Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa UMS Kembangkan Wastra Ecoprint Ramah Lingkungan Berbasis Daun Alami

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa UMS Kembangkan Wastra Ecoprint Ramah Lingkungan Berbasis Daun Alami
Kelima mahasiswa Akuntansi UMS pendiri Rerumpun berfoto di depan Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta–Inovasi UMS, awal 2026. Foto: Dok/Pribadi

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan inovasi wastra ramah lingkungan melalui teknik ecoprint berbahan daun alami. Lewat jenama Rerumpun, lima mahasiswa Akuntansi UMS ini sukses mengolah limbah tumbuhan menjadi produk fashion bernilai ekonomi tinggi sekaligus berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan.

TANGAN Adelina Ririn Wulandari tampak sibuk menata produk kain atau wastra bermotif dedaunan pada pameran Campuspreneur di Universitas Sebelas Maret, awal April lalu. Produk yang ia pamerkan, antara lain kain, scarf, hingga pasmina.

Adelina turut memberikan penjelasan kepada pengunjung yang ingin mengenal produk dengan jenama Rerumpun itu. Jemarinya menunjuk setiap pola berbentuk daun pada sehelai kain berwarna dominan krem. “Ini motif dan warnanya dari daun asli. Tekniknya namanya ecoprint,” ujarnya.

Ecoprint adalah teknik pewarnaan alami menggunakan pigmen warna dari tumbuhan untuk menghasilkan pola langsung pada kain. Teknik ecoprint umumnya menggunakan beberapa bagian tumbuhan, seperti kelopak bunga, daun, hingga batang tumbuhan.

Adelina mengatakan Rerumpun pertama kali dicetuskan oleh temannya, Vivia Ayu Maharani. Keduanya merupakan mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Selain Adelina dan Vivia, tiga mahasiswa lainnya adalah Diona Annora Kartika, Defania Fadilla Widyaningrum, dan Naila Herwanti.

Mulanya, Rerumpun merupakan produk kewirausahaan yang dilombakan dalam Program Inovasi Kewirausahaan atau PIK tahun 2026.

Lomba tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS. Modal membangun Rerumpun saat itu adalah Rp1 juta.

Ide membuat Rerumpun lahir dari keprihatinan atas banyaknya limbah pewarna tekstil yang mencemari sungai dan tanah. Kelima mahasiswa itu juga melihat potensi pewarna alami dari semak belukar yang belum dimaksimalkan.

“Kami berpikir bisa buat produk dari ecoprint yang memiliki nilai tambah secara ekonomi,” imbuhnya.

Mereka menjalin kerja sama dengan jenama batik ecoprint Zulfa Ecobay yang berbasis di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tujuannya untuk mempelajari dasar pembuatan kain ecoprint.

Produk pertama mereka adalah kain berukuran 2,5 meter dan sebuah scarf. Tumbuhan yang digunakan saat itu adalah daun mentoar, bunga kenikir, daun eukaliptus, daun kenikir, daun jarak kepyar, dan daun pohon pinus.

Tim kemudian mulai mengembangkan produk baru untuk dilombakan dalam PIK 2024. Produk tersebut adalah pasmina dengan motif dari daun jarak kepyar.

Berkat inovasi tersebut, Rerumpun berhasil meraih juara ketiga dalam PIK 2026. Kini, mereka tengah melangkah menuju Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kelima mahasiswa Akuntansi UMS pendiri Rerumpun berfoto di depan Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta – Inovasi UMS, awal 2026. Dok.Pribadi

Motif Alami pada Kain

Adelina bercerita pembuatan kain ecoprint memakan waktu tiga hingga empat hari. Mulanya, mereka mengumpulkan rumput, bunga, maupun dedaunan yang akan digunakan dalam pembuatan kain ecoprint.

Sebelum dilakukan pewarnaan, tahap awal yang dilakukan adalah mordanting. Tujuannya untuk membersihkan kain dari berbagai bahan kimia lainnya.

“Kami memakai tunjung dan tawas untuk proses mordant ini,” kata Adelina.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tahap selanjutnya adalah menempelkan tumbuhan pada kain. Terdapat dua teknik untuk mengeluarkan pigmen warna tumbuhan pada kain. Yakni steaming atau pengukusan dan pounding atau pemukulan.

Teknik pengukusan dilakukan selama dua jam hingga motif dan warna daun menempel pada kain. Sementara teknik pemukulan dilakukan dengan memukul daun pada kain hingga pigmen warna tumbuhan dapat menempel pada kain.

Adelina menuturkan produk fashion Rerumpun menggunakan teknik pounding selama proses pewarnaan.

“Teknik ini membuat warnanya lebih keluar dan jelas dibandingkan menggunakan teknik steam,” jelas dia.

Daun jarak kepyar dipilih sebagai bahan pewarna utama. Mereka juga menambahkan rumput liar untuk memberikan motif garis-garis pada kain. Motif ini, menurut mereka, dapat memberi kesan ramping saat digunakan.

“Buat orang-orang bertubuh besar harapannya juga bisa menggunakan produk kami,” tutur Adelina.

Adelina dan teman-temannya mulai memasarkan Rerumpun dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar kampus. Pemasarannya dilakukan secara sederhana menggunakan WhatsApp dan Instagram. Sistem pembeliannya pun dilakukan dengan cara pre-order alias PO.

Menurut mereka, sistem PO lebih mengedepankan kedekatan pada konsumen.

“Mereka mau model seperti apa, nanti kami bisa menyesuaikan,” jelas Adelina.

Sistem PO juga memungkinkan tim untuk memiliki waktu bereksperimen dalam mengembangkan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. Apalagi masa produksi kain ecoprint lebih lama daripada produk tekstil lainnya.

Proses produksi pun sangat bergantung pada cuaca. Butuh panas matahari yang cukup kuat untuk mengeringkan kain ecoprint agar warna yang dihasilkan tahan lama. Adelina mengaku pernah menjajal mengeringkan kain dengan pengering rambut. Hasilnya tidak begitu maksimal.

Sejumlah produk yang dihasilkan pun dibanderol dengan harga bervariatif. Tote bag ecoprint dibanderol antara Rp 75 ribu hingga Rp 120 ribu.

Produk scarf dibanderol Rp 100 ribu-Rp 180 ribu. Produk kain ecoprint dibanderol seharga Rp 180 ribu sampai Rp 300 ribu. Sementara produk aksesoris dibanderol seharga Rp 50 ribu-Rp 100 ribu.

Disinggung mengenai rencana ke depan, Adelina menyebut Rerumpun akan mencoba menjajal peruntungan lewat media sosial dan marketplace.

Di samping itu, mereka juga berencana menggenjot produksi sambil mengonsistensikan kualitas produk.

“Biar kualitasnya tetap terjaga sehingga konsumen akan puas dengan produk yang kami hasilkan,” harapnya optimistis. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/04/2026 12:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