Suasana Iduladha di kawasan Jalan Kapasan, Surabaya, Rabu (27/5/2026) pagi, berlangsung khidmat. Di tengah gema takbir dan ribuan jamaah yang memadati lokasi Salat Id, Ustaz Irwan Hasan, M.Pd.I. menyampaikan pesan sederhana namun mengena tentang makna kurban.
“Punya mobil itu keren. Punya vila itu juga keren. Tapi kurban lebih keren,” ujar anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tersebut dalam khotbah Iduladha yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simokerto.
Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur kesuksesan dari simbol materi, Ustaz Irwan mengajak umat melihat kemuliaan dari sudut pandang yang berbeda: keikhlasan dan kepedulian sosial.
Menurutnya, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Di balik itu, ada pelajaran besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.
Dia mengingatkan bahwa sejarah kurban berakar dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sebuah kisah agung tentang kepatuhan total kepada Allah SWT.
“Kalau tidak ikhlas, tentu berat melaksanakan perintah itu. Tapi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan ketaatan yang luar biasa,” tutur n Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 29 Surabaya itu.
Dari kisah itu, kata Ustaz Irwan, umat Islam diajak memahami bahwa nilai terbesar dalam ibadah bukan hanya pada bentuk lahiriahnya, melainkan pada keikhlasan yang menyertainya.
Dia juga mengatakan, banyak orang menyumbang dalam jumlah besar, tetapi belum tentu ikhlas. Sebaliknya, ada orang sederhana yang justru sangat tulus.
Selain soal keikhlasan, Ustaz Irwan juga menekankan bahwa kurban adalah simbol kepedulian sosial. Daging kurban yang dibagikan bukan hanya soal makanan, tetapi juga menghadirkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
“Iduladha mengajarkan manusia untuk keluar dari ego pribadi dan mulai memikirkan orang lain,” katanya.
Ustaz Irwan kemudian mengutip pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hubungan antarmanusia. Orang yang menyambung silaturahmi, katanya, akan mendapatkan banyak keutamaan.
“Lewat kurban, kita belajar mempererat silaturahmi. Kita belajar berbagi. Kita belajar memaafkan orang yang mungkin pernah membenci kita,” ujarnya.
Dia menjelaskan, masyarakat yang gemar berbagi akan lebih kuat dalam persatuan. Sebaliknya, ketika rasa peduli hilang, jarak sosial akan semakin lebar.
Karena itu, momentum Iduladha dinilai sangat penting untuk memperkuat solidaritas umat.
“Lewat kurban, persatuan bisa semakin kuat. Jangan sampai kita hidup hanya memikirkan diri sendiri,” katanya.
Ustaz Irwan juga mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Dia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
“Janganlah kamu menganggap remeh sedikit pun terhadap kebaikan, walaupun hanya dengan wajah yang berseri ketika bertemu saudaramu.” (HR Muslim).
Pesan itu, menurutnya, relevan dengan semangat kurban. Sebab, kadang sebuah kebaikan kecil justru memiliki dampak besar bagi orang lain.
“Bisa jadi bagi kita biasa saja, tapi bagi orang lain sangat berarti,” tuturnya.
Dia juga mengingatkan firman Allah dalam Surah Ar-Rahman ayat 60: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
Ayat tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia tidak akan sia-sia di hadapan Allah SWT. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments