Sebanyak 867 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) resmi mengikuti prosesi Wisuda VIII Umla jenjang Diploma, Sarjana, dan Magister, Sabtu (26/9/2026).
Wisuda tersebut menjadi momentum penting bagi para lulusan setelah menyelesaikan satu tahapan pendidikan sekaligus memasuki fase baru untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Umla.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Dr. Shodikin, M.Pd., yang hadir mewakili Bupati Lamongan, menyampaikan apresiasi atas capaian Umla dalam mengembangkan pendidikan tinggi sekaligus mencetak sumber daya manusia berkualitas di Kabupaten Lamongan.
“Apresiasi atas capaian Umla. Selamat kepada seluruh wisudawan,” ujar Dr. Shodikin dalam sambutannya.
Ia berpesan agar para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik dan memperoleh ijazah. Ilmu yang telah dipelajari selama berada di bangku kuliah harus segera diterapkan dalam kehidupan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Segera mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh dalam dunia nyata,” pesannya.
Menurut Dr. Shodikin, pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun masa depan daerah. Karena itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Kabupaten Lamongan terus dilaksanakan melalui berbagai program prioritas. Pemerintah Kabupaten Lamongan, kata dia, telah menjalankan 15 program prioritas pembangunan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Shodikin menyampaikan pesan khusus mengenai pentingnya pendidikan anak dalam keluarga.
“Anak bukan beban, tetapi anak adalah investasi dunia akhirat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa biaya dan proses panjang dalam mendidik anak hendaknya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pendidikan tidak semata-mata bertujuan memperoleh pekerjaan, tetapi juga membangun karakter, akhlak, kompetensi, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya diukur dari gelar akademik yang diraih, tetapi juga dari sejauh mana ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh mampu membentuk pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Kepada para wisudawan, Dr. Shodikin juga berpesan agar tetap menjaga nama baik almamater setelah kembali ke tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan di UMLA merupakan bagian penting dari sejarah kehidupan para lulusan.
“Jangan lupa pernah kuliah di UMLA. Sejarah mencatat,” ujarnya.
Menurutnya, di mana pun para alumni bekerja dan berkarya, nama almamater akan selalu melekat. Keberhasilan alumni dalam dunia kerja maupun pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari citra dan perjalanan Umla.
“Jaga almamater,” pesannya.
Ia berharap para lulusan mampu menunjukkan bahwa pendidikan yang ditempuh di UMLA telah memberikan bekal untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks dan dinamis.
Wisuda VIII Umla juga menjadi momentum untuk memperkuat cita-cita menuju UMLA Global University.
Perkembangan pendidikan tinggi menuntut perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada kebutuhan lokal, tetapi juga mampu membangun jejaring yang lebih luas, meningkatkan mutu akademik, mengembangkan inovasi, serta menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi untuk berkiprah di lingkungan global.
Umla memiliki posisi strategis dalam ekosistem pendidikan Kabupaten Lamongan. Kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Sebanyak 867 wisudawan yang mengikuti prosesi tersebut bukan sekadar menerima gelar akademik. Mereka membawa tanggung jawab baru untuk mengabdikan ilmu, membangun masyarakat, dan menjaga nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
Lamongan memiliki potensi besar sebagai daerah agraris dan salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Kondisi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan sektor pendidikan, ekonomi, pertanian, teknologi, kesehatan, serta berbagai bidang strategis lainnya.
Karena itu, lulusan Umla diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang, membangun inovasi, membuka lapangan pekerjaan, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Wisuda VIII Umla akhirnya bukan sekadar seremoni akademik. Sebanyak 867 wisudawan memasuki babak baru kehidupan dengan membawa ilmu, pengalaman, dan nama almamater.
Pesan Dr. Shodikin menjadi pengingat bahwa pendidikan yang telah ditempuh hendaknya dibuktikan melalui karya nyata.
“Ilmu jangan hanya disimpan, tetapi implementasikan dalam kehidupan. Dan jangan lupa menjaga almamater,” pesan Dr. Shodikin.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments