Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah meluncurkan secara resmi logo Muktamar XIX sekaligus menggelar resepsi Milad ke-61 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di Aula KH Mas Mansyur, Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Kamis (1/10/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung pukul 18.00 hingga 21.00 WIB tersebut dihadiri jajaran pengurus pimpinan pusat, wilayah, hingga daerah. Acara ini sekaligus menandai dimulainya seluruh tahapan pra-muktamar menuju musyawarah tertinggi Pemuda Muhammadiyah yang dijadwalkan berlangsung pada 2–6 Februari 2027 di Kota Surabaya.
Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah mengusung tema besar “Negarawan Muda: Merawat Persatuan, Menggerakkan Indonesia Maju”.
Dalam pidato kebangsaannya, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom., menekankan pentingnya menjaga keteguhan dan independensi kader di tengah perubahan zaman.
Ia menyebut Kokam sebagai representasi kekuatan yang bekerja dalam kesunyian tanpa perlu memamerkan proses perjuangan.
“Cintanya Kokam tidak untuk disebarluaskan ke mana-mana, begitu senyap hingga bisa direalisasikan. Di situlah terdapat prinsip yang tidak bisa digoyahkan. Awal bulan kopi susu, tengah bulan kopi hitam dengan gula, akhir bulan kopi pahit,” ujar Dzulfikar di hadapan ratusan kader.
Ia berseloroh mengenai fase perjuangan kader dari waktu ke waktu melalui filosofi kopi tersebut. Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan kader memiliki dinamika dan tantangan yang harus dihadapi dengan keteguhan.
Dzulfikar juga menekankan pentingnya ketelitian dan kualitas kader dalam menjalankan tugas organisasi.
“Jaringan dan relasi itu bukan yang utama. Tidak cukup menjadi baik, jadi harus teliti,” beber Dzulfikar.
Ia menegaskan kader Pemuda Muhammadiyah harus dibentuk dengan landasan ketaqwaan yang kuat.
“Dia harus tumbuh berdasar entitas dan kualitas yang mumpuni, serta menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya untuk negara bangsa,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dzulfikar menguraikan akar historis pemilihan tanggal 1 Oktober yang bertepatan dengan momentum penyelamatan Jenderal A.H. Nasution dalam peristiwa G30S/PKI pada 1965. Momentum tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah yang melandasi pendirian Kokam di Jalan Limau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia juga menarik preseden sejarah mengenai keteladanan Ki Bagus Hadikusumo bersama Soekarno dan Mohammad Hatta saat bertolak ke Jepang. Dalam kisah tersebut, Ki Bagus disebut secara tegas menolak penuangan sake dari Kaisar Jepang demi menjaga nilai keimanan dan harga diri bangsa.
Dzulfikar mengingatkan seluruh anggota bahwa jaringan dan relasi politik bukanlah modal utama dalam membesarkan organisasi. Menurutnya, kader perlu memiliki kualitas, ketelitian, keteguhan nilai, serta landasan ketaqwaan dalam menjalankan amanah.
Sementara itu, identitas visual Muktamar XIX yang diluncurkan malam itu memuat sejumlah makna filosofis. Tampilan logo menonjolkan Tugu Pahlawan Surabaya yang dikelilingi sembilan kobaran api.
Struktur sembilan kobaran api tersebut terbentuk dari integrasi delapan penjuru Nusantara yang berhimpun pada satu titik pusat di Surabaya. Elemen tersebut melambangkan pembaruan (tajdid), pencerahan, serta tekad bulat para pemuda untuk menyatu dalam menggerakkan Indonesia maju.





0 Tanggapan
Empty Comments