Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hijrah Pendidikan: Meruntuhkan Tembok Elitisme Sekolah

Iklan Landscape Smamda
Hijrah Pendidikan: Meruntuhkan Tembok Elitisme Sekolah
Oleh : Suprapto, MPd. Sekretaris Majelis Dikdasmen & PNF PDM Bojonegoro

Lantunan doa awal Tahun Baru Hijriyah yang menggema di langit malam kerap kali berakhir sebagai ritual tahunan yang sunyi makna. Semarak menyambut pergantian tahun melalui pawai obor dan festival seringkali hanya menjadi gebyar kulit luar serta seremonial belaka yang gagal menyentuh substansi perubahan.

Padahal, jika kita berani menilik realitas sosial hari ini, ada satu sektor krusial yang tengah mengalami stagnasi akut dan membutuhkan momentum “hijrah” besar-besaran.

Sektor itu adalah dunia pendidikan kita.

Bagaimana tidak? Hari ini, cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa seolah terbentur oleh dinding tebal komersialisasi.

Pendidikan bermutu dengan label “unggul” telah berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa ditebus oleh tebalnya dompet orang tua.

Gerbang sekolah berkualitas kini seolah dijaga oleh angka-angka nominal rupiah, sehingga anak-anak berbakat dari keluarga miskin harus berdiri di luar pagar.

Realitas pahit ini menegaskan narasi yang kejam: masa depan gemilang dan fasilitas belajar yang layak seolah hanya menjadi hak eksklusif mereka yang memiliki privilese finansial.

Ketika Sekolah Unggul Menjadi Barang Mewah

Di era modern ini, kita menyaksikan fenomena elitisme pendidikan yang semakin terbuka.

Sekolah-sekolah yang melabeli diri sebagai lembaga bermutu tinggi seolah membangun benteng eksklusif, dan hanya anak-anak dari strata sosial atas yang bisa menembusnya.

Di dalam benteng itu, fasilitas serba mewah dan teknologi mutakhir menunjang proses belajar.

Sementara di luar benteng, anak-anak dari keluarga miskin harus menerima keadaan, terjebak di sekolah-sekolah dengan fasilitas ala kadarnya, ruang kelas yang pengap, dan keterbatasan buku sebagai kenyataan sehari-hari.

Kita harus berani berteriak dengan tegas, “miskin harta jangan sampai memiskinkan masa depan!”

Lahir dari keluarga prasejahtera bukanlah sebuah dosa. Keterbatasan materi orang tua sama sekali bukan alasan yang sah untuk membelenggu potensi besar seorang anak.

Jika diskriminasi terselubung ini terus mengalami pembiaran, maka kita sedang menghancurkan fungsi hakiki pendidikan. Sekolah yang sejatinya menjadi alat mobilitas sosial, sebuah tangga emas bagi anak miskin untuk mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarganya, kini mengalami pergeseran fungsi. Pendidikan justru berubah menjadi alat yang melanggengkan kesenjangan. Mereka yang kaya akan terus dominan karena memiliki modal pendidikan yang superior, sementara mereka yang miskin semakin terpinggirkan karena kalah sejak awal dalam hal fasilitas.

Redefinisi Teologis “Hijrah”

Kita perlu kembali merenungkan esensi terdalam dari peristiwa yang kita peringati setiap awal Muharram ini.

Hijrah dalam catatan sejarah peradaban Islam bukan sekadar migrasi geografis atau perpindahan fisik dari satu kota ke kota lain.

Hijrah merupakan proklamasi transformasi total, sebuah gerakan radikal untuk meninggalkan tatanan Jahiliyah yang diskriminatif, eksklusif, dan menindas kelompok lemah menuju tatanan baru yang menjunjung tinggi keadilan sosial dan kesetaraan.

Menilik sejarah, bagaimana Rasulullah SAW membangun sejarah di Madinah. Beliau meruntuhkan sekat-sekat kasta sosial.

Di serambi Masjid Nabawi, lahirlah institusi pendidikan inklusif pertama bernama Ahlus Suffah.

Di sana, para sahabat yang miskin harta, terlunta-lunta, dan tidak memiliki rumah duduk berdampingan dengan mereka yang berkecukupan. Mereka memperoleh hak, akses, dan kualitas ilmu yang sama langsung dari sang Nabi.

Tidak ada diskriminasi, tidak ada kurikulum yang dibedakan berdasarkan isi kantong.

Prinsip luhur ini semakin ditegaskan melalui sabda beliau bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim (Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslim).

