Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sukoharjo menggelar pembukaan Baret Merah XXVI di Gedung Dakwah Muhammadiyah PCM Sawit, Boyolali pada Jumat (10/7/2026). Kegiatan bertema “Dialectic of Renaissance” ini diikuti oleh 43 peserta sebagai bagian dari proses pengkaderan IMM.
Ketua Panitia, Immawan Dwi Kurniadi, menyampaikan bahwa Baret Merah XXVI menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan kapasitas intelektual, spiritual, dan kepemimpinan. Ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh kesungguhan.
Menurutnya, tema “Dialectic of Renaissance” dipilih untuk mengingatkan kader IMM agar tidak hanya memandang kejayaan peradaban Islam sebagai romantisme sejarah, tetapi juga menjadikannya motivasi untuk membangkitkan kembali tradisi keilmuan dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Ketua PC IMM Sukoharjo, Immawan Azhar Ardiansyah Al Aziz, mengajak seluruh kader untuk memiliki keberanian berpikir dan percaya pada kemampuan diri.
“Jangan merasa kecil, jangan merasa rendah pemikiran. Melalui tema ini, kita ingin menghadirkan kembali semangat umat Islam sebagaimana pada masa kejayaan Islam,” pesannya.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PCM Sawit Boyolali, H. Wardoyo, S.Ag. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa cita-cita besar perlu disertai dengan ikhtiar dan pengorbanan.
“Cita-cita perlu didukung oleh laku. Ketika ingin sukses, kita harus berkorban. Jangan tinggalkan salat malam agar Allah menuntun arah jalan kehidupan kita,” tuturnya.
Setelah pembukaan, peserta mengikuti stadium general bertajuk “Dialektika Kebangkitan Peradaban: Membangun Renaissance Intelektual Kader IMM” yang disampaikan oleh Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
Dalam materinya, Dr. Hamdan menjelaskan bahwa renaissance dimaknai sebagai kebangkitan tradisi intelektual yang diawali dengan mengoptimalkan fungsi akal. Ia menguraikan tahapan pengembangan akal, yaitu tilawah, refleksi, tafakkur atau tadabbur, dan muhasabah.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan generasi muda saat ini, antara lain rendahnya minat membaca bacaan panjang, ilusi pengetahuan karena merasa tahu tanpa memahami secara mendalam, aktivisme tanpa dasar keilmuan, serta pragmatisme yang berorientasi pada hasil instan.
Selain itu, Dr. Hamdan menjelaskan konsep dialektika Hegel yang terdiri atas tesis, antitesis, dan sintesis. Menurutnya, kemajuan dapat lahir dari keberanian mengolah perbedaan gagasan secara kritis dan bertanggung jawab. Ia mencontohkan bahwa kejayaan sains Islam pada masa lalu berkembang karena para ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan ilmu dari peradaban lain, tetapi juga mengkritisi, mengembangkan, dan melahirkan teori-teori baru.
Sebagai penutup, Dr. Hamdan menegaskan bahwa kebangkitan peradaban memerlukan kesadaran kritis, tradisi ilmu, dan keberanian melakukan transformasi.
“Renaissance tidak lahir dari kader yang malas berpikir. Ia lahir dari mereka yang gelisah, membaca, mengkritik, dan bergerak,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan Baret Merah XXVI, PC IMM Sukoharjo berharap proses pengkaderan ini dapat melahirkan kader yang aktif dalam organisasi, memiliki tradisi intelektual yang kuat, berjiwa kritis, serta siap memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments