Jika ingin melihat Muhammadiyah, lihatlah kehidupan sehari-hari para pemimpinnya. Di sanalah wajah Persyarikatan ini tampak apa adanya: tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadi, meskipun para pemimpin tersebut telah memberikan sumbangsih besar dalam menghidupkan denyut nadi organisasi.
Bayangkan, dalam setiap periode kepengurusan yang silih berganti, tidak ada di antara mereka yang menggunakan aset maupun pengaruh sebagai pimpinan untuk memperkaya diri, apalagi mengamankan masa depan keluarga dengan memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi.
Jabatan sebagai Amanah, Bukan Jalan Mencari Keuntungan
Tentu saja, sikap tersebut lahir dari niat untuk berlomba-lomba menjalankan amar makruf nahi munkar, bukan demi mendapatkan pengakuan duniawi. Bagi para pemimpin itu, meraih rida Ilahi jauh lebih utama daripada sekadar menerima balas jasa berupa materi.
Hal ini menjadi bukti nyata. Selama lebih dari satu abad berkiprah dengan ribuan amal usaha di berbagai daerah, para pemimpin yang menjadi sebab tumbuhnya amal usaha tersebut justru kembali ke kehidupan biasa setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Memang demikian polanya. Setelah periode kepemimpinan selesai, Persyarikatan tidak membiasakan diri memberikan penghargaan berupa materi atas pengabdian yang telah dilakukan. Bukan karena tidak mampu atau tidak peduli, melainkan karena tradisi keikhlasan dan semangat pengabdian telah mengakar kuat.
Tidak ada mobil, barang berharga, apalagi tanah dan rumah yang mereka bawa pulang selama memimpin, meskipun mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, dan keluarga. Mereka meyakini bahwa mengurus jalannya roda organisasi merupakan bagian dari ibadah.
Jika ada di antara mereka yang hidup berkecukupan hingga memiliki barang-barang berharga, hal itu bukan karena memanfaatkan fasilitas jabatan. Semua itu merupakan hasil jerih payah pribadi yang mereka bangun dari penghasilan di luar tugas sebagai pimpinan organisasi.
Potret kesederhanaan pemimpin yang penuh kesungguhan ini tidak hanya terlihat pada satu figur. Di setiap periode dan setiap jenjang kepemimpinan, selalu ada sosok yang dapat menjadi teladan.
Dalam rentetan perjalanan sejarah gerakan dakwah ini, model kepemimpinan yang selesai dengan urusan dunia telah menjadi kultur dan peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi Kesederhanaan yang Diwariskan
Mengapa demikian? Sebab hal tersebut memang menjadi watak dasar organisasi sejak awal berdiri. K.H. Ahmad Dahlan sendiri telah mempraktikkannya.
Kita tidak lupa peristiwa yang terjadi pada tahun 1920. Sekolah Muhammadiyah yang baru saja berdiri menghadapi krisis keuangan yang sangat parah hingga tidak memiliki uang untuk membayar gaji para guru yang telah berkorban mencerdaskan rakyat pribumi.
Alih-alih mengeluh atau menggunakan pengaruhnya untuk meminta bantuan, beliau memilih mengeluarkan seluruh perabotan rumah tangganya. Mulai dari meja, kursi, lemari, hingga tempat tidur dan pakaian batiknya, beliau keluarkan ke halaman rumah. Kemudian beliau mengumumkan lelang terbuka untuk menjual seluruh harta benda satu-satunya tersebut demi membiayai operasional sekolah.
Para aghniya’ yang hadir langsung meneteskan air mata menyaksikan kejadian itu. Mereka pun berlomba-lomba membeli perabotan tersebut dengan harga tinggi hingga uang yang terkumpul jauh melebihi target yang dibutuhkan.
Namun, sesaat setelah acara lelang selesai, tidak seorang pun pembeli bersedia membawa pulang barang-barang tersebut. Mereka justru sepakat mengembalikan seluruh perabotan itu.
Inilah keteladanan yang hidup, bukan sandiwara. Tradisi luhur itu terus mengalir hingga masa kepemimpinan generasi berikutnya, tidak berhenti pada K.H. Ahmad Dahlan. Salah satunya terlihat pada sosok K.H. Abdurrazak Fachruddin, atau yang akrab disapa “Pak AR”.
Kepemimpinan beliau berlangsung pada masa kehidupan politik yang penuh tekanan, yaitu era Orde Baru. Tekanan kekuasaan dan godaan fasilitas hadir di depan mata. Namun, beliau tetap memilih jalan zuhud: menempati rumah yang bukan miliknya sendiri dan lebih sering menggunakan sepeda motor untuk keperluan dakwah meskipun Persyarikatan telah menyediakan mobil operasional.
Setelah masa kepemimpinannya berakhir, tidak ada tanah kavling beserta rumah mentereng sebagai imbalan, tidak pula proyek yang diamankan atas nama jabatan. Yang tertinggal hanyalah teladan seorang pemimpin sederhana yang hidup untuk umat, bukan untuk dirinya sendiri.
Begitulah seterusnya. Dari pusat hingga ranting, kita dapat menemukan kisah yang sama. Bahkan sebagai saksi hidup, penulis menemukan seorang Ketua PCM di wilayah Surabaya Utara yang rela menitipkan sertifikat hak milik rumahnya untuk modal pembangunan amal usaha.
Artinya, mereka yang menerima amanah memimpin Persyarikatan sejak awal telah memilih jalan memberi. Bagi mereka, jabatan bukan tangga untuk menaikkan status sosial. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Maka wajar jika sebuah foto pimpinan tertinggi Muhammadiyah yang sedang naik kereta api dengan koper tua yang tampak lecet di beberapa bagian menjadi perbincangan publik.
Dari situ muncul apresiasi positif masyarakat yang memberikan pujian atas kesederhanaannya. Bahkan ada yang ingin menjadikannya sebagai role model setelah membandingkan penampilan sederhana tersebut dengan aset organisasi yang dipimpinnya yang bernilai triliunan.
Inilah wajah Muhammadiyah yang kita kenal. Sikap bersahaja menjadi garis batas tegas bahwa ber-Muhammadiyah merupakan jalan pengabdian, bukan ladang pencaharian. Mereka tidak mengenal istilah “aji mumpung” selama memegang amanah kepemimpinan.***





0 Tanggapan
Empty Comments