Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Catatan Indah dari Masjid Nabawi: Menyaksikan Tertibnya Sistem Ziarah Raudhah

Iklan Landscape Smamda
Catatan Indah dari Masjid Nabawi: Menyaksikan Tertibnya Sistem Ziarah Raudhah
Farid Wajdy (kanan) bersama jamaah asal Pakistan di masjid Nabawi Madinah. (Istimewa/PWMU.CO).
Oleh : Taufiqur Rohman

Pukul 11.37 waktu Kota Madinatul Munawwarah menjadi momen penuh ketenangan dan keberkahan bagi para tamu Allah yang sedang berada di Masjid Nabawi, Senin (15/06/2026).

Di antara ribuan jamaah yang memadati masjid mulia tersebut, tampak Farid Wajdy, Ketua Majelis Tabligh PCM Kota Banyuwangi bersama salah satu jamaah asal Lahore, Pakistan, Ali Shulton.

Keduanya duduk khusyuk menanti datangnya waktu shalat Dhuhur sekaligus mempersiapkan diri menuju tempat yang sangat dirindukan umat Islam, Raudhah Asy-Syarifah.

Ragam Bangsa, Satu Tujuan

Suasana Masjid Nabawi siang itu menghadirkan pemandangan yang menggetarkan hati.

Berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang berpadu dalam satu tujuan yang sama, yakni beribadah, bershalawat, dan mencari keberkahan di tempat yang disebut oleh Rasulullah sebagai salah satu taman dari taman-taman surga.

Di tengah tingginya antusiasme jamaah untuk memasuki Raudhah, penerapan sistem digital melalui aplikasi Nusuk menjadi bagian penting dalam mengatur alur kunjungan para peziarah.

Sistem tersebut memberikan jadwal, kelompok, dan porsi masuk Raudhah secara teratur sehingga jamaah dapat menjalankan ibadah dengan tertib, nyaman, dan penuh penghormatan.

“Pengaturan masuk Raudhah saat ini menunjukkan sebuah manajemen pelayanan jamaah yang sangat rapi. Dengan sistem aplikasi Nusuk dan pembagian berdasarkan kloter, jamaah diarahkan secara disiplin sehingga setiap orang mendapatkan kesempatan untuk berziarah tanpa saling berebut” ungkap Farid.

Menurutnya, ketertiban yang terlihat di lapangan menjadi gambaran bagaimana pelayanan terhadap para tamu Allah terus mengalami perkembangan.

SMPM 5 Pucang SBY

Tak Ada yang Dizalimi

Ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia dapat menikmati kesempatan memasuki Raudhah secara bergiliran dengan suasana yang lebih kondusif.

“Yang paling mengesankan adalah semua peziarah terlayani dengan baik. Tidak ada yang merasa dizalimi atau kehilangan haknya. Semua mendapatkan kesempatan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Inilah bentuk keadilan dalam pelayanan ibadah” ulasnya.

Kehadiran jamaah dari Lahore Pakistan bersama jamaah dari berbagai negara juga menjadi pelajaran berharga tentang persaudaraan umat Islam. Di bawah naungan masjid Nabawi, perbedaan bangsa dan bahasa melebur menjadi satu ikatan iman.

Raudhah bukan sekadar ruang fisik yang menjadi tujuan kunjungan, tetapi sebuah tempat yang mengingatkan manusia kepada perjuangan Rasulullah, kelembutan akhlaknya, serta kasih sayangnya kepada umat.

Setiap langkah menuju Raudhah membawa pesan bahwa ibadah bukan hanya tentang mencapai tempat yang mulia, tetapi juga tentang menghadirkan hati yang tunduk dan penuh cinta kepada Allah dan rasul-Nya.

Senin siang di Madinah itu menjadi catatan indah perjalanan ruhani, menunggu Dhuhur di rumah rasulullah bersiap menuju Raudhah dengan tertib.

Menyaksikan bagaimana jutaan kerinduan umat Islam dikelola dalam sebuah sistem yang menghadirkan kenyamanan, kedisiplinan, serta penghormatan kepada seluruh tamu Allah.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 17/06/2026 21:49
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu