, penghargaan terhadap kemampuan yang dimiliki anak, pendekatan secara individual, serta kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Menjelang akhir kegiatan, Andrijanti membagikan beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua di rumah, di antaranya menyusun jadwal kegiatan yang rutin, memberikan instruksi yang sederhana, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, melatih kemandirian sejak dini, serta mengajarkan keterampilan secara bertahap.
“Jangan lupa bapak ibu, selalu berikan pujian dan penguatan positif terhadap sekecil apapun dari perkembangan yang mereka lakukan,” tutupnya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh para wali siswa anak berkebutuhan khusus di SD Mugres sebagai bagian dari upaya sekolah memfasilitasi diskusi mengenai pendampingan anak bersama narasumber yang memiliki pengalaman di bidang tersebut. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments