Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Palestina Hadir dalam Euforia Juara Dunia

Iklan Landscape Smamda
Ketika Palestina Hadir dalam Euforia Juara Dunia
Oleh : Agus Rosid Pekerja Sosial dan Penikmat Sepak Bola

Setelah melewati laga penuh drama hingga babak tambahan waktu, final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, akhirnya berakhir dengan kemenangan tipis 1–0 untuk La Roja.

Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan Spanyol mengangkat trofi juara dunia.

Media-media internasional kemudian menampilkan dua wajah yang kontras. Di Madrid, ribuan warga memenuhi jalan-jalan kota, menyalakan kembang api, dan larut dalam euforia merayakan keberhasilan tim nasional mereka.

Sebaliknya, di Buenos Aires, para pendukung Argentina hanya bisa menundukkan kepala. Harapan mempertahankan gelar juara dunia harus pupus setelah Tim Tango gagal menaklukkan Spanyol.

Begitulah sepak bola, selalu ada pihak yang merayakan kemenangan dan ada pula yang harus menerima kekalahan.

Siklus semacam itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap turnamen besar.

Namun, di balik hasil pertandingan tersebut, muncul fenomena yang jauh lebih menarik daripada sekadar pergantian juara dunia.

Sesaat setelah laga usai, berbagai linimasa media sosial penuh dengan ucapan syukur dan dukungan terhadap kemenangan Spanyol.

Menariknya, banyak di antara mereka bukan warga negara Spanyol dan bahkan bukan pendukung fanatik tim Matador sejak awal turnamen.

Yang lebih menyita perhatian adalah tayangan dari sejumlah media yang memperlihatkan para pendukung Spanyol merayakan kemenangan dengan mengibarkan bendera Spanyol berdampingan dengan bendera Palestina.

Pemandangan seperti ini tergolong langka. Dalam sejarah Piala Dunia, tidak banyak momen ketika perayaan kemenangan sebuah negara justru diiringi kibaran bendera negara lain sebagai simbol solidaritas.

Solidaritas yang Melampaui Lapangan Hijau

Pertanyaannya kemudian, mengapa Palestina begitu lekat dengan kemenangan Spanyol?

Jawabannya dapat ditelusuri dari sikap politik pemerintah Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika banyak negara Eropa memilih berhati-hati dalam menyikapi konflik Palestina-Israel, pemerintah Spanyol mengambil langkah berbeda.

Pada Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui negara Palestina serta menghentikan pasokan senjata ke Israel sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan yang dinilai melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Sikap tersebut rupanya tidak hanya berhenti pada level pemerintahan. Di lapangan hijau, atmosfer yang sama juga terlihat dari sejumlah figur publik olahraga.

Salah satunya adalah Lamine Yamal. Saat merayakan gelar La Liga bersama Barcelona pada 2023, pemain muda itu membentangkan bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas.

Tindakannya mendapat banyak respon positif dari masyarakat. Bahkan Perdana Menteri Pedro Sánchez pernah menyatakan, “Lamine hanya mengekspresikan solidaritas yang dirasakan jutaan warga Spanyol.”

Kedekatan emosional itu berbalas dengan cara yang mengharukan di Jalur Gaza.

Di tengah keterbatasan listrik, minimnya bahan bakar, dan ancaman konflik yang terus berlangsung, ratusan warga di Kamp Pengungsian Nuseirat berkumpul di depan layar televisi sederhana untuk menyaksikan sekaligus memberikan dukungan kepada Spanyol.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketika peluit panjang berbunyi, sorak kegembiraan pecah di tengah reruntuhan bangunan.

Bagi sebagian warga Palestina, mendukung Spanyol bukan semata-mata soal sepak bola, melainkan bentuk penghormatan kepada negara yang mereka nilai menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Tidak mengherankan jika sikap pemerintah dan sebagian besar masyarakat Spanyol kemudian membangun kedekatan emosional yang melampaui batas negara.

Hal itu tampak dari derasnya dukungan terhadap Spanyol di berbagai platform media sosial selama Piala Dunia berlangsung.

Sepak Bola, Politik, dan Persepsi Publik

Di sisi lain, Argentina memperlihatkan arah kebijakan yang berbeda. Presiden Javier Milei secara terbuka menyatakan dirinya sebagai “presiden paling pro-Zionis di dunia”.

Pemerintah Argentina juga menggagas pemindahan kedutaan besarnya ke Yerusalem serta meluncurkan inisiatif Isaac Accords sebagai bagian dari penguatan hubungan dengan Israel.

Perbedaan orientasi tersebut juga terlihat pada sebagian pendukung sepak bola Argentina.

Saat menghadapi Mesir pada babak 16 besar, beberapa suporter Argentina mengibarkan bendera Israel ke arah pelatih Mesir, Hossam Hassan, yang dikenal menyuarakan dukungan kepada Palestina.

Aksi tersebut dipandang sebagai bentuk ekspresi politik yang ikut hadir di tengah pertandingan sepak bola.

Fenomena itu menunjukkan bahwa sepak bola hari ini tidak lagi berdiri sepenuhnya sebagai ruang olahraga yang steril dari dinamika politik dan kemanusiaan.

Lapangan hijau kerap menjadi ruang ekspresi identitas, solidaritas, bahkan keberpihakan terhadap isu-isu global.

Setiap negara, tokoh, maupun kelompok masyarakat tentu memiliki kebebasan menentukan sikapnya, sekaligus harus siap menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.

Dalam konteks inilah, langkah Spanyol dan Argentina memperlihatkan arah yang berbeda dalam menyikapi isu Palestina.

Perbedaan sikap tersebut membentuk persepsi publik internasional yang pada akhirnya ikut memengaruhi cara sebagian orang memandang kedua negara, bahkan ketika keduanya bertemu di lapangan sepak bola.

Pada akhirnya, Piala Dunia tidak hanya menjadi panggung untuk memperebutkan trofi juara.

Perhelatan olahraga terbesar itu juga menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan keberpihakan ikut mewarnai euforia kemenangan.

Kibaran bendera Spanyol yang berdampingan dengan bendera Palestina di jalan-jalan Madrid menghadirkan pesan yang melampaui sepak bola.

Kemenangan di arena olahraga dunia terasa memiliki makna yang lebih luas ketika dirajut bersama suara solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 22/07/2026 06:34
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu