Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sugihan menggelar kegiatan Follow Up Baitul Arqom bekerja sama dengan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Lamongan, Sabtu (4/7/2026), di Perguruan Muhammadiyah Sugihan.
Kegiatan ini menjadi ikhtiar memperkuat ideologi kader sekaligus mendorong transformasi organisasi menuju dakwah yang lebih berkemajuan.
Hadir sebagai narasumber Ketua MPKSDI PDM Lamongan, Imam Ghozali, yang menyampaikan materi bertajuk “Ideologi sebagai Sistem Nilai Gerakan: Dari Internalisasi Menuju Transformasi Organisasi.”
Dalam pemaparannya, Imam Ghozali menegaskan bahwa ideologi merupakan fondasi gerak dan arah perjuangan Muhammadiyah. Tanpa ideologi yang kokoh, sebuah organisasi akan mudah kehilangan arah dan tujuan. Karena itu, Baitul Arqom menjadi instrumen penting dalam membentuk kader yang memiliki pemahaman ideologis yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa ideologi Muhammadiyah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), serta Kepribadian Muhammadiyah. Ideologi tersebut bukan sekadar konsep yang bersifat teoritis, melainkan menjadi paradigma gerakan dakwah yang memadukan pemurnian akidah dengan semangat tajdid.
Menurutnya, proses internalisasi ideologi harus melalui empat tahapan, yaitu pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Melalui proses tersebut, nilai-nilai Muhammadiyah akan membentuk cara berpikir, sikap, hingga tindakan nyata para kader.
Lebih lanjut, Imam Ghozali mengajak peserta untuk membangun pola pikir kader yang mampu memadukan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Dalam menyelesaikan persoalan organisasi, kader juga dituntut mengedepankan data, musyawarah, dan solusi yang berlandaskan nilai-nilai dakwa.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang berlandaskan prinsip amanah, transparansi, akuntabilitas, dan keteladanan. Kepemimpinan di tingkat ranting, katanya, harus berorientasi sebagai pelayan umat, memperkuat kaderisasi, membangun sinergi antarmajelis, serta melakukan evaluasi secara berkala.
Pada sesi berikutnya, peserta diajak memahami bahwa ideologi harus diwujudkan dalam program-program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, serta sosial kemanusiaan. Program tersebut hendaknya dilaksanakan secara terukur, kontekstual, dimulai dari hal-hal kecil, namun konsisten dan berkelanjutan.
Di akhir penyampaian materi, Imam Ghozali menegaskan bahwa puncak transformasi kader adalah terwujudnya dakwah berkemajuan, yakni dakwah yang mencerahkan, membebaskan, dan memberdayakan umat. Menurutnya, ranting merupakan ujung tombak dakwah Muhammadiyah yang akan membuktikan hidupnya ideologi melalui perubahan nyata di tengah masyarakat.
Kegiatan Follow Up Baitul Arqom ini, Imam Ghozali berharap semakin memperkuat komitmen kader PRM Sugihan untuk mengimplementasikan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah dalam tata kelola organisasi, pelaksanaan program, hingga pengabdian kepada umat dan persyarikatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments