Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pandangan mereka tentang berbagai persoalan yang masih dihadapi. Salah satu isu yang mengemuka adalah dugaan eksploitasi anak untuk mengemis di jalanan.
Pengalaman itu disampaikan Riska Putri, siswi SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, saat mempresentasikan hasil pengamatannya dalam FGD bertajuk “Stop Kekerasan Terhadap Anak! Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Generasi Berkemajuan” yang berlangsung di Gedung Muhammadiyah, Jalan Kertomenanggal, Surabaya, Selasa (14/7/2026).
Di hadapan peserta forum, Riska mengaku masih menjumpai anak-anak yang diajak mengemis di sejumlah ruas jalan. Ia juga menyampaikan adanya dugaan praktik pemberian obat tidur kepada anak agar tetap tenang saat dibawa mengemis. Selain itu, berdasarkan informasi yang ia dengar, terdapat dugaan praktik penyewaan anak untuk kepentingan tersebut.
“Anak-anak seharusnya mendapatkan kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan. Tetapi kenyataannya, masih ada yang justru dijadikan alat untuk mencari uang,” ungkap Riska.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu potret persoalan yang dibahas dalam forum yang diinisiasi PWA Jawa Timur. Melalui kegiatan itu, peserta diberi kesempatan menyampaikan pengalaman, pengamatan, maupun pandangan terkait kondisi anak di lingkungan masing-masing.
Bahas Beragam Persoalan Anak
Selain dugaan eksploitasi anak, FGD juga mengangkat sejumlah isu lain yang dinilai masih menjadi tantangan dalam pemenuhan hak anak. Di antaranya dampak perceraian terhadap kondisi psikologis anak, stunting, depresi akibat tekanan akademik, hingga praktik sunat perempuan.
Pembahasan dibagi ke dalam lima klaster hak anak, meliputi hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan serta pemanfaatan waktu luang dan budaya, serta perlindungan khusus anak.
Kegiatan tersebut dipandu oleh fasilitator Giyo Fikri Haqiqi dari Universitas Airlangga dan Nurulita Ipmawati dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dengan pendekatan partisipatif, peserta diajak menyampaikan pendapat secara terbuka agar suara mereka dapat menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan.
PWA Jawa Timur berharap hasil FGD tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, tetapi dapat menjadi bahan masukan bagi pimpinan di tingkat yang lebih tinggi dalam penyusunan kebijakan perlindungan anak.
Melalui forum tersebut, suara anak diharapkan tidak hanya didengar, tetapi juga menjadi pijakan dalam menghadirkan lingkungan yang lebih aman, ramah, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi setiap anak.





0 Tanggapan
Empty Comments