Kesempatan libur menjadi momen berharga bagi saya untuk sejenak melepas rutinitas. Bersama istri, anak, dan cucu, kami memilih berkunjung ke kawasan wisata Telaga Sarangan, sebuah destinasi yang tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga ketenangan suasana pegunungan.
Dari telaga, perjalanan kami berlanjut menuju Air Terjun Tirtosari. Di sinilah kisah sederhana namun bermakna itu bermula.
Di tengah arus pariwisata yang kian komersial, masih ada sosok-sosok sederhana yang menjaga makna asli sebuah perjalanan: ketulusan. Sosok itu bernama Mbah Paiman—85 tahun usianya, namun langkahnya masih setia menyusuri jalur terjal menuju air terjun.
“Mbahe mau ndampingi ke air terjun?” sapanya ringan kepada para pengunjung.
Sapaan itu terdengar biasa. Namun bagi yang merasakannya, itu adalah awal dari pengalaman yang tak biasa.
Tanpa menunggu jawaban pasti, ia berjalan pelan di belakang rombongan. Hari itu, kebetulan saya menjadi salah satu pengunjung yang disapanya.
Sejak langkah pertama, ia tidak sekadar berjalan—ia bercerita. Tentang kehidupan warga Dusun Ngluweng, Desa Sarangan, yang terletak di ujung jalur masuk menuju air terjun.
Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh lanskap lereng gunung yang hijau dan subur. Hamparan wortel, tomat, dan kubis tersusun rapi seperti lukisan alam yang hidup.
Dengan nada santai, Mbah Paiman menjelaskan, “Wortel itu paling lama panennya, bisa sampai tiga bulan. Kalau kubis sama tomat, sekitar satu setengah bulan saja.”
Penjelasan itu sederhana, namun sarat makna: ia tidak hanya mengenal jalur wisata, tetapi juga kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.
Yang lebih mengesankan, Mbah Paiman tidak pernah menetapkan tarif. Ia mendampingi bukan karena target upah, melainkan karena keinginan untuk membantu.
Ketika cucu saya yang berusia enam tahun mulai kelelahan dan merengek, ia tanpa ragu menawarkan bantuan.
Dia duduk di depan anak itu, tersenyum, lalu berkata lirih, “Sini, Mbah gendong.”
Kami sempat ragu. Usianya tidak lagi muda. Namun keraguan itu sirna ketika ia bangkit dan melangkah dengan tenang, seolah beban itu tak berarti apa-apa.
Saya sempat mencoba melarang. Namun ia hanya tersenyum.
“Tidak berat, Nak. Dulu Mbah anak Mapala,” ujarnya. Ia bercerita, saat muda pernah mendaki hingga puncak Gunung Lawu tanpa banyak istirahat—hanya sekali berhenti, itu pun karena keperluan mendesak.
Cerita itu bukan untuk membanggakan diri, melainkan sebagai penegas bahwa kekuatan sejati tidak selalu diukur dari usia, melainkan dari semangat dan ketulusan.
Perjalanan menuju air terjun bukanlah jalur yang mudah. Hampir tidak ada jalan datar. Tanjakan dan turunan tajam mendominasi, menguji fisik dan kesabaran.
Namun kehadiran Mbah Paiman mengubah lelah menjadi ringan, dan perjalanan terasa lebih bermakna.
Sesampainya di garis akhir—di hadapan gemuruh air terjun—segala penat seakan luruh. Ketika kaki menyentuh dinginnya aliran sungai, yang tersisa hanyalah rasa lega, puas, dan bahagia.
Namun, lebih dari itu semua, yang paling membekas justru bukan air terjunnya.
Melainkan sosok tua yang berjalan tanpa pamrih di belakang para pengunjung.
Di saat banyak sektor wisata terjebak pada angka dan keuntungan, Mbah Paiman mengajarkan hal yang sering terlupakan: bahwa pelayanan terbaik lahir dari hati, bukan dari tarif.
Dia tidak sekadar menjadi pemandu. Ia adalah penjaga nilai—bahwa wisata bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang manusia yang menghidupkannya.
Mungkin kita tidak akan selalu mengingat jalur yang kita lewati. Namun kita akan selalu mengingat orang-orang yang membuat perjalanan itu berarti.
Dan di Lereng Tirtosari, nama itu adalah Mbah Paiman. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments