Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Adab dan Berhati-Hati dalam Berbisik-Bisik

Iklan Landscape Smamda
Adab dan Berhati-Hati dalam Berbisik-Bisik
Adab dan Berhati-Hati dalam Berbisik-Bisik
Oleh : Muhsin MK Pegiat Sosial – Masjid Al Badi Depok Timur

Manusia diberikan kelengkapan cukup oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Salah satunya organ mulut. Organ ini dapat digunakan untuk berbicara. Mulut itu juga dapat digunakan untuk bersuara kencang dan keras. Orang pun bisa berteriak sekeras- kerasnya. Namun bisa juga bersuara lembut dan halus sekali. Hingga suaranya tak terdengar oleh orang lain. Termasuk saat orang tersebut sedang berbisik-bisik dengan sesamanya.

Ada saatnya manusia berbicara keras-keras dan bersuara lantang. Saat sang komandan pasukan merapihkan barisan tidaklah mungkin gunakan suara perlahan-lahan apalagi dengan berbisik- bisik. Begitu juga seorang muadzin pada saat mengumandangkan adzan. Suaranya pun akan dikeraskannya. Apalagi pada zaman sebelum ada sound sistem atau pengeras suara di masjid dan mushalla-mushalla.

Mengeraskan Suara dan Berbisik-Bisik

Seorang imam shalat berjamaah diperintahkan mengeraskan suaranya saat bertakbir. Selain itu saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, bahkan dengan suara indah dan tartil.”. (QS. Muzammil :4). Untuk bacaan Al-Qur’an dibaca dengan suara keras khusus pada shalat Magrib, Isyak, Subuh dan Jum’at. Adapun yang perlahan-lahan pada shalat berjamaah Dzuhur dan Ashar.

Ketentuan itu dijelaskan pula dalam suatu hadits, “Dalam setiap shalat (jamaah) beliau membaca, apa yang beliau perdengarkan kepada kami (baca keras) maka kami perdengarkan kepada kalian (baca keras juga), apa yang beliau sembunyikan kepada kami (baca pelan) maka kami sembunyi kan juga kepada kalian (baca pelan juga)”. (HR.. Bukhari no. 738 dan Muslim no. 396).

Pada shalat Dzuhur dan Ashar kecuali bertakbir, bacaan Al-Qur’an, dzikir dan doa dibaca dengan perlahan-lahan. Seperti orang sedang berbisik- bisik. Dengan demikian berbicara dengan cara berbisik-bisik diperbolehkan. Seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam saat berada dalam gua Tsur bersama Abu Bakar Siddiq Radhiyallahu ‘anhu.

Ketika itu mereka sedang dikejar oleh orang kafir Quraisy dan sudah berada di dekat gua tersebut.  Orang itu memeriksanya. Abu Bakar Radyallahu ‘anhu merasa gelisah hatinya. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membisikkannya, ” Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”, Maka Allah menurunkan ketenangan (kepadanya).’. (QS. At Taubah:40).

Adab Berbisik-bisik

Dengan demikian berbisik-bisik tidaklah dilarang. Hanya saja berhati-hati dan ada pengecualian. Di perhatikan pula tentang adab-adabnya. Beberapa adab pada saat berbisik-bisik adalah sebagai berikut:

Pertama, berbisik-bisik saat berdoa dan berdzikir pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika do’a dan dzikir dibaca hendaknya dilakukan tidak dengan mengeraskan suara. (QS.Al ‘Araf :55, 255). Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam jmenyampaikan hal yang hampir sama dalam sabdanya,

“Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabb nya (Allah). Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihal-jami).

Pernah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur para sahabat yang bersuara keras saat berdzikir. Disebutkan dalam hadits dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghaib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan- Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Kedua, berbisik-bisik bicarakan kebaikan bukan keburukan. Berbisik-bisik diperkenankan saat berbicara dengan siapa saja sepanjang tidak membicarakan hal-hal yang buruk, kotor, maksiat, caci-maki, fitnah, hasud, namimah, perbuatan dosa, permusuhan dan lain-lain. (QS. Al Mujadilah: 9).

SMPM 5 Pucang SBY

Menyebarkan isu, kabar bohong (hoax), berita miring, ghibah dan fitnah di zaman dahulu, saat belum ada Medsos dilakukan secara berbisik- bisik dari satu orang ke orang lain. Akhirnya isu menyebar luas dalam masyarakat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengalami secara pribadi dan istrinya sehingga fitnah pada Aisyah Radhiyallahu ‘anha menyebar dalam masyarakat kota Madinah. (QS. An Nuur:11).

Orang-orang fasik yang biasa suka berbisik-bisik menyebarkan fitnah dan hoax karena sifat-sifat dan karakteristik mereka yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an. (QS. Al Hujurat:6). Pembicaraan rahasia diantaranya dengan cara berbisik-bisik biasa dilakukan oleh orang-orang munafik berkaitan dengan permusuhannya pada orang-orang mukmin. (QS. Al Mujadilah:8,10).

Ketiga, berbisik-bisik yang diperbolehkan dalam mengajak kepada kebaikan. Sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisa’:114).

Keempat, tidak berbisik-bisik di hadapan orang lain. Apalagi pada saat berkumpul pada sesama manusia. Sebaiknya dihindari berbicara dengan berbisik-bisik pada siapapun agar tidak terjadi ketidak senangan dan ketersinggungan orang lain yang berada didekatnya. Bicaralah biasa saja tak perlu berbisik-bisik. Ini agar orang lain yang tidak diajak bicara sedih, tersinggung dan merasa sakit hatinya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang diantara kalian berbisik-bisik tanpa mengajak serta yang lainnya, sampai kalian berbaur dengan manusia (banyak orang). Karena hal tersebut akan membuatnya sedih.” (HR. Bukhari no 6290 dan Muslim no 2184).

Kelima, hati-hati berbisik-bisik seperti syetan yang membuat orang was-was, bimbang dan ragu beramal ibadah, memperjuangkan kebenaran dan berbuat kebajikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjadikan syetan sebagai makhluk yang berdosa. Diantara aktivitasnya adalah membisik- bisikkan keburukan dan perbuatan dosa kepada manusia. Bisikannya itu yang membuat manusia wawas dalam dirinya dan menimbulkan keraguan di hatinya. (QS. An Naas:1-6, Al Mujadilah:10).

Di antara manusia ada juga suka mempengaruhi orang lain dengan bisik-bisikan sorga dan bujuk rayu manis. Seperti syetan membujuk Adam dan Hawa sehingga dikeluarkan dari dalam surga ke bumi setelah memakan buah larangan. (QS. Al Baqarah:35-36).

Padahal orang itu hendak menghasut, menipu, memfitnah, menjerumuskan dan mengadu domba (namimah) pada sesama manusia. Hal ini diingatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman Nya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menebar hasutan (namimah).” (QS. Al Qalam:10-11).

Keenam, tidak berbisik-bisik menyampaikan info rahasia.  Seharusnya rahasia itu disimpan dan ditutupi tidak untuk diceritakan kepada orang lain. Sekalipun dengan cara berbisik-bisik. Hal inilah yang pernah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Apalagi dilakukan oleh istrinya sendiri. Beliau lalu menegur istrinya, Hafshah, yang telah menyampaikan info rahasia beliau kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha.  (QS. An- Nuur:3). (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 24/05/2026 21:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