Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membaca Ulang Sejarah: Kedatangan Pertama KH Ahmad Dahlan ke Surabaya Bukan Tahun 1916

Iklan Landscape Smamda
Membaca Ulang Sejarah: Kedatangan Pertama KH Ahmad Dahlan ke Surabaya Bukan Tahun 1916
Suasana diskusi “Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya” di Lodji Besar, Jl. Makam Peneleh 46 Surabaya pada 14 Juni 2026 (Foto: Ahmad Fauzul/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS

Selama ini, banyak tulisan sejarah Muhammadiyah menyebut KH Ahmad Dahlan datang pertama kali ke Surabaya pada 1916. Namun, sejumlah data menunjukkan bahwa hubungan Ahmad Dahlan dengan Surabaya telah terjalin jauh sebelumnya. Bahkan, dia sudah berulang kali mengunjungi Surabaya sebelum 1915.

Salah satu petunjuk penting berasal dari kesaksian KH Mas Mansur. Tokoh besar Muhammadiyah yang kelak menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dan anggota Empat Serangkai pada masa pendudukan Jepang. Kesaksian itu dimuat dalam Majalah Adil No. 48 Tahun VI, 3 September 1938, yang kemudian dibukukan oleh Amir Hamzah Wiryosukarto dalam Kiyai Haji Mas Mansur Kumpulan Karangan Tersebar.

Pada tahun 1915, Mas Mansur yang baru pulang dari Mesir mampir bertamu ke KH Ahmad Dahlan. Itu dilakukan sebelum dia pulang ke Surabaya, ke rumah ayahnya. Dalam pertemuan itulah Ahmad Dahlan mengungkapkan kedekatannya dengan ayah Mas Mansur. Yaitu KH Mas Achmad Marzuki.

“Ketika itu beliau terangkan bahwa beliau sangat kenal dan bersahabat dengan ayah saya,” tulis Mas Mansur.

Lebih jauh lagi, Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa setiap kali datang ke Surabaya, ia biasa menginap di rumah seorang ulama yang dikenal dengan sebutan Kiai Habib. Tempat tersebut disebut sebagai lokasi berkumpulnya para kiai Surabaya.

“Katanya kalau beliau ke Surabaya, beliau tinggal di rumah Kiyai Habib, tempat pertemuan kiyai-kiyai. Di sanalah beliau kerangkali bercakap-cakap lama dengan ayah saya memperbincangkan soal-soal agama,” kenang Mas Mansur.

Pernyataan ini menjadi petunjuk penting. Jika pada tahun 1915 Ahmad Dahlan sudah menyebut dirinya “sangat kenal dan bersahabat” dengan KH Mas Achmad Marzuki, maka hubungan itu tidak mungkin baru terjalin. Persahabatan intelektual dan diskusi agama yang berlangsung berulang kali mengisyaratkan adanya pertemuan-pertemuan yang telah berlangsung cukup lama.

Menariknya, Mas Mansur juga mencatat bahwa ketika KH Mas Achmad Marzuki berkunjung ke Yogyakarta. Ayahnya, tambah KH Ahmad Dahlan, biasa menginap di rumah Kiai Nur, tempat berkumpulnya para ulama ulama juga.

Pernyataan ini adalah bukti otentik bahwa kedatangan KH Ahmad Dahlan pada 1916 bukan yang pertama kali. Melainkan yang kesekian kalinya, sebagai sosok yang menemui para sahabat lamanya.

Pertemuan Dahlan dengan KH Mas Achmad Marzuki diperkirakan terjadi dalam rentang waktu setelah tahun 1910, namun sudah pasti sebelum tahun 1915. Mengapa rentang waktu 1910 hingga 1915 menjadi sangat krusial? Hal ini berkaitan dengan dinamika keluarga KH Mas Mansur.

Diketahui bahwa KH Mas Achmad Marzuki pada tahun 1910 masih memiliki pandangan antipati terhadap Mesir. Wilayah yang saat itu menjadi pusat keilmuan Islam melalui Universitas Al-Azhar. Mesir dinilainya bukan tempat yang baik untuk menuntut ilmu, karena di sana banyak kemaksiatan.

Dinamika keluarga KH Mas Mansur ini ditulis oleh Syaifullah dalam buku KH. Mas Mansur Sapukawat Jawa Timur. Pada tahun 1910, saat kondisi Mekah sedang chaos, semua pelajar luar negeri disuruh angkat kaki. Berbeda dengan pelajar lainnya, Mas Mansur yang saat itu sedang belajar di Mekah, tidak langsung pulang ke nusantara.

Mas Mansur justru meminta izin kepada ayahnya untuk melanjutkan studi ke Mesir melalui surat. Namun, permintaan tersebut ditolak. Sang ayah memandang Kairo sebagai tempat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Tapi Mas Mansur akhirnya tetap berangkat ke Mesir. Meski tanpa restu penuh dari ayahnya.

