Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kritik itu Menguatkan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Kritik itu Menguatkan Muhammadiyah
Oleh : Muhsin MK Penggiat Sosial

Kritik bagi Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang tabu. Sejak berdirinya, persyarikatan ini sudah terbiasa menerima berbagai kritik, mulai dari kritik yang tajam, pedas, keras, hingga menohok.

Namun, Muhammadiyah tidak menjawab semua kritik itu hanya dengan kata-kata yang santun dan cerdas, melainkan melalui amal nyata.

Muhammadiyah tetap tumbuh, maju, dan berkembang di tengah masyarakat. Bahkan, berbagai hal yang sebelumnya tidak terduga justru menjadikan persyarikatan ini tetap tampil sebagai organisasi Islam yang unggul dan berkemajuan.

KH Ahmad Dahlan sendiri pernah mengalami berbagai kritik ketika mendirikan Muhammadiyah.

Salah satunya muncul saat Muhammadiyah membangun panti asuhan dengan sistem asrama sebagai wujud konkret pengamalan Surat Al-Ma’un.

Namun, sebagian masyarakat saat itu menilai persyarikatan telah meniru cara orang Barat dalam mengasuh anak-anak terlantar, yaitu dengan menampung mereka di panti asuhan dan menyediakan tempat tinggal dalam sistem asrama.

Pihak yang memberikan kritik berpendapat bahwa sistem asrama tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Menurut pemahaman mereka, Islam mengajarkan agar umat mengurus anak-anak yatim di dalam rumah keluarga muslim, bukan di asrama.

Mereka juga menguatkan pendapat tersebut dengan sebuah hadis. Akan tetapi, dalam kajian hadis, riwayat yang berkaitan dengan penyantunan anak yatim di rumah tersebut termasuk hadis lemah (daif), sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sebaik-baik rumah dalam kalangan umat Islam adalah rumah yang terdapat padanya anak yatim yang dijaga dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah dalam kalangan umat Islam adalah rumah yang terdapat padanya anak yatim yang dijaga dengan buruk.” (HR. Ibn Majah, Ibn al-Mubarak dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad. Lihat Silsilah al-Da‘Īfah; no. 1637).

Selain persoalan sistem asrama, sebagian pihak juga mengkritik karena menganggap Muhammadiyah mengikuti cara orang Belanda pada masa itu dan meyakini budaya Barat itu kafir.

Padahal, dalam urusan duniawi, Islam tidak melarang umatnya mengambil manfaat dari orang lain selama hal tersebut membawa maslahat bagi masyarakat.

Sebagai contoh, penggunaan kubah pada bangunan masjid juga memiliki pengaruh dari kebudayaan luar Islam.

Namun, banyak masjid menggunakan bentuk tersebut dan tidak menjadi persoalan karena memberikan nilai manfaat serta keindahan dalam pembangunan tempat ibadah.

Dalam konteks panti asuhan Muhammadiyah, sistem asrama justru mampu menampung lebih banyak anak yatim daripada jika mereka berada di rumah-rumah pribadi.

Apalagi tidak semua umat Islam memiliki kesiapan dan kemampuan untuk mengurus anak yatim di rumah mereka, kecuali jika masih memiliki hubungan keluarga.

Itu pun tidak semua keluarga bersedia mengambil tanggung jawab tersebut.

Kritik lain yang pernah diterima Muhammadiyah berkaitan dengan sistem pendidikan klasikal.

Muhammadiyah menerapkan sistem pembelajaran di kelas, di mana setiap mata pelajaran diberikan oleh guru yang berbeda.

Sistem ini berbeda dengan metode pendidikan pesantren pada masa awal yang menggunakan pola pembelajaran individual, yaitu setiap anak belajar langsung kepada ustaz atau kiai tanpa menggunakan kelas.

Namun, seiring perkembangan zaman, pesantren juga mulai menerapkan sistem klasikal. Perbedaannya, sebagian pesantren tetap memisahkan kelas antara laki-laki dan perempuan.

Lambat laun, kritik terhadap sistem yang diterapkan Muhammadiyah semakin berkurang bahkan menghilang seiring perkembangan zaman.

Berbagai panti asuhan yang didirikan oleh kelompok di luar Muhammadiyah juga menggunakan sistem asrama.

Sebagian bahkan menggabungkannya dengan sistem pesantren, di mana anak-anak yatim tetap tinggal di asrama.

Salah satu pengecualian adalah Pesantren Hidayatullah yang menempatkan anak-anak yatim di rumah-rumah assatidz yang dibangun dalam lingkungan pesantren.

SMPM 5 Pucang SBY

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Sistem klasikal kini diterapkan bukan hanya oleh Muhammadiyah, tetapi juga oleh berbagai organisasi Islam lainnya.

Kenyataannya, hal-hal yang dahulu mendapat kritik justru berkembang dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Muhammadiyah tidak mundur dengan pilihan sistem asrama.

Justru panti-panti asuhan Muhammadiyah terus berdiri di berbagai daerah.

Begitu pula lembaga pendidikannya yang hingga kini semakin maju dan berkembang pesat di seluruh Indonesia, bahkan telah menjangkau dunia internasional.

Pada era reformasi, Muhammadiyah juga tidak lepas dari berbagai kritik, khususnya berkaitan dengan perbedaan penetapan hari Idulfitri.

Ketika persyarikatan berpegang pada sistem hisab wujudul hilal, sehingga terjadi perbedaan penentuan hari Idulfitri dengan pemerintah dan masyarakat umum, selalu muncul kritik dari ahli astronomi maupun ulama dari organisasi masyarakat Islam lainnya.

Kritik yang muncul di antaranya menilai bahwa Muhammadiyah menunjukkan egoisme kelompok dan dianggap tidak mau bersatu dalam penentuan hari besar Islam.

Bahkan, muncul pula pernyataan keras dari seorang peneliti lembaga riset ternama yang mengancam akan membunuh warga Muhammadiyah. Kritik dan pernyataan tersebut tentu mendapat perhatian serius dari persyarikatan.

Namun, Muhammadiyah memilih menghadapi situasi tersebut dengan sikap yang tenang. Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengimbau seluruh warganya agar tidak terpancing dan tetap menjaga sikap kedewasaan dalam menghadapi perbedaan. Di sisi lain, persyarikatan terus melakukan ikhtiar untuk memperbaiki sistem yang selama ini digunakan dengan menghadirkan gagasan baru melalui Kalender Global Hijriah Tunggal (KGHT).

Kehadiran KGHT menjadi upaya Muhammadiyah untuk menghadirkan sistem kalender Islam yang diharapkan dapat diterima oleh umat Islam, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga oleh masyarakat muslim di seluruh dunia.

Namun, dalam proses realisasinya, KGHT pun tidak luput dari kritik. Kritik kembali datang, baik dari kalangan ilmuwan astronomi yang selama ini memiliki pandangan berbeda maupun dari ulama di luar Muhammadiyah.

Bahkan, terdapat ulama yang bukan ahli di bidang astronomi yang sampai mengharamkan penggunaan sistem tersebut bagi pihak yang tidak mengikuti penetapan Idulfitri pemerintah. Hal itu terjadi ketika muncul perbedaan penetapan Idulfitri 1447 H.

Meski demikian, Muhammadiyah tetap melanjutkan ikhtiar KGHT karena memandangnya sebagai bagian dari tanggung jawab keumatan.

Sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Haedar Nashir, KGHT merupakan bentuk ikhtiar untuk “membayar hutang peradaban” dalam menghadirkan sistem kalender Islam yang lebih maju dan dapat menjadi solusi bagi umat Islam global.

Sebuah nilai kemuliaan terlihat dari cara Muhammadiyah menghadapi kritik dari berbagai pihak. Kritik tidak dibalas dengan emosi, apalagi dengan ancaman terhadap pihak yang berbeda pandangan.

Sikap lapang dada, kesabaran, dan keterbukaan menjadi bagian dari tradisi Muhammadiyah dalam merespons perbedaan.

Sikap tersebut juga penting diwariskan kepada generasi muda Muhammadiyah agar tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan pendapat. Muhammadiyah memilih memberikan jawaban dengan cara yang santun dan cerdas.

Selain melalui kajian kritis dan pendekatan ilmiah, jawaban Muhammadiyah juga diwujudkan melalui amal nyata yang terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pada akhirnya, berbagai kritik yang datang justru menjadi bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah dalam membangun peradaban.

Tidak sedikit pihak yang awalnya memberikan kritik kemudian tertarik untuk berdialog dan berdiskusi langsung dengan Muhammadiyah. Sebab, jawaban terbaik terhadap kritik bukan hanya melalui argumentasi, tetapi juga melalui karya dan kontribusi nyata.

Nasrun minallah wa fathun qariib.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 19/06/2026 00:28
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu