Masjid Fakih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik menggelar kajian rutin tematik yang diikuti lebih dari 200 jamaah. Dalam kajian tersebut, Najib Sulhan menyampaikan materi bertema “Melembutkan Hati dengan Kalimat Thayyibah”.
Dalam pemaparannya, Najib Sulhan mengajak jamaah untuk lebih serius membiasakan diri mengucapkan kalimat thayyibah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masih banyak orang yang menganggap kalimat thayyibah sebagai ucapan biasa, padahal memiliki pengaruh besar terhadap kondisi hati seorang Muslim.
“Banyak yang masih menganggap kalimat thayyibah ini bacaan biasa. Padahal kalimat thayyibah bisa memperhalus hati dan menjadikan hati selamat. Hanya hati yang selamat yang bisa memberikan manfaat,” ujarnya.
Mengawali kajian, Najib Sulhan mengajak jamaah merenungkan firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 88-89.
“Pada hari tidak lagi bermanfaat harta dan anak. Kecuali mereka yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa keselamatan hati merupakan bekal terpenting bagi manusia ketika menghadap Allah SWT.
Najib menjelaskan bahwa hati memiliki peran yang sangat menentukan dalam kehidupan manusia. Hati menjadi pemimpin bagi seluruh anggota tubuh.
Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hati.
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal mutghoh. Jika baik, maka baiklah semua anggota tubuh. Jika rusak, maka rusaklah semua anggota tubuh. Ketahuilah, itulah yang namanya hati.”
Menurut Najib, dalam Islam terdapat tiga jenis hati yang perlu dipahami oleh setiap Muslim.
“Dalam pandangan Islam, ada tiga macam hati. Pertama, hati yang selamat. Hati bagi orang-orang yang beriman. Hati orang-orang yang memiliki ketauhidan. Kedua, hati yang sakit. Hati bagi orang yang munafik. Hati orang yang diliputi kebohongan. Ketiga, hati yang mati. Hatinya orang kafir. Mereka yang betul-betul menutup diri dari kebenaran.”
Ia menegaskan bahwa hanya hati yang selamat yang mampu memberikan manfaat bagi pemiliknya.
“Hanya hati yang selamat yang bisa memberikan manfaat. Hati yang sakit dan hati yang mati, keduanya akan mendapatkan adzab dari Allah.”
Lebih lanjut, Najib menjelaskan bahwa salah satu cara menjaga dan melembutkan hati adalah dengan membiasakan diri mengucapkan kalimat thayyibah yang senantiasa mengingatkan manusia kepada Allah SWT.
Menurutnya, kalimat-kalimat yang mengandung dzikir dan pengagungan kepada Allah akan menghadirkan ketenangan dalam hati.
Najib kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati selalu tenteram.”
Ia menegaskan bahwa ketenangan hati yang sejati hanya dapat diperoleh melalui kedekatan dengan Allah SWT.
Pada akhir kajian, Najib Sulhan berpesan kepada para jamaah agar membiasakan kalimat thayyibah kepada anak-anak sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Menurutnya, orang tua dan guru memiliki tanggung jawab untuk menjaga lisan anak-anak agar terbiasa dengan ucapan yang baik dan bernilai ibadah.
“Biasakan untuk anak-anak dengan kalinat thayyobah. Jangan sampai orang tua maupun guru menormalisasi ucapan-ucapan buruk keluar dari mulut anak kita. Biasakan kalimat tauhid, menyebut asma Allah jadi kebiasaan. Sesungguhnya kalimat inilah yang nenjadikan hati selamat dan bisa memberikan manfaat.”
Melalui pembiasaan tersebut, diharapkan generasi muda tumbuh dengan hati yang lembut, dekat dengan Allah SWT, serta memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Kalimat Thayyibah, Najib Sulhan, Masjid Fakih Oesman, Universitas Muhammadiyah Gresik, Kajian Islam, Hati yang Selamat, Dzikir, Pendidikan Anak, Dakwah Muhammadiyah, Kajian Tematik





0 Tanggapan
Empty Comments