Dalam perjalanan hidup, manusia tidak pernah lepas dari ujian, nikmat, kesalahan, maupun harapan. Karena itu, yang paling dibutuhkan bukan sekadar kekuatan fisik atau kecerdasan akal, melainkan pertolongan dan rida Allah SWT.
Seorang mukmin yang menyadari kelemahannya akan selalu mengangkat tangan, memohon agar Allah membimbing setiap langkah kehidupannya.
Kita berdoa agar Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bersabar saat diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, mampu memaafkan saat disakiti, dan segera beristigfar ketika melakukan kesalahan.
Sebab hidup ini tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya kita berada di puncak kebahagiaan, tetapi tidak jarang pula kita berada di titik terendah yang menguji kesabaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesabaran itu tampak pada seorang ayah yang tetap bekerja dengan tekun meski usahanya sedang menurun.
Kesyukuran terlihat pada seorang ibu yang menerima rezeki sederhana dengan hati lapang sambil terus mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Kemampuan memaafkan tercermin pada seseorang yang memilih meredam amarah dan menjaga persaudaraan, meskipun pernah disakiti oleh orang lain.
Kita juga memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa kita, melimpahkan rahmat-Nya, memberikan kesehatan, petunjuk, dan rezeki yang halal serta berkah.
Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa pertolongan Allah. Bahkan nikmat yang sering dianggap biasa, seperti kesehatan dan kesempatan berkumpul bersama keluarga, sesungguhnya merupakan karunia yang sangat besar.
Betapa banyak orang yang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika tubuh mulai sakit. Betapa banyak pula yang baru merasakan berharganya keluarga ketika salah satu anggota keluarganya telah tiada.
Karena itu, sudah sepantasnya kita memperbanyak syukur dan tidak pernah berhenti memohon kepada Allah agar menjaga orang-orang yang kita cintai.
Kita pun berharap agar Allah menganugerahkan anak-anak yang saleh dan salehah serta membimbing seluruh keluarga dalam ketakwaan.
Sebab keberhasilan sejati bukan hanya tentang harta dan kedudukan, melainkan ketika rumah tangga dipenuhi keimanan, kasih sayang, dan generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Selain itu, kita memohon agar Allah menganugerahkan mata yang mampu melihat kebaikan orang lain, hati yang mudah memaafkan kesalahan, pikiran yang tidak terus-menerus mengingat keburukan, serta jiwa yang tidak pernah kehilangan iman.
Dunia yang penuh dengan perbedaan dan berbagai persoalan sering kali membuat manusia mudah berprasangka dan terjebak dalam kebencian. Padahal, hati yang bersih akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang memiliki hati yang lapang akan lebih mudah menjaga silaturahmi. Ia tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi lebih banyak memperbaiki dirinya sendiri.
Cahaya hidayah Allah yang lembut akan membimbing seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan kebaikan.
Pada akhirnya, kita memohon agar Allah memanjangkan umur dalam keberkahan, sehingga sisa usia yang diberikan dapat digunakan untuk menambal berbagai kekurangan ibadah dan amal saleh.
Semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pula kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Seperti seorang petani yang menjelang musim panen akan semakin tekun merawat tanamannya, demikian pula seorang mukmin hendaknya semakin bersungguh-sungguh memperbanyak amal ketika usia terus bertambah.
Ia berharap agar sebaik-baik umurnya berada pada penghujungnya, sebaik-baik amalnya berada pada akhir kehidupannya, dan sebaik-baik hari yang ia temui adalah hari ketika ia menghadap Allah SWT dengan hati yang tenang dan mendapat ridha-Nya.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan ampunan, rahmat, kesehatan, petunjuk, dan keberkahan kepada kita semua. Semoga Dia menerangi hati kita dengan cahaya iman, menjadikan hidup kita penuh manfaat, dan mengakhiri kehidupan kita dalam husnul kh0timah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments