Kegiatan Ruang InspirasiMu Chapter #41 yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Forum Guru Muhammadiyah Pusat berlangsung secara virtual melalui Zoom Meeting dan live youtube pada Selasa (5/5/2026).
Kegiatan yang dibuka tepat pukul 19.30 WIB ini diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari unsur Majelis Dikdasmen dan PNF wilayah hingga para kepala sekolah dan guru Muhammadiyah.
Mengangkat tema “Praktik Baik Implementasi Pembelajaran Mendalam dan KKA di Sekolah Muhammadiyah”, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus berbagi praktik baik bagi insan pendidikan Muhammadiyah.
Salah satu pemateri yang mencuri perhatian adalah Heru Tjahyono, penggagas Sekolah Kreatif. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual sebagai kunci menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Menurutnya, pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada penyampaian materi di kelas, tetapi harus mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata siswa.
“Pembelajaran kontekstual itu bukan sekadar teori. Materi harus diintegrasikan dengan mata pelajaran lain dan dikaitkan dengan realitas kehidupan siswa. Dari situ, anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang utuh dan mendalam,” ujarnya.
Gagasan tersebut selaras dengan teori Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dikembangkan oleh Elaine B. Johnson, yang menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif ketika siswa mampu menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktor aktif dalam membangun pemahaman.
Heru juga mencontohkan implementasi pembelajaran kontekstual melalui kegiatan outdoor learning dan outbound learning. Ia menggambarkan bagaimana pengalaman belajar di lingkungan nyata dapat memberikan kesan mendalam bagi siswa, terutama ketika mereka terlibat langsung dalam proses.
“Misalnya, belajar di sawah bagi anak desa mungkin biasa. Tapi bagi anak kota, itu pengalaman luar biasa. Dari situ kita bisa mengenalkan proses menanam padi hingga menjadi nasi. Inilah yang disebut pembelajaran mendalam,” jelasnya.
Experiential Learning
Pandangan ini sejalan dengan teori experiential learning dari David Kolb yang menyatakan bahwa pengalaman langsung merupakan sumber utama pembelajaran. Melalui pengalaman konkret, refleksi, dan praktik, siswa mampu membangun pengetahuan yang lebih kuat dan relevan.
Lebih jauh, Heru menekankan peran guru sebagai “figur” dalam pembelajaran. Ia menyebut bahwa guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga harus hadir secara utuh sebagai sosok yang memberi inspirasi dan teladan bagi siswa.
“Guru harus menjadi figur yang dirindukan, ditaati, dan diteladani. Bahkan kalau perlu, seperti artis di hadapan anak-anak, kehadirannya dinanti dan membawa energi positif dalam pembelajaran,” ungkapnya.
Konsep ini memiliki keterkaitan erat dengan teori social learning dari Albert Bandura, yang menjelaskan bahwa individu belajar melalui pengamatan terhadap model di sekitarnya. Dalam konteks pendidikan, guru menjadi model utama yang memengaruhi sikap, perilaku, dan karakter siswa.
Selain itu, Heru juga menyoroti pentingnya lingkungan belajar dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Ia menegaskan bahwa lingkungan yang kaya pengalaman akan memperkuat proses internalisasi pengetahuan siswa.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga mempertegas arah pendidikan Muhammadiyah yang berorientasi pada pembelajaran mendalam dan berpusat pada siswa. Dengan mengintegrasikan teori dan praktik, diharapkan para guru mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.
Melalui forum ini, pesan yang ingin ditegaskan menjadi jelas: pendidikan yang berhasil bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana pengalaman belajar itu dihadirkan. Dan di tengah semua itu, guru tetap menjadi kunci utama, sebagai figur yang menghidupkan proses belajar itu sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments