Kebijakan Bupati Jember memberlakukan pembelajaran daring menjadi salah satu langkah untuk mengurangi mobilitas masyarakat sekaligus menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) selama kondisi distribusi belum kembali normal. Kebijakan tersebut berlaku pada 10–12 September 2026.
Kondisi ini menjadi tugas kokurikuler menulis yang diberikan Humaiyah, S.Pd., kepada siswa kelas 6 Tsabit bin Qais Program Internasional Quranic Class Program (QCP) SD Muhammadiyah 01 Tanggul (Muhita), Jumat (11/9/2026) pukul 08.00.
“Untuk sementara, kita belajar secara daring. Kalau tahun 2020, kita belajar daring karena Covid-19. Nah, sekarang karena kelangkaan BBM. Silakan ditulis suka duka belajar daring. Paling sedikit dua paragraf. Dan ditulis di buku bergaris dengan huruf tegak bersambung,” kata Humaiyah ketika pembelajaran berlangsung melalui grup WhatsApp.
Tak berselang lama, pukul 09.45, telepon genggam Humaiyah berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp dari Kaysha masuk.
“Belajar daring bisa dengan santai. Bisa pilih tempat duduk di mana saja. Bisa sambil ngemil. Tapi yang agak susah ketika ada gangguan pada sinyalnya,” tulis gadis berkacamata tersebut.
Hal senada juga disampaikan Naila. Menurutnya, pembelajaran daring memberikan keleluasaan bagi siswa untuk belajar dari tempat yang mereka pilih, meskipun kendala jaringan dapat mengganggu proses pembelajaran.
Sementara itu, Dona mengatakan pembelajaran daring membuat siswa menjadi lebih pandai menggunakan teknologi.
Menurut gadis berwajah imut tersebut, siswa dapat belajar menggunakan berbagai aplikasi. Namun, ia juga merasakan sisi lain dari pembelajaran daring, yakni tidak dapat bertemu secara langsung dengan teman-teman dan guru.
Pesan dari Kharisma masuk pada pukul 13.17. Menurutnya, belajar daring memang seru karena memberikan suasana belajar yang berbeda. Namun, ia mengalami kesulitan ketika ada materi yang belum dipahami.
“Kalau ada materi yang kurang paham, bingung bertanya kepada siapa. Ayah dan Ibu sama-sama bekerja. Interaksi yang terbatas membuat penjelasan guru kurang bisa diserap,” tulis Kharisma.
Pendapat serupa disampaikan Vanes. Menurutnya, pembelajaran tatap muka terasa lebih mendalam karena siswa dapat langsung bertanya kepada guru ketika mengalami kesulitan memahami materi.
Demikian pula dengan Neisha. Ia menilai salah satu keuntungan belajar daring adalah waktu yang lebih fleksibel. Siswa dapat menentukan waktu dan tempat belajar tanpa harus pergi ke sekolah.
Namun, tidak semua siswa menikmati pembelajaran daring. Afiqoh beranggapan bahwa belajar dari rumah justru membuat tugas terasa semakin banyak.
Pendapat tersebut juga disampaikan Raisha. Menurutnya, pembelajaran daring membuat tugas menjadi lebih banyak sehingga berpotensi menumpuk.
Beragam pendapat tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran daring memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap siswa. Ada yang menikmati fleksibilitas dan kesempatan menggunakan teknologi, tetapi ada pula yang merindukan interaksi langsung dengan guru dan teman.
Bagi siswa kelas 6 Tsabit bin Qais QCP Muhita, kebijakan belajar daring karena kelangkaan BBM akhirnya tidak hanya menjadi perubahan cara belajar, tetapi juga menjadi pengalaman yang mereka refleksikan melalui tulisan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments