Hari ini kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim berlokasi di Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Sebelumnya lagi, ia pernah berlokasi di Kapasan, Surabaya. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum menempati dua lokasi itu, kantor PWM Jatim pernah berada di Peneleh.
Kawasan Kapasan, tepatnya di Perguruan Muhammadiyah Kapasan, Jalan Kapasan Nomor 73–75 Surabaya, memang masih banyak yang mengingatnya. Tapi untuk kawasan Peneleh, tidak banyak yang mengingatnya. Sebab, lokasi ini dipakai sebagai kantor pada tahun sebelum 1965.
Nama Peneleh itu berulang kali saya dapatkan dari kesaksian para tokoh dan keluarga pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur era awal. Pada tahun 2010 hingga 2011, saya mendapat tugas untuk menelusuri biografi singkat beberapa tokoh awal Muhammadiyah. Di antaranya Ketua PWM Jatim 1959-1965 HM. Saleh Ibrahim, Ketua PWM Jatim 1965-1968 H. Oeman Muttaqien, saksi perintis Muhammadiyah di Surabaya Wisatmo, dan beberapa tokoh lainnya.
Saat bertemu dengan ahli waris maupun “anak ideologis”, kawasan Peneleh selalu disebut sebagai pusat aktivitas organisasi. Pada masa itu, batas antara kantor organisasi dan rumah para pimpinan memang tidak setegas sekarang. Rumah ketua maupun sekretaris sering kali berfungsi sebagai tempat menerima tamu, menggelar rapat, hingga menjalankan administrasi organisasi. Namun, mereka masih tetap punya bangunan sebagai kantor organisasi secara resmi.
Kesaksian menarik datang dari H Oriyanto (2011), putra almarhum H. Oesman Muttaqien. Ia mengenang rapat Muhammadiyah biasanya diselenggarakan di tiga tempat selain rumahnya di Jl. Mendut. Yaitu Gedung PTDI Gentengkali, kantor PWM di Jalan Peneleh, atau juga PAY Gersikan.
Salah satu ingatan Oriyanto yang melekat adalah suara sepeda motor milik H Wisatmo. Kedatangan tokoh ini selalu ditandai dengan suara sepeda motornya yang sejak jarak lumayan jauh sudah terdengar. Maklum saja, ketika semua koleganya masih mengandalkan becak dan delman sebagai sarana transportasi, Wisatmo telah punya sepeda motor Radex Express produksi Jerman Timur.
Hal senada juga pernah disampaikan almarhum Moeslimin (2010). Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut Peneleh sebagai kantor PWM Jawa Timur. Namun, selama bertahun-tahun belum diketahui secara pasti di mana lokasi kantor tersebut.
Jawaban atas teka-teki itu akhirnya saya peroleh melalui penuturan almarhum Abdul Latief Malik, Sekretaris PWM Jatim periode 1965–1968. Dalam sebuah pertemuan di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya pada 2011, ia menjelaskan lokasi tepat kantor Muhammadiyah Jatim saat itu. Ketika menyebut alamatnya, saya sampai dua kali mengulanginya untuk menyakinkan saya sendiri. Keluarlah 2 kali jawaban yang sama: Peneleh Nomor 104.
Keterangan Abdul Latief Malik menjadi informasi penting dalam pelacakan sejarah Muhammadiyah Jawa Timur. Data itulah yang kemudian saya cantumkan dalam buku Siapa dan SiApa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur Seri II, khususnya saat menulis biografi singkat H. Oesman Muttaqien.
Perjalanan kantor Muhammadiyah Jawa Timur kemudian memasuki babak baru pada masa kepemimpinan H. Oesman Muttaqien. Saat itu organisasi tingkat provinsi masih menggunakan nama Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PMW) Jawa Timur. Pada periode inilah kantor Muhammadiyah dipindahkan ke kawasan Kapasan. Tepatnya di kompleks yang kini dikenal sebagai Perguruan Muhammadiyah Kapasan, Jalan Kapasan Nomor 73–75 Surabaya.
Perpindahan tersebut tidak terlepas dari dinamika politik nasional pada 1965-1966. Setelah terjadinya pemberantasan Partai Komunis Indonesia (PKI), Muhammadiyah termasuk organisasi yang ikut terlibat aktif. Sebagai konsekuensinya, Muhammadiyah memperoleh hibah berupa bangunan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kapasan itu.
Bangunan itu memiliki sejarah panjang. Pada masa kolonial Belanda, ia adalah sekolah milik komunitas Tionghoa bernama Chung Hwa Chung Hwee (CHCH). Setelah beralih menjadi aset Muhammadiyah, kompleks tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Muhammadiyah di Surabaya. Sekaligus pernah menjadi kantor organisasi Muhammadiyah tingkat Provinsi Jawa Timur untuk bertahun-tahun lamanya.
Selama bertahun-tahun, Kapasan menjadi saksi berbagai keputusan penting Muhammadiyah Jawa Timur. Dari lokasi inilah berbagai kebijakan dakwah, pendidikan, kesehatan, maupun gerakan sosial dirumuskan dan disebarluaskan ke seluruh daerah di Jawa Timur.
Seiring semakin berkembangnya Muhammadiyah, kantor di Kapasan akhirnya dirasa kurang representatif. Karena itu, pada 1997 PWM Jawa Timur membeli bangunan di Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Lokasi itulah yang hingga kini menjadi kantor resmi PWM Jawa Timur sekaligus pusat koordinasi berbagai program organisasi di tingkat provinsi.
Perjalanan perpindahan kantor tersebut sejatinya juga sejalan dengan perkembangan struktur organisasi Muhammadiyah di Jawa Timur. Struktur Muhammadiyah tingkat provinsi mulai terbentuk pada 1951 dengan nama Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Tokoh pertama yang memimpin organisasi tingkat provinsi adalah KH Abdulhadi. Salah satu kiprahnya yang masih dikenang ialah prakarsa mengubah nama Jalan Genteng Scout menjadi Jalan Genteng Muhammadiyah. KH Abdulhadi memimpin Muhammadiyah Jawa Timur selama tiga periode, yakni 1950–1953, 1953–1956, dan 1956–1959.
Setelah itu estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh HM. Saleh Ibrahim pada periode 1959–1962 dan 1962-1965, kemudian H. Oesman Muttaqien pada 1965–1968. Kepemimpinan berikutnya dipegang KH M. Anwar Zain yang memimpin cukup lama. Yakni sejak 1968 hingga 1990. Tepatnya untuk periode 1968-1971, 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985, serta 1985-1990.
Setahun sebelum periode terakhir, KH M. Anwar Zain wafat. Digantikanlah oleh KH Abdurrahim Nur selama setahun. KH Abdurrahim Nur sendiri kemudian dipercaya sebagai Ketua PWM Jatim selama dua periode berikutnya: 1990-1995 dan 1995-2000.
Memasuki era reformasi, kepemimpinan PWM Jawa Timur silih berganti diemban oleh Prof. Fasich (2000–2005), Prof. Syafiq A. Mughni (2005–2010), Prof. Thohir Luth (2010–2015), Dr. M. Saad Ibrahim (2015–2022), hingga kini dipimpin Prof. Sukadiono.
Menelusuri sejarah kantor PWM Jatim adalah merawat ingatan kolektif. Bahwa organisasi besar yang kini memiliki ribuan amal usaha itu tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang menjadi saksi lahirnya berbagai keputusan bersejarah. Sebelum di Kertomenanggal sekarang, ia pernah puluhan tahun di Kapasan. Dan, lebih tua lagi berada di Peneleh.





0 Tanggapan
Empty Comments