“Ketika negara mulai hadir menguasai kembali pasar dan sumber daya alamnya, pertarungan sesungguhnya bukan lagi antara pemerintah dan mahasiswa, melainkan antara ekonomi konstitusi dan pasar bebas. Pertanyaannya: di pihak mana sejarah akan menemukan kita berdiri?”
Saya sedang di Solo. Pulang kampung ke Boyolali.
Tetapi pikiran saya tidak sedang berada di Solo. Pikiran saya masih berada di UGM, masih berada di ruang dialog yang beberapa hari lalu menjadi perbincangan banyak orang.
Sebuah dialog yang bagi sebagian orang dianggap gagal. Sebuah dialog yang bagi sebagian orang dianggap ricuh. Tetapi bagi saya, justru itulah titik awal sebuah percakapan yang selama ini tidak pernah benar-benar terjadi.
Dalam Seri 1 saya menulis bahwa yang bertabrakan di UGM bukan mahasiswa melawan pejabat. Yang bertabrakan adalah dua bahasa yang sudah lama tidak saling memahami.
Hari ini saya ingin melangkah lebih jauh.
Menurut saya, yang bertabrakan bukan hanya bahasa. Yang bertabrakan adalah paradigma. Bahkan lebih jauh lagi, yang bertabrakan adalah ideologi.
Saya senang melihat mahasiswa bergerak. Karena selama mahasiswa masih bergerak, berarti demokrasi masih bernapas.
Mahasiswa memang harus kritis. Mahasiswa memang harus gelisah. Mahasiswa memang harus berani mempertanyakan kekuasaan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.
Apakah mahasiswa hari ini masih mengenali musuh utamanya?
Ataukah mereka sedang bertarung melawan bayangan, sementara musuh yang sesungguhnya lewat tanpa tersentuh?
Saya bertanya seperti itu karena saya bukan orang yang melihat gerakan mahasiswa dari kejauhan.
Saya pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa ITS. Saya tumbuh dalam tradisi gerakan. Saya ikut merasakan denyut Reformasi 1998. Saya tahu bagaimana gagasan berubah menjadi gerakan.
Dan saya juga tahu satu hal.
Gerakan yang kehilangan kompas ideologi bisa berjalan sangat jauh, tetapi menuju arah yang salah.
Kalau kita membuka sejarah Indonesia secara jujur, ada satu pola yang tidak pernah berubah.
Sejak awal kebangkitan nasional, kaum terpelajarlah yang selalu berada di garis depan.
Budi Utomo lahir dari kalangan terdidik. Sarekat Islam lahir dari kalangan terdidik. Pergerakan nasional lahir dari kalangan terdidik.
Dan mereka semua melawan musuh yang sama.
Bukan sekadar tentara asing. Bukan sekadar bendera asing.
Melainkan sebuah sistem yang membuat kekayaan bangsa mengalir keluar negeri. Sistem yang membuat rakyat menjadi buruh di tanahnya sendiri. Sistem yang membuat pasar dikuasai pihak lain.
Hari ini sistem itu masih ada.
Namanya bisa berbeda-beda.
Kapitalisme global.
Neoliberalisme.
Pasar bebas.
Tetapi substansinya tetap sama: menguasai pasar, menguasai sumber daya alam, dan mengendalikan arah kebijakan negara.
Karena itu saya sering mengatakan:
Kalau ingin memahami apa yang sedang terjadi hari ini, jangan mulai dari peristiwa. Mulailah dari petanya. Sebab tanpa peta, kita akan tersesat.
Peta Pertarungan Hari Ini Sebenarnya Sederhana
Di satu sisi ada kelompok yang percaya bahwa pasar harus mengatur dirinya sendiri.
Negara harus mundur. Negara jangan terlalu banyak ikut campur. Negara cukup menjadi wasit. Kalau perlu hanya menjadi satpam yang menjaga pagar.
Semakin kecil negara, semakin baik. Semakin bebas pasar, semakin baik.
Itulah paradigma yang selama puluhan tahun mendominasi dunia.
Paradigma pasar bebas. Paradigma neoliberalisme.
Di sisi lain ada paradigma yang berbeda.
Paradigma yang percaya bahwa negara tidak boleh menjadi penonton.
Negara harus hadir. Negara harus mengatur. Negara harus mengawasi. Negara harus mengendalikan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Negara harus memastikan kekayaan nasional kembali kepada rakyat.
Bukan karena negara ingin menjadi pedagang, tetapi karena konstitusi memerintahkannya.
Pasal 33 UUD 1945 tidak lahir untuk pajangan.
Pasal itu lahir dari pengalaman panjang bangsa yang dijajah karena kekayaannya. Pasal itu lahir dari kesadaran bahwa kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi hanyalah setengah kemerdekaan.
Karena itu pertarungan hari ini sesungguhnya sederhana:
Negara hadir.
Atau negara mundur.
Jejak Nyata: Dari Hilirisasi Sampai Koperasi
Coba lihat apa yang sedang dilakukan pemerintah hari ini.
Hilirisasi.
