Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) mendorong dosen lebih produktif menghasilkan karya akademik melalui program UMJT Bookpreneur 2026. Program ini dirancang tidak berhenti pada pelatihan menulis, tetapi mengawal karya dosen dari tahap pengembangan ide hingga penerbitan dan distribusi buku.
Program tersebut menjadi salah satu langkah UMJT memperkuat ekosistem akademik setelah transformasi Universitas Muhammadiyah Madiun (Ummad ) menjadi UMJT.
Sebanyak 40 rencana buku dari dosen UMJT telah masuk dalam program perdana UMJT Bookpreneur 2026. Untuk memastikan naskah memiliki standar penerbitan yang baik dan dapat menjangkau pembaca lebih luas, UMJT menggandeng Intrans Publishing, Malang.
Wakil Rektor I UMJT, Dr. Fajar Junaedi, M.Si., mengatakan buku memiliki posisi strategis dalam pengembangan karier akademik dosen sekaligus memperkuat rekam jejak keilmuan perguruan tinggi.
“Buku tidak hanya menjadi bagian dari rekam jejak akademik dosen, tetapi juga mendukung pengembangan karier, perolehan angka kredit, dan reputasi institusi,” ujar Fajar, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, penerbitan buku juga menjadi salah satu cara perguruan tinggi memperluas kontribusi ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Karena itu, UMJT Bookpreneur dirancang sebagai program yang memberikan pendampingan secara utuh kepada dosen.
Dalam kolaborasi tersebut, Intrans Publishing memberikan dukungan pada aspek editorial, proses penerbitan, skema royalti, hingga distribusi melalui jaringan toko buku.
“Kolaborasi ini memberikan peluang bagi dosen UMJT untuk menghasilkan buku yang memenuhi standar penerbitan, memperoleh ISBN, memiliki akses pasar yang lebih luas, serta berpotensi memberikan manfaat royalti,” kata Fajar.
Tiga Tahap hingga Buku Terbit
Komite UMJT Bookpreneur 2026, Malik Ibrahim, M.Sos., menjelaskan program tersebut dilaksanakan melalui tiga tahapan. Tahap pertama berupa sosialisasi dan workshop penulisan buku.
Workshop perdana digelar secara daring, Senin (7/9/2026), dengan menghadirkan editor Intrans Publishing, Janwan Tarigan, sebagai pemateri. Kegiatan diikuti dosen UMJT yang telah mendaftarkan rencana buku untuk diterbitkan melalui program tersebut.
Tahap kedua adalah penulisan naskah secara mandiri selama satu bulan. Pada tahap ini, peserta mengembangkan buku berdasarkan rencana yang telah didaftarkan sekaligus mendapatkan pendampingan dalam proses penulisan.
“Tahap kedua, proses penulisan naskah secara mandiri dilakukan selama satu bulan oleh peserta. Di tahap ini, peserta akan menulis buku sesuai yang didaftarkan dan melakukan proses bimbingan,” ujar Malik.
Tahap terakhir berupa boot camp penulisan buku. Peserta akan mendapatkan pendampingan lebih intensif untuk membahas perkembangan draf, proses editing, kontrak dengan penerbit, hingga produksi dan distribusi naskah yang dinyatakan lolos.
Malik mengatakan program tersebut diharapkan menghasilkan lebih banyak karya akademik yang tidak hanya tersimpan sebagai dokumen ilmiah, tetapi dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat.
Selain meningkatkan produktivitas publikasi dosen, UMJT juga menargetkan program ini berkontribusi terhadap penguatan kinerja SINTA dosen dan universitas.
“Harapan kami output dari program UMJT Bookpreneur 2026 ini dapat meningkatkan skor SINTA untuk dosen dan universitas. Target kami skor SINTA 1.000–1.500,” jelas Malik.
Dengan pendekatan tersebut, UMJT Bookpreneur 2026 diarahkan menjadi bagian dari pembangunan budaya akademik yang menjadikan dosen bukan hanya penghasil penelitian, tetapi juga penulis dan produsen pengetahuan yang dapat menjangkau publik lebih luas. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments