Usia 102 tahun tidak membuat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah (RSPKU) Kota Surabaya melambat. Di tengah persaingan industri kesehatan yang kian kompetitif, rumah sakit ini tancap gas melakukan transformasi besar-besaran. Mulai dari ekspansi fisik hingga penguatan jejaring pelayanan sosial.
“Kami ingin memberikan pelayanan yang mudah, cepat, dan berbasis teknologi yang menyesuaikan kebutuhan zaman. Kami memberikan pelayanan dengan hati agar pasien bisa berobat secara fisik sekaligus mental, sehingga tercipta kedekatan, dan harapannya pasien merasa nyaman.” ujar Direktur RSPKU Muhammadiyah Surabaya, drg. Devita Eryani Putri, M.Kes, (12/9/26).
Langkah paling nyata dari transformasi tersebut adalah akuisisi gedung eks Hotel Wali Songo. Pembelian aset baru ini difokuskan untuk mendongkrak kapasitas layanan dari fasilitas kesehatan tipe D menuju tipe C dengan target ketersediaan 100 tempat tidur. Melompat jauh dari kapasitas awal yang hanya 50 tempat tidur.
Saat ini, gedung baru tersebut sudah dioperasionalkan untuk memangkas antrean rawat jalan di lantai pertama, sembari terus melengkapi instrumen alat-alat medis modern di tahap berikutnya.
Devita menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur dan teknologi harus berjalan seiring dengan orientasi kemudahan akses bagi masyarakat luas maupun warga Muhammadiyah. Kendati demikian, ia mengingatkan agar modernisasi alat tidak mengikis sentuhan humanis dalam merawat pasien.
“Kami ingin memberikan pelayanan yang mudah, cepat, dan berbasis teknologi yang menyesuaikan kebutuhan zaman,” ujar Devita usai sesi siniar di Kantor PDM Kota Surabaya, Jalan Wuni No. 9, Ketabang, Kecamatan Genteng.
Devita menambahkan, rumah sakit berupaya meruntuhkan persepsi psikologis masyarakat yang kerap merasa cemas atau takut saat harus mendatangi fasilitas medis. Pendekatan emosional melalui pelayanan yang ramah menjadi fondasi agar pasien merasa nyaman secara mental, bukan sekadar pulih secara fisik.
“Kami memberikan pelayanan dengan hati agar pasien bisa berobat secara fisik sekaligus mental, sehingga tercipta kedekatan. Harapannya pasien senang, bahkan mungkin bisa kangen ke rumah sakit kalau sehat,” tutur Devita.

Aspek sosial dari kehadiran RSPKU Muhammadiyah juga diperkuat lewat kolaborasi erat yang telah terjalin lama bersama Lazismu Kota Surabaya. Sinergi ini diterjemahkan ke dalam program bakti sosial rutin setiap bulan, yang mencakup pemeriksaan kesehatan gratis seperti pengecekan gula darah acak, kolesterol, dan asam urat bagi masyarakat.
Tidak berhenti pada pencegahan, kolaborasi lintas lembaga ini juga menjadi jaring pengaman bagi pasien dari kalangan tidak mampu yang menghadapi kendala administratif saat mengakses jaminan kesehatan nasional. Kasus-kasus pasien miskin yang gagal klaim BPJS akibat masalah birokrasi langsung di-cover melalui dana sokongan Lazismu.
“Kami sangat bersyukur didukung Lazismu Kota Surabaya. Kolaborasi rutin ini sangat membantu program kami untuk memberikan layanan kesehatan gratis bagi warga tidak mampu yang terkendala administrasi BPJS.”
Melalui kombinasi ekspansi infrastruktur, modernisasi fasilitas medis, pendekatan humanis, dan penguatan jaringan filantropi bersama Lazismu, RSPKU Muhammadiyah Surabaya membuktikan eksistensinya sebagai pilar kesehatan umat yang adaptif menghadapi tantangan zaman di usia yang melampaui satu abad.





0 Tanggapan
Empty Comments