Dalam logika sosial, ketika Tuhan mewajibkan setiap hamba-Nya untuk belajar, maka negara, penguasa, dan seluruh sistem kebijakan memiliki mandat untuk menyediakan akses pendidikan secara adil.

Jika hari ini sistem pendidikan justru membiarkan sekolah berkualitas dikomersialisasikan, maka kita sedang mengkhianati amanat Hijrah dan melanggengkan bentuk baru Jahiliyah dalam dunia pendidikan.

SMPM 5 Pucang SBY

Cetak Biru “Sekolah Unggul untuk Semua”

Semangat Hijrah tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Ia harus diwujudkan melalui cetak biru solusi yang konkret dan berani.

Langkah pertama adalah melakukan reformasi anggaran secara radikal melalui tata kelola yang afirmatif.

Kita harus mengakhiri ironi ketika anggaran besar terus mengalir kepada sekolah-sekolah yang sudah mapan.

Arah kebijakan harus dibalik: sekolah-sekolah di pinggiran dan lembaga yang menampung anak-anak kurang mampu harus menjadi prioritas utama.

Pemerintah harus menyuntikkan fasilitas digital terbaik dan memperkuatnya dengan guru-guru paling kompeten.

Mutu pendidikan harus ada standarisasi agar predikat “sekolah unggul” tidak lagi menjadi monopoli segelintir lembaga di pusat kota.

Langkah kedua adalah menerapkan sistem kuota dan subsidi silang yang berani.

Negara harus menekan seluruh sekolah berlabel unggul, termasuk sektor swasta, agar membuka akses lebih luas dan meruntuhkan tembok eksklusivitas.

Lembaga-lembaga tersebut wajib menyediakan ruang beasiswa penuh bagi anak-anak miskin yang memiliki potensi.

Prosedurnya juga harus dipangkas dari belenggu birokrasi yang rumit dan diskriminatif.

Melalui subsidi silang, tebalnya dompet siswa kaya dapat membantu membiayai tajamnya otak siswa kurang mampu yang duduk di bangku sebelah mereka.

Terakhir, momentum Muharram harus menjadi titik balik optimalisasi filantropi Islam melalui gerakan ZIS (Zakat, Infaq, dan Sodakoh) yang produktif. Sudah saatnya kita berhijrah dari pola santunan konsumtif menuju investasi masa depan bangsa.

Jika dana ZIS dikelola secara strategis untuk sektor pendidikan, umat Muslim mampu membangun ekosistem sekolah gratis berkualitas tinggi bagi kaum dhuafa.

Sekolah-sekolah berbasis dana umat ini harus dirancang dengan fasilitas modern dan manajemen profesional sehingga mampu mengungguli sekolah-sekolah borjuis yang mahal. Inilah jihad pendidikan yang sesungguhnya di tahun baru Hijriyah.

Refleksi

Sebagai penutup refleksi Hijrah ini, kita harus menanamkan kesadaran mendalam bahwa kecerdasan tidak pernah memilih di rahim mana ia dilahirkan.

Tuhan menitipkan kilatan-kilatan jenius secara adil. Ia dapat hadir pada anak seorang pemulung di gang sempit sebagaimana ia hadir pada anak seorang konglomerat di kawasan elite.

Garis kemiskinan orang tua tidak pernah dapat menjadi ukuran kapasitas intelektual seorang anak.

Karena itu, kita harus lantang menyuarakan bahwa anak orang miskin memiliki hak mutlak untuk menjadi pintar.

Mereka berhak mendapatkan pendidikan unggul dan memiliki kesempatan yang sama untuk berdiri memimpin bangsa ini di masa depan.

Menghalangi mereka memperoleh pendidikan bermutu hanya karena keterbatasan biaya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan sekaligus pemborosan potensi terbesar bangsa.

Selamat Tahun Baru Hijriyah. Mari kita akhiri perayaan yang hanya menampilkan gebyar kulit luar, lalu memulai hijrah yang substantif: meruntuhkan tembok elitisme sekolah agar setiap anak bangsa, tanpa memandang berapa digit saldo rekening orang tuanya, dapat melangkah tegap memasuki gerbang sekolah unggul dan menjemput takdir kepemimpinannya.

Mari kita maknai hijrah tahun ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk memutus belenggu elitisme pendidikan. Sebab, merdeka belajar yang hakiki adalah ketika gerbang sekolah unggul terbuka lebar bagi seluruh anak bangsa, tanpa perlu menanyakan berapa isi dompet orang tua mereka.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 18/06/2026 09:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu