Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hakikat Budaya dalam Perspektif Ontologis dan Simbolik: Telaah Kritis atas Pemikiran Filsuf Islam, Barat, dan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Hakikat Budaya dalam Perspektif Ontologis dan Simbolik: Telaah Kritis atas Pemikiran Filsuf Islam, Barat, dan Muhammadiyah
Thahirtalas. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Thahirtalas Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar, Aktivis Kebudayaan

Dalam perkembangan wacana keilmuan kontemporer, budaya tidak lagi dipahami sekadar sebagai produk sosial berupa tradisi, seni, atau kebiasaan kolektif. Budaya telah bertransformasi menjadi konsep yang menyentuh dimensi terdalam keberadaan manusia—yakni sebagai struktur ontologis sekaligus sistem simbolik. Ia bukan hanya hasil dari aktivitas manusia, melainkan juga kerangka yang membentuk cara manusia memahami realitas, membangun makna, dan menentukan orientasi hidupnya.

Dalam konteks ini, memahami budaya berarti memasuki wilayah refleksi filosofis yang kompleks. Budaya bukan hanya “apa yang dilakukan manusia”, tetapi “bagaimana manusia ada” dalam dunia. Perspektif ini menuntut pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan filsafat Islam, pemikiran Barat, serta praktik keagamaan dan sosial dalam konteks lokal—termasuk pandangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis di Indonesia.

Dimensi Ontologis Budaya dalam Filsafat Islam

Dalam tradisi filsafat Islam, budaya tidak pernah dilepaskan dari konsep tauhid sebagai prinsip ontologis utama. Tauhid tidak hanya dimaknai sebagai keimanan kepada Tuhan, tetapi sebagai kesatuan realitas yang menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya, berada dalam keterhubungan dengan Yang Ilahi.

Dalam kerangka ini, budaya dipahami sebagai manifestasi kesadaran manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi jasmani dan ruhani. Aktivitas budaya bukan sekadar ekspresi kreatif, tetapi juga refleksi dari upaya manusia mencapai kesempurnaan eksistensial. Seni, bahasa, dan praktik sosial memiliki nilai etis dan spiritual yang mengarahkan manusia pada pembentukan akhlak.

Tradisi tasawuf memperdalam pemahaman ini dengan melihat realitas sebagai manifestasi bertingkat dari Tuhan. Budaya menjadi ruang tajalli—yakni penampakan sifat-sifat Ilahi dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, budaya tidak hanya mencerminkan dunia empiris, tetapi juga membuka kemungkinan pengalaman transendental.

Budaya sebagai Sistem Simbol dalam Pemikiran Barat

Berbeda dengan pendekatan ontologis Islam, filsafat Barat modern cenderung menekankan dimensi simbolik budaya. Ernst Cassirer, misalnya, melihat manusia sebagai animal symbolicum, yakni makhluk yang hidup dalam dunia simbol. Budaya merupakan jaringan simbol yang memungkinkan manusia memberi makna terhadap realitas.

Pandangan ini diperkaya oleh Paul Ricoeur melalui pendekatan hermeneutik yang menekankan bahwa simbol selalu mengandung makna berlapis. Budaya, dengan demikian, harus dibaca sebagai teks yang memerlukan interpretasi mendalam. Makna tidak bersifat tetap, melainkan terbuka terhadap penafsiran.

Dalam perspektif sosiologis, Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa budaya juga hadir dalam bentuk habitus—struktur internal yang membentuk praktik sosial. Budaya tidak hanya dipahami sebagai simbol, tetapi juga sebagai pola tindakan yang direproduksi dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan Muhammadiyah: Budaya antara Purifikasi dan Dinamisasi

Dalam konteks keislaman Indonesia, Muhammadiyah menawarkan perspektif yang khas dalam memahami budaya. Sebagai gerakan tajdid (pembaruan), Muhammadiyah memposisikan budaya dalam kerangka normatif tauhid sekaligus dalam dinamika sosial yang terus berkembang.

Secara ontologis, Muhammadiyah memandang bahwa budaya harus selaras dengan prinsip tauhid. Budaya tidak boleh mengandung unsur syirik, khurafat, dan takhayul. Oleh karena itu, Muhammadiyah menekankan pentingnya purifikasi (pemurnian) dalam praktik budaya agar tetap sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Namun demikian, pandangan Muhammadiyah tidak berhenti pada purifikasi semata. Dalam perkembangan pemikirannya, khususnya melalui gagasan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah juga menekankan aspek dinamisasi budaya. Budaya dipandang sebagai ruang ijtihad yang terbuka, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

Dalam perspektif simbolik, Muhammadiyah cenderung melakukan reinterpretasi terhadap simbol-simbol budaya. Simbol yang tidak memiliki dasar normatif dalam Islam akan dikritisi, sementara simbol yang memiliki nilai etis dan sosial akan diakomodasi dan dimaknai ulang. Dengan demikian, budaya tidak ditolak secara total, tetapi diseleksi dan direkonstruksi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah berada pada posisi tengah antara konservatisme dan liberalisme budaya. Ia tidak menolak budaya, tetapi juga tidak menerima budaya tanpa kritik. Budaya dipahami sebagai instrumen untuk membangun peradaban yang berkemajuan, rasional, dan berorientasi pada nilai-nilai Islam.

Kritik terhadap Komodifikasi dan Reduksi Budaya

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam masyarakat modern, budaya menghadapi tantangan serius berupa komodifikasi. Pemikir seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer menunjukkan bahwa budaya telah direduksi menjadi industri yang berorientasi pada pasar. Dalam kondisi ini, budaya kehilangan dimensi kritis dan spiritualnya.

Pandangan ini relevan dengan kritik Muhammadiyah terhadap praktik budaya yang tidak produktif dan tidak rasional. Muhammadiyah menolak budaya yang hanya bersifat seremonial tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan umat. Budaya harus memiliki nilai fungsional yang mendukung pendidikan, etika, dan kesejahteraan sosial.

Namun demikian, kritik terhadap budaya tidak boleh berujung pada penghilangan dimensi simbolik dan ekspresifnya. Budaya tetap merupakan ruang kreativitas dan identitas yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar instrumen ekonomi atau ideologi.

Sintesis: Budaya sebagai Integrasi Ontologis, Simbolik, dan Etis

Jika ditelaah secara kritis, terdapat kemungkinan untuk mensintesiskan pandangan filsafat Islam, Barat, dan Muhammadiyah dalam memahami budaya. Budaya dapat dipahami sebagai:

  • Ekspresi ontologis, yakni manifestasi keberadaan manusia dalam relasinya dengan Tuhan.
  • Sistem simbolik, yakni jaringan makna yang membentuk cara manusia memahami dunia.
  • Praktik sosial, yakni pola tindakan yang membentuk struktur masyarakat.
  • Instrumen etis, yakni sarana pembentukan akhlak dan peradaban.

Dalam kerangka ini, budaya tidak lagi dipahami secara parsial, tetapi sebagai fenomena integral yang mencakup dimensi spiritual, simbolik, dan sosial.

Relevansi dalam Konteks Lokal: Budaya dan Keadaban

Dalam konteks masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, nilai-nilai budaya seperti siri’ na pacce dapat dipahami dalam kerangka ini. Nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai norma sosial, tetapi juga sebagai sistem makna yang mencerminkan martabat dan solidaritas.

Dalam perspektif Muhammadiyah, nilai-nilai tersebut dapat diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Bahkan, nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial sejalan dengan ajaran Islam dan dapat menjadi bagian dari budaya yang berkemajuan.

Dengan demikian, budaya lokal tidak harus ditolak, tetapi perlu dimaknai ulang dalam kerangka nilai-nilai Islam yang rasional dan progresif.

Budaya sebagai Jalan Peradaban Berkemajuan

Hakikat budaya pada akhirnya terletak pada kemampuannya untuk membentuk manusia dan peradaban. Dalam perspektif ontologis, budaya adalah ekspresi keberadaan manusia. Dalam perspektif simbolik, budaya adalah bahasa makna. Dalam perspektif Muhammadiyah, budaya adalah ruang ijtihad yang harus diarahkan pada kemajuan dan kemurnian tauhid.

Di tengah tantangan globalisasi dan krisis identitas, diperlukan pendekatan yang integratif dalam memahami budaya. Dialog antara filsafat Islam, pemikiran Barat, dan gerakan Islam seperti Muhammadiyah menjadi penting untuk membangun peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Budaya tidak boleh dibiarkan menjadi ruang tanpa arah. Ia harus dikelola sebagai kekuatan strategis untuk membangun manusia yang beradab, berilmu, dan berkepribadian. Dalam kerangka inilah, budaya menemukan kembali hakikatnya—sebagai jalan menuju peradaban yang berkemajuan dan berkeadaban. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu