Selain pada 1890, KH Ahmad Dahlan menunaikan haji pada 1903. Di haji periode kedua ini lebih banyak dikenang sebagai masa ketika pendiri Muhammadiyah itu bermukim selama dua tahun di Mekkah. Tentu saja untuk memperdalam ilmu agama.
Namun, sebuah arsip surat kabar Belanda mengungkap fakta menarik yang jarang disinggung dalam literatur sejarah. Ternyata, selama berada di Timur Tengah, KH Ahmad Dahlan diduga tidak hanya menetap di Mekkah. Ia juga melakukan perjalanan ke sejumlah negeri Islam lainnya demi memperluas wawasan keislamannya.
Informasi tersebut terekam dalam surat kabar De Expres edisi 6 April 1912. De Expres sendiri adalah surat kabar berpengaruh yang beraliran nasionalis. Surat kabar ini didirikan oleh Douwes Dekker bersama Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada 1 Maret 1912.
Berbagai literatur menyebutkan perjalanan tahun 1903 merupakan ibadah haji kedua bagi KH Ahmad Dahlan. Berbeda dengan keberangkatan pertamanya pada 1890 yang dilakukan seorang diri, kali ini ia ditemani putranya, Siradj Dahlan yang berusia 12 tahun.
Disebutkan pula bahwa setelah menunaikan ibadah haji, Ahmad Dahlan menetap di Mekkah selama kurang lebih dua tahun. Di kota suci itu, ia memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Mempelajari kitab-kitab klasik, serta berguru kepada sejumlah ulama yang menjadi rujukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.
Masa belajar inilah yang kemudian diyakini menjadi salah satu fondasi lahirnya gagasan pembaruan Islam. Yang kelak diwujudkan melalui Persyarikatan Muhammadiyah.
Namun, arsip kolonial memperlihatkan bahwa kisah perjalanan intelektual Ahmad Dahlan ternyata lebih luas daripada yang selama ini dikenal. Dalam laporannya, De Expres lebih dahulu menjelaskan bahwa Ahmad Dahlan pernah menjadi anggota Priesterraad atau Raad Agama di Yogyakarta.
“Vroeger was hij nog lid van den priesterraad, maar moest hij ontslag nemen omdat hij naar Mekka was gegaan en daar te lang, twee jaren, was gebleven,” tulis surat kabar itu.
Jika diterjemahkan bebas, berarti: “Dahulu ia juga pernah menjadi anggota Raad Agama (Priesterraad), tetapi harus mengundurkan diri karena pergi ke Mekkah dan tinggal di sana terlalu lama, yakni selama dua tahun.”
Keterangan ini sejalan dengan sejumlah sumber sejarah. Yang menyebut Ahmad Dahlan memang pernah menjadi anggota lembaga keagamaan Kesultanan Yogyakarta. Sebelum akhirnya meninggalkan jabatannya karena menetap cukup lama di luar negeri.
Namun, yang paling menarik justru muncul pada kalimat berikutnya. De Expres kemudian menambahkan informasi yang sangat penting mengenai perjalanan KH Ahmad Dahlan.
“Hij is ook nog naar andere Mohammedaausche landen geweest in ‘t belang van zijn godsdienst-studie,” lanjut De Expres.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti: “Ia juga pergi ke negeri-negeri Islam lainnya untuk kepentingan studi agama.”
Tulisan serupa kemudian dikutip setidaknya oleh dua surat kabar. Yaitu Nieuwe Rotterdamsche Courant edisi 1 Mei 1912 serta Het Vaderland edisi 7 Mei 1912. Isinya persis dengan apa yang ditulis De Expres yang menyinggung tentang KH Ahmad Dahlan.
Keterangan singkat itu membuka perspektif baru tentang pengembaraan intelektual KH Ahmad Dahlan. Selama dua tahun berada di luar Nusantara, ia tampaknya tidak hanya tinggal di Mekkah. Tetapi juga melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah Islam lain untuk memperdalam pengetahuan keagamaannya. Sayangnya, surat kabar tersebut tidak menjelaskan negara mana saja yang dikunjungi maupun siapa ulama yang menjadi tempat belajarnya.
Meski hanya terdiri atas satu kalimat, informasi dari De Expres memiliki arti penting dalam penulisan sejarah Muhammadiyah. Maklum, selama ini pembahasan mengenai perjalanan intelektual KH Ahmad Dahlan lebih banyak berfokus pada aktivitasnya di Mekkah.
Padahal, jika laporan surat kabar zaman Hindia Belanda itu akurat, maka pengalaman belajar Ahmad Dahlan sesungguhnya berlangsung dalam ruang yang lebih luas. Meski isinya pun bisa diperdebatkan. Maklum saja, saat menyebut Ahmad Dahlan saja, ketiga surat kabar ini sudah tidak akurat. Disebutkan nama Dahlan adalah Moehamad Dahlan, bukan Ahmad Dahlan.
Pada awal abad ke-20, para penuntut ilmu dari Nusantara memang lazim berpindah dari satu pusat keilmuan Islam ke pusat lainnya. Selain Mekkah dan Madinah, sejumlah kota di dunia Islam menjadi tempat bertemunya ulama dari berbagai negara. Juga tempat berkembangnya gagasan-gagasan pembaruan Islam. Di antaranya adalah Kairo Mesir, Baghdad Irak, Istambul Turki, dan lain-lain.
Dengan mengunjungi berbagai negeri Islam, Ahmad Dahlan kemungkinan memperoleh pengalaman yang lebih beragam. Ia tidak hanya mempelajari kitab-kitab keagamaan. Tapi juga menyaksikan secara langsung dinamika pendidikan Islam, metode dakwah, hingga gerakan pembaruan yang sedang berkembang di berbagai kawasan.
Pengalaman internasional semacam itu dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk cara berpikir Ahmad Dahlan ketika kembali ke Yogyakarta.
Sekembalinya ke tanah air, aktivitas dakwah KH Ahmad Dahlan semakin intensif. Ia mulai memperkenalkan metode pengajian yang lebih sistematis. Mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus mendorong pembaruan dalam pendidikan Islam.
Puncak dari perjalanan panjang itu adalah berdirinya Muhammadiyah pada 18 November 1912. Sebuah organisasi yang kemudian berkembang menjadi salah satu gerakan Islam terbesar di Indonesia.
Karena itu, arsip De Expres memberikan potongan puzzle yang penting dalam memahami proses pembentukan pemikiran pendiri Muhammadiyah. Meski singkat, catatan itu menunjukkan bahwa perjalanan intelektual KH Ahmad Dahlan tidak berhenti di Mekkah. Ia juga menjelajahi negeri-negeri Islam lain sebagai bagian dari pencarian ilmu.
Temuan ini sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan. Jika arsip-arsip lain dari Belanda maupun Timur Tengah berhasil ditemukan, bukan tidak mungkin jejak perjalanan KH Ahmad Dahlan selama 1903–1905 dapat direkonstruksi dengan lebih utuh. Sehingga sejarah pengembaraan intelektual pendiri Muhammadiyah akan semakin kaya dan semakin mendekati gambaran yang sebenarnya.





0 Tanggapan
Empty Comments