Ekspor satu pintu.
Penguatan koperasi.
Koperasi Desa Merah Putih.
Makan Bergizi Gratis.
Semuanya memiliki benang merah yang sama.
Negara hadir.
Negara menggunakan instrumen APBN untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Negara mencoba memastikan nilai tambah tidak terus lari keluar negeri.
Puluhan tahun kita menjual bahan mentah.
Nikel mentah. Batubara mentah. Sawit mentah.
Kita menjual murah. Negara lain mengolah mahal.
Kita menjual tanah. Mereka menjual teknologi.
Kita menjual bahan baku. Mereka menjual nilai tambah.
Akibatnya keuntungan terbesar justru tinggal di luar negeri, bukan di Indonesia.
Karena itulah hilirisasi lahir.
Tujuannya sederhana:
Jangan lagi mengekspor lapangan kerja.
Jangan lagi menghadiahkan nilai tambah kepada bangsa lain.
Jangan lagi menjual murah apa yang bisa kita olah mahal.
Makan Bergizi Gratis: Bukan Sekadar Makan
Saya ambil contoh lain.
Makan Bergizi Gratis.
Sedikit orang tahu bahwa gagasan dasarnya bukan sekadar memberi makan anak sekolah.
Gagasan besarnya adalah menggerakkan ekonomi dari bawah.
Bagaimana APBN turun ke desa. Masuk ke petani. Masuk ke peternak. Masuk ke pasar rakyat. Masuk ke dapur-dapur yang selama ini tidak pernah disentuh anggaran besar.
Petani sayur hidup.
Peternak ayam hidup.
Peternak telur hidup.
Ibu-ibu desa mendapat pekerjaan.
Uang berputar di bawah.
Ekonomi tumbuh dari akar.
Apakah ada masalah dalam pelaksanaannya?
Tentu ada.
Apakah ada korupsi?
Ada.
Apakah ada penyimpangan?
Ada.
Tetapi sejak kapan keberadaan koruptor menjadi alasan untuk menghentikan cita-cita?
Kalau logikanya begitu, tidak ada satu pun program negara yang boleh berjalan. Karena selama manusia masih ada, penyimpangan juga akan selalu ada.
Maka tuntutan yang benar adalah:
Perbaiki.
Bukan hentikan.
Tangkap pelakunya.
Bukan bunuh programnya.
Kegelisahan Terbesar Saya
Di sinilah saya melihat kegelisahan terbesar saya.
Ketika negara mulai hadir di pasar, sebagian mahasiswa justru meminta negara mundur.
Ketika negara mulai mengendalikan sumber daya alam, sebagian mahasiswa justru mengulang narasi yang sama dengan kelompok pasar bebas.
Ketika negara mencoba menjalankan amanat Pasal 33, sebagian mahasiswa justru sibuk membahas kebusukan sistem tanpa melihat arah besar yang sedang diperjuangkan.
Kritik terhadap tata kelola tentu perlu.
Kontrol terhadap kekuasaan tentu wajib.
Tetapi kritik terhadap pelaksanaan tidak boleh berubah menjadi penolakan terhadap tujuan.
Sebab keduanya adalah hal yang berbeda.
Perang yang Sebenarnya
Karena itu saya melihat perdebatan hari ini bukan lagi soal suka atau tidak suka kepada Prabowo.
Bukan soal mendukung atau menolak pemerintah.
Persoalannya jauh lebih besar.
Apakah Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan mentah bagi dunia?
Ataukah menjadi negara industri yang mengolah kekayaannya sendiri?
Apakah negara akan menjadi pengatur pasar?
Ataukah hanya menjadi penonton pasar?
Apakah sumber daya alam akan dikendalikan negara untuk rakyat?
Ataukah kembali dikendalikan oleh kekuatan modal global?
Inilah perang yang sebenarnya.
Bukan perang antara mahasiswa dan pemerintah.
Bukan perang antara kampus dan istana.
Tetapi perang antara dua paradigma besar.
Paradigma yang ingin negara hadir.
Dan paradigma yang ingin negara mundur.
Karena itu saya ingin mengajak mahasiswa kembali melihat peta yang lebih besar.
Tetaplah kritis.
Tetaplah menjadi pengawas kekuasaan.
Tetapi jangan sampai kritik kehilangan kompas.
Jangan sampai kritik berubah menjadi pengeras suara bagi kekuatan yang sejak dahulu justru dilawan oleh gerakan mahasiswa itu sendiri.
Sebab sejarah tidak akan mencatat seberapa keras kita berteriak.
Sejarah akan mencatat:
Ketika pertarungan besar itu terjadi, kita berdiri di pihak siapa.
Di pihak yang ingin Indonesia berdaulat.
Atau di pihak yang ingin negara menyerahkan kembali pasar dan sumber daya alamnya kepada kekuatan yang sejak lama ingin menguasainya.
Dan di situlah pertanyaan paling penting bagi mahasiswa hari ini:
Apakah kita masih mengenali musuh utama kita?
Atau kita sudah lupa.





0 Tanggapan
Empty Comments