Akibatnya, selama sekitar satu tahun ia tidak memperoleh kiriman biaya hidup maupun biaya pendidikan dari keluarga. Barulah pada tahun kedua, kiriman biaya belajar dan hidup untuk Mas Mansur dikirim oleh sang ayah.

SMPM 5 Pucang SBY

Fakta ini menunjukkan bahwa pada tahun 1910, KH Mas Achmad Marzuki masih memiliki pandangan konservatif terhadap perkembangan pemikiran Islam di Timur Tengah. Karena itu, hubungan akrabnya dengan Ahmad Dahlan yang dikenal terbuka terhadap gagasan pembaruan Islam kemungkinan berkembang setelah periode tersebut.

Yang pasti, seluruh rangkaian peristiwa itu sudah terjadi sebelum tahun 1915. Sebab pada tahun 1915, Mas Mansur yang bertemu KH Ahmad Dahlan, menuliskan kesaksian yang dikisahkan KH Ahmad Dahlan. Mas Mansur mendengar sendiri kisah persahabatan ulama Yogyakarta ini dengan ayahnya yang tinggal di Surabaya.

Dengan arti lain, sebelum 1915 Ahmad Dahlan sudah berkali-kali datang ke Surabaya. Kemudian menginap di rumah ulama bernama Kyai Habib, serta berdiskusi panjang dengan para tokoh agama lainnya. Salah satunya adalah KH Mas Achmad Marzuki, ayah Mas Mansur. Kronologi ini membuat pernyataan kunjungan pertama KH Ahmad Dallan ke Surabaya pada 1916 menjadi sulit dipertahankan.

Rangkaian peristiwa itu secara tidak langsung juga menunjukkan mobilitas yang tinggi dari KH Ahmad Dahlan. Salah satu pendukung mobilitas itu adalah profesinya sebagai pedagang. Dalam *Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal* karya Kyai Syuja’, Kyai Dahlan memulai berdagang pada 1892. Setahun setelah kepulangan hajinya yang pertama.

Dikisahkan, Dahlan dan kakaknya Nyai Shaleh mendapatkan modal sebesar 500 hingga 1000 gulden dari orang tuanya. Sang kakak langsung menyerahkan modal itu kepada suaminya. Sebagai tambahan modal toko gerabah yang telah dimilikinya.

Sementara KH Ahmad Dahlan, lebih banyak menggunakan modal itu untuk membeli kitab-kitab penting. Baginya, perdagangan hanyalah sarana untuk menopang hidup, bukan tujuan prinsipil. Dengan kemajuan teknologi kereta api di masa kolonial, seorang pedagang seperti Dahlan sangat mungkin menjelajahi pelosok Jawa untuk urusan bisnis sekaligus berdakwah.

Pada masa itu jaringan kereta api di Pulau Jawa sudah berkembang pesat. Jalur Yogyakarta–Surabaya menjadi salah satu rute penting yang menghubungkan pusat-pusat perdagangan dan pendidikan Islam. Sebagai pedagang batik sekaligus pencari ilmu, Ahmad Dahlan memiliki alasan kuat untuk sering bepergian ke berbagai kota. Termasuk Surabaya.

Mobilitasnya semakin tinggi setelah pulang dari haji kedua pada tahun 1905. Sepulang dari Tanah Suci, Ahmad Dahlan aktif dalam berbagai organisasi modern. Ia terlibat dalam Jam’iyatul Khair yang memiliki hubungan erat dengan dunia Islam internasional. Pada tahun 1909 ia bergabung dengan Boedi Oetomo, sementara pada tahun 1913 ia juga aktif di Sarekat Islam.

Keterlibatan dalam berbagai organisasi tersebut membuat ruang geraknya melampaui Yogyakarta. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh dari berbagai daerah dan terlibat dalam pertukaran gagasan yang intens. Surabaya, sebagai salah satu pusat intelektual dan perdagangan terbesar di Jawa Timur, tentu menjadi salah satu tujuan penting dalam jejaring aktivitasnya.

Karena itu, kesaksian KH Mas Mansur memberikan petunjuk berharga bahwa jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya tidak dimulai pada 1916. Sebaliknya, hubungan itu telah terbangun beberapa tahun sebelumnya melalui jaringan ulama, aktivitas perdagangan, dan pergaulan organisasi yang luas.

Tahun 1916 hanyalah menandai fase terintens dalam dakwah Ahmad Dahlan di Surabaya. Sebab, saat itu dia dipercaya sebagai penasehat Sarekat Islam yang diketuai HOS Tjokroaminoto yang berpusat di Surabaya. Tahun 1916 bukan awal kedatangannya ke kota Pahlawan. Ia telah menapakkan kaki di Surabaya jauh sebelum 1915.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu