Suasana berbeda tampak di SD Muhammadiyah Manyar selama tiga hari pelaksanaan Student Laboratory Conference (SLC), Senin-Rabu (8–10/06/2026).
Di saat banyak sekolah tengah melaksanakan Sumatif Akhir Tahun (SAT), SD Muhammadiyah Manyar yang beralamat di Jalan Amuntai No. 1 GKB justru menghadirkan panggung bagi para siswa untuk menunjukkan hasil belajar terbaik mereka melalui presentasi, proyek, dan karya nyata.
SLC menjadi bentuk asesmen akhir tahun yang menempatkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. Setiap siswa diberi kesempatan memilih satu mata pelajaran yang paling mereka kuasai untuk dipresentasikan di hadapan orang tua.
Sementara itu, seluruh mata pelajaran tetap menghasilkan proyek atau produk sebagai bukti proses belajar yang telah dilalui selama satu tahun ajaran.
Latih Keterampilan Abad ke-21
Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kepercayaan diri, dan keberanian menyampaikan ide di depan publik.
Selama kurang lebih 15 menit, orang tua hadir mendampingi putra-putrinya dalam setiap sesi presentasi. Mereka menyimak pemaparan siswa, memberikan pertanyaan, sekaligus menyampaikan apresiasi dan umpan balik.
Menariknya, siswa lain yang tidak sedang tampil juga turut aktif mengajukan pertanyaan kepada temannya sehingga tercipta suasana diskusi yang hidup dan bermakna.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Farid Huwaidi Siswanto, siswa kelas 3 Sakura. Farid memilih mata pelajaran KKA (Koding dan Kecerdasan Artificial) untuk dipresentasikan karena ketertarikannya pada dunia pemrograman sederhana menggunakan aplikasi Scratch.
Dengan penuh percaya diri, Farid mempresentasikan game buatannya yang berjudul “Kelinci Melawan Tank”. Dalam permainan tersebut, karakter kelinci harus menghindari dan mengalahkan tank-tank musuh untuk meraih skor tertinggi.
Farid menjelaskan proses pembuatan game mulai dari menentukan karakter, menyusun alur permainan, hingga membuat perintah-perintah pemrograman menggunakan blok kode di Scratch.
“Aku memilih pelajaran komputer karena suka menggunakan Scratch. Aku suka membuat game sendiri. Game yang aku buat berjudul Kelinci Melawan Tank” ujar Farid di hadapan orang tua dan teman-temannya.
Karya Farid menjadi salah satu bukti bahwa siswa sekolah dasar pun mampu menghasilkan produk digital yang kreatif ketika diberikan ruang untuk bereksplorasi dan mengembangkan minatnya.
Apresiasi Wali Murid
Apresiasi tinggi datang dari Heru Siswanto, ayah Farid, yang hadir langsung menyaksikan presentasi putranya.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan SLC ini. Anak-anak tidak hanya belajar materi pelajaran, tetapi juga belajar berbicara di depan umum, menyampaikan ide, dan mempertanggungjawabkan hasil karyanya. Keterampilan seperti komunikasi, kreativitas, berpikir kritis, dan percaya diri adalah bekal penting yang akan sangat dibutuhkan ketika mereka dewasa nanti” ungkapnya.
Menurut Heru, kegiatan seperti SLC membuat proses belajar menjadi lebih bermakna karena anak memiliki tanggung jawab terhadap karya yang dibuatnya. Mereka belajar berani mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, serta menerima masukan dari orang lain.
Hal senada juga dirasakan oleh para siswa. Mereka mengaku senang karena dapat memilih sendiri materi yang ingin ditampilkan sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing.
Kesempatan tersebut membuat mereka lebih termotivasi untuk menghasilkan karya terbaik dan mempersiapkan presentasi secara maksimal.
Sebagai penutup setiap sesi, siswa dan orang tua mengabadikan momen melalui foto bersama. Potret penuh kebanggaan itu menjadi simbol perjalanan belajar yang telah dilalui dengan penuh usaha, kerja keras, dan semangat.
Melalui Student Laboratory Conference, SD Muhammadiyah Manyar menunjukkan bahwa penilaian akhir tahun tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk ujian tertulis.
Lebih dari sekadar mengukur hasil belajar, SLC menjadi ruang bagi siswa untuk bertumbuh, berani tampil, berpikir mandiri, serta menunjukkan kemampuan terbaiknya kepada orang tua dan lingkungan sekitar.
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak anak mampu menjawab soal, tetapi juga tentang seberapa siap mereka menyampaikan gagasan, berkarya, dan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments