Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

MataMuda 2026 MAM 3 Ketro Bekali Siswa Mitigasi Bencana

Iklan Landscape Smamda
MataMuda 2026 MAM 3 Ketro Bekali Siswa Mitigasi Bencana
MataMuda 2026 MAM 3 Ketro Bekali Siswa Mitigasi Bencana. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) 3 Ketro, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, menggelar kegiatan MataMuda 2026 dengan menghadirkan edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana bagi peserta didik, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menggandeng Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Pacitan sebagai mitra edukasi untuk menumbuhkan budaya sadar risiko bencana sejak dini di lingkungan madrasah.

Program tersebut diikuti kepala madrasah, guru, dan peserta didik sebagai bagian dari penguatan kapasitas warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Materi yang disampaikan meliputi mitigasi bencana, kesiapsiagaan, prosedur penyelamatan diri, hingga pentingnya membangun sistem tanggap darurat di lingkungan sekolah.

Kepala MAM 3 Ketro, Gunarto, S.Pd.I., menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik yang tangguh, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan diri maupun orang lain.

“Melalui kegiatan MataMuda 2026, kami ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Pengetahuan mitigasi bencana harus menjadi bekal yang dimiliki seluruh warga madrasah sehingga mereka siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi,” ujarnya.

Gunarto menambahkan, pembelajaran di madrasah tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membekali peserta didik dengan kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk risiko kebencanaan.

Guru MAM 3 Ketro, Luqman Haroni Said, S.Pd., menilai pendidikan mitigasi bencana perlu diterapkan secara berkelanjutan melalui kegiatan pembelajaran maupun program kesiswaan. Menurutnya, pemahaman mengenai langkah penyelamatan diri akan lebih efektif jika disertai praktik secara langsung.

“Mitigasi tidak cukup dipahami secara teori. Siswa perlu dibiasakan mengenali jalur evakuasi, memahami prosedur penyelamatan, serta mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat ketika menghadapi situasi darurat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Trainer Mitigasi dan Kebencanaan MDMC Kabupaten Pacitan, Edi Susanto, menjelaskan bahwa sekolah memiliki posisi strategis sebagai pusat pendidikan sekaligus pusat pengurangan risiko bencana di masyarakat.

“Mitigasi bukan sekadar memberikan materi di ruang kelas, tetapi membangun budaya siaga melalui latihan yang berkesinambungan. Sekolah harus memiliki Tim Siaga Bencana Sekolah, jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta standar operasional prosedur yang dipahami seluruh warga sekolah,” jelasnya.

Edi juga memaparkan sejumlah langkah strategis yang dapat diterapkan di lingkungan madrasah, antara lain mengintegrasikan materi kebencanaan ke dalam pembelajaran maupun Masa Pengenalan Lingkungan Siswa (MPLS), menyusun Tas Siaga Bencana, memasang rambu evakuasi, menyediakan titik kumpul, memberikan pelatihan pertolongan pertama, serta melaksanakan simulasi evakuasi secara berkala.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, Ketua MDMC Kabupaten Pacitan, Jemi Darmawan, S.Sos., menegaskan bahwa penguatan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan Muhammadiyah untuk melindungi warga sekolah melalui edukasi, pendampingan, dan peningkatan kesiapsiagaan.

“Kami siap mendampingi sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana secara menyeluruh. Harapannya, setiap satuan pendidikan memiliki tata kelola penanggulangan bencana yang terencana, terlatih, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Menurut Jemi, kerja sama antara madrasah dan MDMC dapat diwujudkan melalui penyusunan nota kesepahaman, pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah, penyusunan SOP kedaruratan, pelatihan guru dan siswa, serta simulasi evakuasi yang disesuaikan dengan karakteristik ancaman bencana di masing-masing wilayah.

Salah seorang peserta didik, Jundu Ababil, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya menjadi lebih paham cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa maupun kondisi darurat lainnya. Pengetahuan ini sangat bermanfaat karena dapat membantu melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang di sekitar,” tuturnya.

Melalui MataMuda 2026, MAM 3 Ketro berharap budaya sadar bencana menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga madrasah. Penguatan pendidikan mitigasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lembaga kebencanaan sebagai mitra strategis.

Upaya tersebut sekaligus mendukung terwujudnya Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang menitikberatkan pada penguatan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan warga sekolah dalam mengurangi risiko bencana sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai ancaman di masa depan. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 16/07/2026 09:16
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu