Pendekatan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics (STEAM) menjadi salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan upgrading guru SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) menjelang Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan yang mengusung tema Empowering Future Generations tersebut berlangsung pada Senin (6/7/2026) sebagai bagian dari penguatan kompetensi pendidik.
Salah satu sesi dalam kegiatan tersebut menghadirkan ruang diseminasi bertajuk “Implementasi Pembelajaran STEM/STEAM” yang disampaikan oleh Meilani Fara Atika, S.Pd., di hadapan para guru SD Musix.
Dalam paparannya, Meilani mengajak para pendidik untuk menerapkan pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta didik (student-centered). Menurutnya, guru perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterampilan memecahkan masalah.
Evolusi STEM Menjadi STEAM
Meilani menjelaskan bahwa STEM merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan empat disiplin ilmu, yaitu Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Seiring perkembangan dunia pendidikan, pendekatan tersebut berkembang menjadi STEAM dengan penambahan unsur Arts (seni).
“Penambahan unsur Arts ini sangat krusial untuk menguatkan aspek kreativitas, imajinasi, estetika, serta kemampuan mendesain pada diri siswa,” ujar Meilani.
Menurutnya, STEM dan STEAM tidak hanya dipahami sebagai metode pembelajaran, tetapi juga sebagai pendekatan untuk membangun pola pikir peserta didik.
“Melalui pendekatan ini, anak-anak dilatih menemukan solusi atas permasalahan nyata di lingkungan sekitarnya. Guru harus berani mengubah ruang kelas menjadi laboratorium eksplorasi, bukan lagi sekadar tempat transfer materi konvensional,” imbuhnya.
Memanfaatkan Lingkungan Sekitar
Pada kesempatan tersebut, Meilani juga menjelaskan bahwa penerapan STEAM tidak harus bergantung pada fasilitas laboratorium yang lengkap. Guru dapat memanfaatkan lingkungan sekitar maupun bahan-bahan sederhana sebagai media pembelajaran.
“Penerapan STEAM bisa kita mulai dari proyek-proyek sederhana. Manfaatkan ekosistem lingkungan sekitar sekolah atau bahkan barang-barang bekas yang mudah dijumpai. Yang paling esensial adalah bagaimana guru mampu mengemas pengalaman belajar tersebut menjadi bermakna, menantang, dan menyenangkan bagi anak-anak,” jelasnya.
Ia juga mengajak peserta mendiskusikan pentingnya transformasi asesmen yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Dalam pendekatan STEAM, penilaian mencakup proses pembelajaran, seperti kemampuan bekerja sama, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan presentasi, hingga produk yang dihasilkan peserta didik.
Penguatan Kompetensi Guru
Pada akhir sesi, Meilani mengingatkan pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
“Anak-anak yang duduk di bangku kelas kita hari ini adalah mereka yang akan hidup dan memimpin masa depan yang penuh dengan ketidakpastian serta tantangan global. Oleh karena itu, gurunya harus menjadi orang pertama yang terus belajar agar mampu melahirkan generasi yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di kancah internasional,” pungkasnya.
Kegiatan upgrading tersebut menjadi salah satu agenda SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya dalam menyambut Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui kegiatan ini, para guru memperoleh penguatan mengenai implementasi pembelajaran STEAM sebagai salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments