Menjadi manusia terdidik tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual. Lebih dari itu, pendidikan harus membentuk pribadi yang beriman, berakhlak, bijaksana, serta memiliki kepedulian untuk menghadirkan perbaikan dalam kehidupan.
Pandangan tersebut disampaikan Hendar Riyadi, dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Selasa (25/8/2026).
Dalam paparannya, Hendar menjelaskan konsep quranic well-educated person atau manusia terdidik dalam perspektif Al-Qur’an. Menurutnya, manusia terdidik bukan hanya seseorang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi juga mampu menjadikan ilmu sebagai jalan untuk membentuk diri dan menghadirkan manfaat.
“Manusia terdidik itu bukan sekadar manusia yang pintar. Ia harus menjadi problem solver, bukan problem amplifier yang justru memperkeruh keadaan,” ujar Hendar.
Ia menjelaskan, manusia terdidik memiliki ilmu yang mencerahkan akal, iman yang mendidik hati, akhlak yang mengendalikan diri, hikmah yang mengarahkan tindakan, serta amal yang menghadirkan ishlah atau perbaikan.
Menurut Hendar, terdapat delapan karakter manusia terdidik dalam perspektif Al-Qur’an.
Karakter tersebut meliputi ishlah, menjaga komitmen atau wafa bi al-uqud, sabar dan istiqamah, beradab, ta’awun atau kolaborasi, amanah, terus bertumbuh dalam ilmu atau ziyadah al-ilm, serta memiliki kesadaran sebagai khalifah.
Hendar menjelaskan, ishlah berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memiliki orientasi terhadap solusi dan perbaikan. Sementara itu, wafa bi al-uqud menekankan pentingnya menjaga komitmen serta aturan.
Adapun sikap sabar dan istiqamah, menurutnya, dapat diwujudkan melalui kedisiplinan yang tumbuh dari kesadaran untuk menjaga integritas diri.
“Disiplin sejati bukan hanya karena takut terhadap hukuman. Namun, karena adanya komitmen untuk menjaga integritas dan menjalankan tanggung jawab,” jelasnya.
Selain memiliki komitmen dan kedisiplinan, manusia terdidik juga harus memiliki adab dalam berhubungan dengan orang lain.
Menurut Hendar, seseorang perlu mampu menghormati sesama, menjaga komunikasi, serta menghindari sikap merendahkan orang lain.
Karakter tersebut juga berkaitan dengan ta’awun atau semangat untuk bekerja sama dalam menghadirkan kebaikan bersama.
Ia kemudian menekankan pentingnya amanah dan ziyadah al-ilm. Menjaga kepercayaan menjadi bagian penting dari karakter manusia terdidik, bersamaan dengan semangat untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.
“Orang terdidik tidak pernah merasa selesai dalam belajar. Ia harus terus bertumbuh, memperbaiki pengetahuan, memperluas pemahaman, dan meningkatkan kompetensinya,” katanya.
Dalam pemaparannya, Hendar juga mengaitkan konsep manusia terdidik dengan pemikiran sejumlah tokoh, mulai dari Sokrates, Plato, Aristoteles, Al-Farabi, dan Al-Ghazali hingga Ki Hadjar Dewantara, Ahmad Dahlan, Hamka, John Dewey, Paulo Freire, Howard Gardner, dan Edgar Morin.
Menurutnya, berbagai pemikiran tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni pendidikan harus mampu menjawab persoalan kehidupan sekaligus memanusiakan manusia.
Di akhir paparannya, Hendar merangkum konsep manusia terdidik dalam lima kata kunci, yaitu merdeka, berdaya, beradab, beramal, dan memanusiakan.
“Ukuran manusia terdidik bukan hanya seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Namun, seberapa jauh ilmu itu membentuk dirinya, menyelesaikan persoalan, dan memberi manfaat bagi kehidupan,” pungkas Hendar.





0 Tanggapan
Empty Comments