Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, memperkuat budaya adab di lingkungan pendidikan dengan merilis 15 poin Etika Belajar Siswa yang wajib diterapkan di setiap ruang kelas.
Kebijakan tersebut bertujuan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tertib, bersih, disiplin, dan penuh keberkahan sejak awal hingga akhir pembelajaran.
Etika belajar tersebut merupakan hasil rapat Tim Kurikulum Unggulan yang melibatkan Ketua STIQSI Lamongan, Kepala Madrasah Aliyah Al-Ishlah, Kepala MDTW Al-Ishlah, Kepala SMP Muhammadiyah Al-Ishlah, Staf Pengasuhan, beserta jajaran masing-masing pada Senin (22/6/2026). Hasil keputusan kemudian dirilis di seluruh lembaga pendidikan Al-Ishlah pada Senin (29/6/2026).
Wakil Staf Pengasuhan Santri Al-Ishlah, Muhammad Iqbal, Lc., menegaskan bahwa penerapan etika belajar tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga mencakup kesiapan guru serta kondisi ruang kelas.
“Etika ini tidak hanya menyasar siswa, tapi juga guru dan kondisi kelas. Salah satu poin tegasnya: guru tidak akan memulai pelajaran apabila kelas dalam kondisi kotor,” tandas Muhammad Iqbal Lc, Wakil Staf Pengasuhan Santri Al-Ishlah.
Ia menjelaskan bahwa kebersihan kelas menjadi bagian dari pembentukan karakter disiplin para santri.
“Ruang kelas harus bersih dan rapi selama jam pelajaran. Meja dan kursi guru sudah tertata rapi sebelum guru datang. Papan tulis dibersihkan setiap pergantian pelajaran, demikian bunyi aturan tersebut,” imbuh alumnus Universitas Islam Madinah tahun 2016 ini.
Penerapan etika belajar dibagi menjadi tiga tahapan, yakni sebelum pembelajaran, saat kegiatan belajar berlangsung, dan setelah pelajaran selesai.
Sebelum KBM dimulai, seluruh siswa diwajibkan hadir tepat waktu dan menunggu guru di dalam kelas. Mereka tidak diperkenankan berada di luar kelas meskipun guru belum hadir.
Kegiatan belajar pada jam pertama diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Ketika guru memasuki kelas, siswa wajib segera duduk dengan tertib, menghentikan percakapan, serta menghadap ke depan.
Setiap mata pelajaran diawali dengan membaca basmalah yang dipimpin guru.
Selain itu, siswa dibiasakan menerapkan adab ketika meminta izin.
“Tidak masuk kelas sebelum diizinkan masuk. Mengangkat tangan sambil tetap duduk saat minta izin keluar,” tulis aturan itu.
Untuk menjaga konsentrasi belajar, siswa juga dilarang melakukan aktivitas yang dapat mengganggu suasana kelas, seperti mengobrol, bergurau, bermain, bercermin, maupun makan dan minum selama pembelajaran berlangsung.
Seluruh buku tulis juga diwajibkan menggunakan sampul yang rapi serta tidak memuat gambar yang tidak pantas.
Pada setiap akhir jam pelajaran, siswa bersama guru membaca hamdalah.
Selanjutnya, para siswa mengucapkan terima kasih serta mendoakan guru dengan menyebut nama guru yang mengajar pada saat itu.
Kegiatan belajar mengajar pada jam terakhir kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh guru.
Melalui penerapan 15 etika belajar tersebut, Pondok Pesantren Al-Ishlah berharap peserta didik tidak hanya berkembang dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki karakter, kedisiplinan, dan adab yang kuat.
Bagi Al-Ishlah, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan juga dari akhlak yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan.





0 Tanggapan
Empty Comments