Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Siswa SD Sakri Belajar Melihat Dunia Lewat Jurnalistik

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Siswa SD Sakri Belajar Melihat Dunia Lewat Jurnalistik
Reporter cilik meliput berita di halaman belakang SD Sakri (Sri/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 1 Krian (SD Sakri) yang mengikuti ekstrakurikuler jurnalis dapat merasakan menjadi reporter kecil pada jum’at (04/09/2026). Pada jum’at pagi menjadi waktu yang berbeda bagi siswa kelas 5 yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Setiap Jumat pukul 07.45–08.45, para siswa berkumpul untuk belajar mengenal dunia jurnalistik sekaligus mengasah keberanian dalam menyampaikan informasi.

Kegiatan extra jurnalis ini diikuti oleh 23 siswa, tidak hanya mengajarkan siswa bagaimana menulis berita, tetapi juga mengajak mereka melihat berbagai peristiwa di lingkungan sekitar dengan lebih peka. Dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekolah, siswa belajar menemukan informasi, menentukan sudut pandang, melakukan wawancara, hingga menyusun tulisan yang informatif dan mudah dipahami.

Dalam proses pembelajaran, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mencoba menjadi reporter. Mereka belajar bahwa seorang jurnalis tidak sekadar pandai menulis, tetapi juga perlu memiliki rasa ingin tahu, kemampuan mendengarkan, ketelitian, serta sikap bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.

Pembina Jurnalistik Sri Kasmuni, S.Pd. mengatakan, kegiatan ini dirancang agar siswa memiliki pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar melihat lingkungan dengan lebih peka. Ketika mereka belajar menjadi jurnalis, sebenarnya mereka sedang belajar bertanya, mendengarkan, berpikir kritis, dan menghargai cerita orang lain,” ujar Sri.

Bagi para siswa, mengikuti jurnalistik juga memiliki alasan dan harapan masing-masing. Tsabita kelas 5 Ali mengungkapkan bahwa dirinya direkomendasikan oleh sang mama untuk mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Namun, seiring mengikuti kegiatan, jurnalistik menjadi keinginan Tsabita sendiri karena ingin memiliki masa depan yang lebih baik dan mampu melakukan wawancara dengan baik.

“Saya direkomendasikan Mama untuk masuk jurnalistik. Saya ingin punya masa depan yang lebih baik, bisa mewawancarai dengan baik, dan ini juga menjadi keinginan saya sendiri,” ungkap Tsabita.

Sementara itu, Khayla kelas 5 Ali memiliki cita-cita yang berkaitan erat dengan dunia menulis. Ia mengikuti jurnalistik karena ingin membuat sebuah buku yang berisi cerita hasil karyanya sendiri. Ia juga berharap tulisannya suatu hari dapat muncul dalam sebuah berita.

“Saya ingin membuat buku yang menceritakan sesuatu dengan tulisan saya sendiri. Saya juga ingin tulisan saya bisa muncul di berita,” tutur Khayla.

Berbeda dengan Tsabita dan Khayla, Joshua kelas 5 Abu tertarik pada jurnalistik karena ingin mengembangkan kemampuan wawancaranya. Ia memiliki keinginan untuk menjadi pewawancara yang handal sehingga mampu menggali informasi dan menghadirkan cerita dengan baik.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

“Saya mengikuti jurnalistik karena ingin menjadi pewawancara yang handal,” ujar Joshua.

Antusiasme Siswa

Suasana kegiatan pun berlangsung dengan penuh antusias. Siswa saling bertukar ide dan mencoba menyampaikan hasil pengamatan mereka. Kesalahan dalam menulis tidak menjadi hambatan, melainkan bagian dari proses belajar untuk menjadi lebih baik.

Siswa kelas 5 yang mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik, bagi mereka ini menjadi ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun kepercayaan diri. Setiap tulisan yang dihasilkan menjadi pengalaman kecil yang bermakna dalam perjalanan mereka mengenal dunia literasi.

Dalam setiap pertemuan, siswa juga diarahkan untuk memahami pentingnya etika dalam menyampaikan informasi. Mereka belajar membedakan fakta dan pendapat, memilih kata yang santun, serta memahami bahwa sebuah berita harus disusun berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kegiatan jurnalistik membuka ruang bagi siswa untuk mengenali lingkungan sekolah dari sudut pandang yang berbeda. Teman, guru, kegiatan pembelajaran, prestasi, maupun berbagai aktivitas sekolah dapat menjadi bahan cerita. Dari sana, siswa belajar bahwa berita tidak selalu berasal dari peristiwa besar. Hal-hal kecil pun dapat memiliki nilai ketika disampaikan dengan tepat.

Lebih dari sekadar kegiatan tambahan, jurnalistik mengajarkan siswa bahwa setiap peristiwa memiliki cerita dan setiap cerita layak disampaikan dengan jujur, santun, dan bertanggung jawab. Setiap Jumat pagi menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar bertanya, mendengarkan, menulis, dan menyampaikan gagasan dengan percaya diri.

Melalui proses yang dilakukan secara bertahap, para siswa diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai penulis, tetapi juga sebagai pembelajar yang kritis, berani, teliti, dan peka terhadap lingkungan. Di tangan mereka, jurnalistik menjadi lebih dari sekadar keterampilan—ia menjadi ruang untuk menemukan suara, mengembangkan mimpi, dan belajar memahami dunia melalui cerita.

Waka Kesiswaan Ratna Mettasari, M.Pd, berharap anak-anak yang mengikuti extra Jurnalis bisa meliput kejadian secara faktual sedari kecil. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu