Suasana haru biru menyelimuti ruang kelas 4-A SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix), Sabtu (20/06/2026).
Isak tangis seketika pecah dari para siswa saat harus melepas guru kelas tercinta yang selama ini sabar membersamai proses belajar mereka.
Momen emosional tersebut terjadi dalam acara perpisahan kelas yang diinisiasi oleh para wali murid kelas 4-A. Agenda ini terlaksana sebagai bentuk apresiasi tinggi dan ungkapan terima kasih yang mendalam atas dedikasi luar biasa sang pendidik.
Acara yang terhadiri oleh jajaran wali murid dan seluruh siswa ini berlangsung khidmat. Namun, ketenangan itu runtuh ketika derasnya emosi rasa kehilangan mulai merayapi ruang kelas.
Ungkapan Terima Kasih dan Permohonan Maaf yang Tulus
Perwakilan wali murid, Mochammad Rizki Rizaldi, ayahanda dari Alesha Kirana Rizaldi, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak sekolah, khususnya kepada guru kelas.
“Kami mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada Ustaz yang telah membimbing, mendidik, dan mengalirkan ilmu kepada anak-anak kami. Dari yang awalnya belum tahu apa-apa, kini menjadi paham banyak hal” ujar Rizaldi tulus sambil menyerahkan cenderamata kenang-kenangan.
Menanggapi apresiasi tersebut, Basirun SPd selaku guru kelas 4-A, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan untaian permohonan maaf di hadapan wali murid.
“Kami secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam proses mendidik selama ini masih terdapat banyak kekurangan, serta belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan Ayah dan Bunda sekalian” tutur Basirun haru.
Ia juga menambahkan rasa terima kasih atas sinergi luar biasa yang terjalin erat antara orang tua dan pihak sekolah.
“Ustaz Tidak Boleh Pergi…”
Pertahanan mental anak-anak kelas 4-A akhirnya runtuh ketika sesi pamitan langsung dimulai. Mereka tidak mampu lagi membendung air mata yang sejak awal ditahan.
“Ustaz tidak boleh pergi…” ucap Jovita Aisha Afareen sambil menangis tersedu-sedu di depan kelas.
Kesedihan Jovita dalam sekejap menular kepada teman-teman sekelasnya. Ruang kelas 4-A pun dipenuhi suara isak tangis. Bahkan, para siswa laki-laki yang biasanya tegar tidak kuasa menahan kucuran air mata.
“Kami tidak mau kehilangan Ustaz” tambah Adhiyastha Wirathama Putra Budiman dengan suara bergetar menahan luapan emosi.
Suasana semakin menyayat hati ketika para siswa menyadari bahwa sosok guru yang sangat mereka sayangi ini akan segera memasuki masa purnatugas. Perasaan kehilangan begitu pekat terasa, seolah-olah kebersamaan indah yang terajut selama ini enggan mereka akhiri.
Ikatan Batin yang Lahir dari Ketulusan
Melihat suasana yang semakin emosional, salah seorang wali murid mencoba mencairkan ketegangan ruang kelas dengan melontarkan kalimat penuh harap yang langsung menghidupkan senyum di wajah hadirin.
“Jangan khawatir, Ustaz. Nanti kami perwakilan wali murid akan meminta langsung kepada Kepala Sekolah agar Ustaz tetap diberikan ruang untuk mengabdi di sini” ujarnya disambut anggukan setuju dan senyum haru dari seluruh ruangan.
Momen perpisahan kelas 4-A ini menjadi bukti otentik bahwa hubungan antara guru dan murid di SD Musix bukan sekadar transformasi materi belajar di ruang kelas.
Lebih dari itu, ada ikatan batin kuat yang tumbuh subur dari ketulusan, kesabaran, dan pancaran kasih sayang seorang pendidik.
Di balik derasnya air mata perpisahan hari itu, tersimpan jutaan doa dan harapan dari orang tua serta murid. Semoga untaian ilmu yang telah ditanamkan oleh sang guru senior menjadi cahaya penerang yang menuntun kesuksesan hidup mereka di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments