Pemahaman terhadap sejarah organisasi menjadi fondasi penting dalam membangun kader yang tangguh dan berkomitmen.
Hal itulah yang ditekankan dalam materi Sejarah Kepanduan Hizbul Wathan pada kegiatan Diklat Jaya Melati I (Jati I) oleh Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kota Kediri di Kebun TOGA Wahyu Alam Herbal, Banaran, Kota Kediri, Kamis (02/07/2026).
Materi yang berlangsung pukul 14.30–15.30 WIB tersebut tersampaikan oleh Ramanda Khoirul Anam SPd Sekretaris Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kabupaten Kediri.
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta Jaya Melati I yang berasal dari berbagai qobilah, baik dari Kota Kediri maupun daerah lain. Para peserta tampak aktif mencatat dan berdiskusi selama pemaparan berlangsung.
Sejarah tak Sekadar Hafal Tahun
Dalam penyampaiannya, Khoirul Anam mengajak peserta menelusuri perjalanan panjang Hizbul Wathan sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918 sebagai gerakan kepanduan Muhammadiyah.
Menurutnya, memahami sejarah bukan sekadar menghafal tahun dan peristiwa, tetapi juga memahami semangat perjuangan yang melatarbelakangi lahirnya Hizbul Wathan.
Ia menjelaskan bahwa Hizbul Wathan didirikan sebagai sarana pembinaan generasi muda agar memiliki karakter Islami, disiplin, mandiri, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.
Nilai-nilai tersebut hingga kini tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam sesi materi, peserta juga diajak memahami perjalanan organisasi ketika Hizbul Wathan “ditidurkan” pada tahun 1961 sebagai dampak kebijakan pemerintah melalui Dekrit Presiden yang mengintegrasikan berbagai organisasi kepanduan ke dalam Gerakan Pramuka.
Meski demikian, semangat Hizbul Wathan tidak pernah padam. Setelah Muhammadiyah mengaktifkan kembali Hizbul Wathan, organisasi ini terus berkembang hingga menjadi salah satu wadah kaderisasi yang penting di lingkungan Persyarikatan.
“Hizbul Wathan adalah warisan perjuangan KH Ahmad Dahlan yang harus terus kita rawat. Jangan sampai organisasi ini hanya hidup dalam kegiatan seremonial, tetapi harus mampu berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan” tegas Khoirul Anam di hadapan peserta.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kader Hizbul Wathan saat ini berbeda dengan masa lalu.
Di era digital, seorang pandu dituntut tidak hanya menguasai keterampilan kepanduan, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam akhlak, kepemimpinan, literasi digital, dan pengabdian kepada masyarakat.
Alasan Memilih HW
Pada sesi penutup, Ramanda Khusnul Abidin selaku Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur memberikan penguatan terhadap materi yang telah disampaikan.
Menurutnya, alasan utama memilih Hizbul Wathan sebagai media kaderisasi adalah karena organisasi ini berlandaskan nilai-nilai Islam dan menjadi bagian dari Muhammadiyah dalam mencetak kader berkemajuan.
“Kenapa harus Hizbul Wathan? Karena Hizbul Wathan adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang berasaskan Islam. Dari sinilah diharapkan lahir kader-kader yang mampu meneruskan perjuangan KH Ahmad Dahlan, menjadi pribadi yang mencerahkan semesta, serta mampu menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara” ungkapnya.
Suasana pembelajaran berlangsung hidup hingga akhir sesi. Berbagai pertanyaan diajukan peserta mengenai sejarah, tantangan, hingga masa depan Hizbul Wathan.
Antusiasme tersebut menunjukkan besarnya semangat calon pelatih dalam memahami identitas organisasi yang akan mereka kembangkan di qobilah masing-masing.
Melalui materi sejarah ini, panitia berharap para peserta Jaya Melati I tidak hanya memahami perjalanan Hizbul Wathan dari masa ke masa. Namun juga memiliki kesadaran untuk menjaga eksistensi organisasi melalui inovasi, pengabdian, dan kaderisasi yang berkelanjutan.
Dengan bekal sejarah yang kuat, para lulusan Jaya Melati I diharapkan mampu menjadi pelatih sekaligus penggerak Hizbul Wathan yang siap melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah di tengah perkembangan zaman.





0 Tanggapan
Empty Comments