Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tantangan Terbesar Dunia Pendidikan Menurut Prof Khoirul Anwar

Iklan Landscape Smamda
Tantangan Terbesar Dunia Pendidikan Menurut Prof Khoirul Anwar
Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Prof Dr Khoirul Anwar MPd dalam paparan di SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu), Kamis (13/8/2026). (Eka Wins/PWMU.CO).
pwmu.co -

Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Prof Dr Khoirul Anwar MPd, mengajak para pendidik untuk membangun budaya sekolah yang bertumbuh.

Antara lain melalui perubahan cara berpikir (growth mindset), kepemimpinan yang memberdayakan, serta kolaborasi seluruh ekosistem sekolah.

Pesan tersebut disampaikannya dalam Upgrading Keprofesian bertajuk “Menyalakan Sekolah Bertumbuh” di hadapan guru dan tenaga kependidikan SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu), Kamis (13/8/2026).

Tantangan Terbesar Pendidikan

Dalam pemaparannya, Prof. Khoirul Anwar menegaskan bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan terletak pada kurangnya teknologi, aplikasi, maupun slogan perubahan.

Menurutnya, akar persoalan justru berada pada pola pikir yang belum mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Kalau cara berpikir tidak berubah, sekolah bisa modern di luar, tetapi tetap tua di dalam. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kepemimpinan, budaya belajar, dan keberanian untuk terus bertumbuh” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menjalankan administrasi pendidikan, melainkan ruang untuk menumbuhkan manusia.

Oleh sebab itu, seluruh kebijakan, pelayanan, hingga proses pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan peserta didik, bukan sekadar pencapaian angka ataupun penyelesaian prosedur.

Prof. Khoirul Anwar juga mengingatkan adanya paradoks pendidikan yang masih sering terjadi. Sekolah menginginkan peserta didik berpikir kritis, namun masih takut terhadap kesalahan.

Guru didorong kreatif, tetapi sering kali masih dibatasi budaya menyalahkan. Padahal, menurutnya, kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

“Kesalahan bukan aib, melainkan data untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sekolah yang bertumbuh tidak mencari siapa yang salah, tetapi mencari sistem apa yang harus diperbaiki” tegasnya.

Dalam sesi kepemimpinan, ia menekankan bahwa pemimpin pendidikan harus bergeser dari budaya mengontrol menuju budaya membina.

Kepala sekolah tidak cukup hanya memastikan sekolah berjalan dengan tertib, tetapi harus mampu melahirkan guru yang terus belajar, berani berinovasi, serta merasa dihargai.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang matang ditandai dengan kemampuan membangun kepercayaan, mendelegasikan tanggung jawab, menjaga arah organisasi, serta menumbuhkan budaya belajar di seluruh warga sekolah.

Bangun Pengalaman Belajar Bermakna

Tak hanya itu, Prof Khoirul Anwar juga mengajak guru membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi menjadi penumbuh potensi, memberikan umpan balik yang membangun, serta menghargai setiap proses belajar siswa.

Menurutnya, perubahan budaya sekolah juga dapat dimulai melalui bahasa yang digunakan sehari-hari. Kalimat yang membangun harapan, menghargai usaha, dan memberikan ruang untuk berkembang akan menciptakan energi positif di dalam kelas.

Sebagai langkah nyata, ia menawarkan strategi perubahan selama 30–60–90 hari, dimulai dari audit budaya sekolah, melakukan eksperimen kecil di kelas maupun layanan administrasi, hingga menjadikan praktik baik sebagai kebiasaan yang terus diulang.

Ia juga membagikan sepuluh kebiasaan kepemimpinan yang dapat langsung dipraktikkan. Seperti memimpin dengan memanusiakan manusia, menciptakan rasa aman untuk belajar, memberikan kepercayaan kepada tim, mengurangi beban yang tidak berdampak, serta menjadikan refleksi sebagai budaya kerja.

Menutup paparannya, Khoirul Anwar mengajak seluruh peserta tidak hanya membawa pulang materi pelatihan, tetapi juga satu keputusan nyata untuk berubah.

“Pulanglah bukan membawa slogan. Pulanglah membawa satu keputusan berani. Masa depan pendidikan tidak hanya dibangun oleh kurikulum, tetapi oleh orang-orang dewasa yang mau terus belajar, terus bertumbuh, dan saling menumbuhkan” pesannya.

Melalui materi tersebut, Prof. Khoirul Anwar berharap setiap sekolah mampu menjadi ekosistem belajar yang sehat, tempat seluruh warga sekolah saling menguatkan.

Sehingga lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, daya juang, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 15/08/2026 09:43
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu